Aceh sedang tidak baik-baik saja.

Puisi: Ketika Imlek (Karya Shinta Miranda)

Puisi "Ketika Imlek" karya Shinta Miranda mengajak pembaca untuk merenungkan keberagaman budaya, perubahan dalam tradisi, dan kompleksitas ...
Ketika Imlek


Tak pernah kita alami musim semi seperti di negeri leluhur
Kita cuma tahu musim hujan yang pasti memberi air
Dari hulu sampai ke hilir kita namakan rezeki

Kita pernah sembahyang di hadapan sebuah meja abu besar
Bertingkat tiga lapis sutera merah dan kuning keemasan
Berkumpul dari tertua sampai termuda di hari sama
Menyantap makanan yang hanya dimasak setahun sekali saja

Kita tetap lakukan meski berpuluh tahun tak lagi sama
Ada yang hilang karena telah melaku agama yang dibaku
Sebuah harus dan pengakuan supaya berhidup di tempat ini
Jadikan kita pelaku yang sah dan singkirkan kesah resah

Kita bercerai setelah setiap peristiwa
Mencekam cengkram hidup
Tangis dan luka, siksa dan derita, hina dan paksa
Sebuah negeri neraka
Di penghujung ketika kematian
Menjadi sebuah jawaban kelam
Kita bertanya ke mana mesti berjalan
Karena tak punya daratan

Musim penghujan, musim semi, bunga mei hwa
Sebuah perjalanan panjang kita
Turun temurun menempuh kebingungan

Celana pangsi, baju cheong sam, kain lurik, batik atau kebaya
Siapa pun boleh pakai sesuai keinginan
Di mana saja dan kapan saja

Tetap kutak pernah tahu
Mengapa kita harus membedakan perbedaan
Tetap kutak pernah mengerti
Mengapa kita harus saling mencaci hina
Tetap kutak pernah terima
Mengapa kita  harus dianiaya dan dicerca
Dan akan seperti yang sama
Menyawa di tanah yang entah siapa punya

4 Februari 2011

Sumber: Constance (2011)
Analisis Puisi:
Puisi "Ketika Imlek" karya Shinta Miranda merangkum berbagai aspek kehidupan, tradisi, dan pertanyaan filosofis yang melibatkan perjalanan panjang keluarga dan budaya di dalamnya.

Musim Semi di Negeri Leluhur dan Keterikatan dengan Rezeki: Puisi dimulai dengan perbandingan musim semi di negeri leluhur, meskipun pengalaman hidup lebih dikenal dengan musim hujan. Penyair menggambarkan musim hujan sebagai pemberi rezeki, menciptakan citra air yang melimpah dari hulu ke hilir sebagai bentuk berkat.

Tradisi Sembahyang dan Meja Abu Besar pada Hari Imlek: Puisi menggambarkan tradisi sembahyang pada hari Imlek di hadapan meja abu besar yang dilapisi tiga lapis sutera merah dan kuning keemasan. Ini menciptakan gambaran keagungan dan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perubahan dalam Tradisi dan Kehidupan Berpuluh Tahun Kemudian: Puisi menyoroti perubahan dalam pelaksanaan tradisi seiring berjalannya waktu. Meskipun beberapa tradisi tetap dilakukan, ada juga yang hilang karena tekanan dari agama yang lebih kuat. Penyair menciptakan gambaran keberlanjutan dan perubahan dalam menjalani kehidupan dan tradisi.

Kesadaran Akan Kehidupan yang Penuh Derita dan Pilihan yang Sulit: Puisi menyajikan gambaran kesadaran akan hidup yang penuh dengan derita dan pilihan sulit. Pengalaman hidup yang keras dan keputusan yang sulit dihadapi oleh masyarakat, diilustrasikan melalui tangisan, luka, siksa, derita, hina, dan paksa. Ini menciptakan gambaran negatif mengenai suatu negeri yang terasa seperti neraka.

Pertanyaan Filosofis dan Ketidakmengertian: Penyair menghadirkan serangkaian pertanyaan filosofis yang mencerminkan kebingungan dan ketidakmengertian akan beberapa aspek kehidupan dan kebijaksanaan manusia. Pertanyaan-pertanyaan ini menciptakan nuansa reflektif dan mengundang pembaca untuk merenungkan arti dan tujuan hidup.

Keanekaragaman Budaya dan Penolakan Terhadap Diskriminasi: Puisi mengadvokasi keanekaragaman budaya dan menolak diskriminasi. Penyair menciptakan gambaran tentang kebebasan berpakaian sesuai keinginan, menegaskan bahwa siapa pun dapat memilih dan mengenakan pakaian tradisional sesuai keinginan mereka tanpa memandang latar belakang budaya.

Jawaban Kelam di Penghujung Kehidupan dan Tanah yang Tak Diketahui Pemiliknya: Puisi diakhiri dengan gambaran jawaban kelam di penghujung kehidupan, menciptakan suasana misterius dan tidak pasti. Tanah yang tidak diketahui pemiliknya menggambarkan ketidakjelasan dan kebingungan akan tujuan hidup, menggugah pemikiran tentang kehidupan dan kematian.

Kesimpulan:

Puisi "Ketika Imlek" karya Shinta Miranda merangkum kehidupan, tradisi, pertanyaan filosofis, dan penolakan terhadap diskriminasi. Dengan keindahan bahasa dan gambaran yang kuat, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan keberagaman budaya, perubahan dalam tradisi, dan kompleksitas kehidupan di tengah ketidakpastian.

Puisi
Puisi: Ketika Imlek
Karya: Shinta Miranda

Biodata Shinta Miranda:
  • Shinta Miranda lahir pada tanggal 18 Mei 1955 di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.