Puisi: Aku di Pagi Ini (Karya Susy Ayu)

Puisi "Aku di Pagi Ini" menciptakan gambaran tentang perasaan kesepian, kerinduan, dan kekosongan emosional. Dengan memanfaatkan metafora hujan, ...
Aku di Pagi Ini


ada sisa hujan semalam di pelupuk mata
juga jatuh di pelataran hati
meresap pada tiap retakan akibat kerontang

sayang...
tak ada tempatku meringkuk ingin dipeluk
kecuali pada rentang tanganmu yang jauh

sebab hanya kau yang memahami
betapa kubasahi kemarau ini
dengan air mataku sendiri

17 Februari 2010

Analisis Puisi:
Puisi "Aku di Pagi Ini" karya Susy Ayu mengeksplorasi suasana hati yang penuh rindu dan kekosongan. Dengan bahasa yang sederhana namun mendalam, puisi ini menggambarkan perasaan seorang individu yang merasa sendirian dan merindukan kehadiran seseorang.

Imaji Hujan dan Matahari Pagi: Puisi dibuka dengan gambaran sisa hujan semalam di pelupuk mata, memberikan kesan kesedihan yang tersisa. Namun, seiring dengan matahari pagi, ada harapan dan kecerahan yang mungkin muncul setelah periode kelam.

Pelataran Hati dan Retakan: Metafora pelataran hati yang dihujani hujan menciptakan gambaran tentang kekosongan dan kerentanan emosional. Retakan akibat kerontang menyoroti kepekaan terhadap luka-luka emosional.

Kerinduan dan Pelukan: Puisi menyampaikan perasaan kerinduan yang mendalam. Kata-kata "tak ada tempatku meringkuk ingin dipeluk" menciptakan gambaran keinginan untuk merasa diterima dan dicintai, sementara "rentang tanganmu yang jauh" menunjukkan kejauhan fisik atau emosional.

Kemarau dan Air Mata: Metafora kemarau yang dibasahi dengan air mata sendiri menyiratkan kesendirian dan kesulitan mengatasi kesulitan hidup. Hal ini juga mencerminkan perasaan terisolasi yang hanya bisa diatasi dengan kehadiran orang yang dicintai.

Kepahaman yang Unik: Puisi menekankan keunikan hubungan dengan orang yang dimaksud, di mana hanya orang tersebut yang dapat memahami dan mengerti perjuangan dan emosi yang dialami pembicara.

Bahasa yang Simpel dan Kuat: Bahasa yang digunakan dalam puisi ini sederhana namun memikat. Kata-kata seperti "kubasahi kemarau ini dengan air mataku sendiri" mengandung makna mendalam dan memberikan kekuatan emosional pada puisi.

Puisi "Aku di Pagi Ini" menciptakan gambaran tentang perasaan kesepian, kerinduan, dan kekosongan emosional. Dengan memanfaatkan metafora hujan, matahari, dan air mata, Susy Ayu berhasil menyampaikan keindahan dan kepedihan dalam sebuah hubungan. Puisi ini mengundang pembaca untuk merenung tentang nilai kehadiran dan pemahaman dalam hubungan personal.

Susy Ayu
Puisi: Aku di Pagi Ini
Karya: Susy Ayu

Biodata Susy Ayu:
  • Susy Ayu lahir pada tanggal 14 Juni 1972 di Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.