Puisi: Manila (Karya Darman Moenir)

Puisi "Manila" karya Darman Moenir menggambarkan sebuah suasana yang gelap dan misterius, diceritakan melalui pengamatan subjektif terhadap sosok ...

Manila

di simpang yang siur
pada remang yang giur
kulihat manila menghela
nafas bagai tanpa rasa

namun ia akrab kepada harap
wajah siapa merayap memengap

aku jamah tubuhnya rana
seka peluhnya tanpa nama

16 Desember 1981

Sumber: Sinar Harapan (Sabtu, 18 Juni 1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Manila" karya Darman Moenir menggambarkan sebuah suasana yang gelap dan misterius, diceritakan melalui pengamatan subjektif terhadap sosok atau entitas yang disebut "Manila". Dengan menggunakan bahasa yang khas dan imajinatif, Moenir mengundang pembaca untuk masuk ke dalam atmosfer puisinya yang puitis dan melankolis.

Tema dan Atmosfer

Puisi ini menciptakan atmosfer yang gelap dan sihiris. Dua baris pertama, "di simpang yang siur / pada remang yang giur", dengan cepat menghadirkan gambaran tentang suatu tempat yang tidak pasti, di mana cahaya redup dan kegelapan menyelimuti suasana. Kata-kata seperti "siur" dan "giur" memberikan kesan suara dan suasana yang samar dan misterius, mengundang pembaca untuk merasakan ketidakpastian dan ketegangan.

Personifikasi Manila

"Manila" dalam puisi ini tidak hanya menjadi nama tempat, tetapi juga dihidupkan sebagai entitas yang memiliki perasaan dan keadaan emosional. Dengan menggunakan kata-kata seperti "menghela nafas bagai tanpa rasa", Moenir memberikan gambaran tentang keadaan Manila yang melankolis dan mungkin kehilangan harapan. Ini mengeksplorasi tema kesendirian dan ketidakpastian, di mana Manila digambarkan sebagai sosok yang terhimpit oleh keadaan yang tidak menyenangkan.

Eksplorasi Emosi dan Keadaan Batiniah

Puisi ini juga menggali eksplorasi emosi dan keadaan batiniah, terutama melalui kata-kata "ia akrab kepada harap / wajah siapa merayap memengap". Frasa ini mengisyaratkan perasaan harap dan kekecewaan yang tersembunyi di balik sosok Manila. Penulis menggunakan bahasa metaforis untuk mengekspresikan kegelapan batiniah dan pertentangan emosional yang dialami Manila, yang menciptakan kedalaman dan kompleksitas karakter dalam puisi.

Penutup yang Melankolis

Puisi ini ditutup dengan bait terakhir yang puitis, "aku jamah tubuhnya rana / seka peluhnya tanpa nama". Bait ini menunjukkan tindakan fisik atau figuratif dari narator terhadap Manila, yang dapat diartikan sebagai upaya untuk mengerti atau merasakan lebih dalam terhadap keadaan Manila. Ekspresi "tanpa nama" menunjukkan bahwa pengalaman ini tidak hanya fisik tetapi juga spiritual atau emosional, menciptakan gambaran yang kuat tentang kehidupan batiniah dan keintiman yang rumit antara narator dan Manila.

Secara keseluruhan, puisi "Manila" oleh Darman Moenir menawarkan eksplorasi yang dalam terhadap tema-tema universal seperti kesendirian, harapan yang terhimpit, dan kegelapan batiniah. Dengan menggunakan bahasa yang kaya dan gambaran yang kuat, Moenir berhasil menciptakan sebuah puisi yang tidak hanya menggambarkan lanskap fisik, tetapi juga mengeksplorasi keadaan emosional dan spiritual dari entitas yang disebut Manila.

Darman Moenir
Puisi: Manila
Karya: Darman Moenir

Biodata Darman Moenir:
  • Darman Moenir (dieja Darman Munir) lahir di Sawah Tangah, Pariangan, Tanah Datar, Sumatra Barat, pada tanggal 27 Juli 1952.
  • Darman Moenir meninggal dunia di Kota Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 30 Juli 2019 (pada usia 67 tahun).
  • Darman Moenir adalah salah satu sastrawan angkatan 1980-1990an.
© Sepenuhnya. All rights reserved.