Puisi: Pantai Kemangi (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Pantai Kemangi" karya Gunoto Saparie menggambarkan suasana kehidupan nelayan di Pantai Kemangi, Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten ..

Pantai Kemangi


perahu-perahu nelayan sore itu
letih dan kembali ke pantai
ombak-ombak seperti enggan berlagu
bocah-bocah kalang menyambut sangsai

mengapakah wajah-wajah kalian murung 
ketika pulang dari pelayaran panjang
haruskah percaya mitos dan cerita
angin musim mengalir membawa luka

di sini pernah kutemukan tulang rusukku
terbenam di pasir kelam penuh duka
ketika para nelayan pulang dalam sendu
dalam deraan penat tubuh dan jiwa

2022
Catatan:
Pantai Kemangi terletak di Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal.

Analisis Puisi:

Puisi "Pantai Kemangi" karya Gunoto Saparie menggambarkan suasana kehidupan nelayan di Pantai Kemangi, Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Melalui deskripsi yang puitis dan reflektif, puisi ini menyentuh tema kelelahan, kesedihan, dan makna mendalam dari kehidupan yang dihadapi oleh para nelayan.

Gambaran Kelelahan dan Kesedihan

Puisi dibuka dengan gambaran visual yang kuat tentang perahu-perahu nelayan yang kembali ke pantai pada sore hari: "perahu-perahu nelayan sore itu / letih dan kembali ke pantai". Frasa "letih dan kembali ke pantai" menekankan kelelahan fisik dan emosional yang dirasakan oleh para nelayan setelah seharian bekerja keras di laut.

Ombak yang biasanya berirama kini tampak enggan: "ombak-ombak seperti enggan berlagu". Ini menggambarkan suasana hati yang murung dan melelahkan, mencerminkan perasaan nelayan yang pulang dengan perasaan kecewa dan lelah.

Bocah-Bocah dan Sambutan Murung

Bocah-bocah yang menyambut kepulangan para nelayan tidak lagi bersuka cita, melainkan murung: "bocah-bocah kalang menyambut sangsai". Kalang menyiratkan kebingungan atau kecemasan, sedangkan sangsai menunjukkan penderitaan atau kesedihan. Gambaran ini memperkuat kesan bahwa kepulangan para nelayan membawa suasana duka dan keputusasaan.

Refleksi dan Mitos

Penyair kemudian bertanya tentang penyebab kesedihan ini: "mengapakah wajah-wajah kalian murung / ketika pulang dari pelayaran panjang". Pertanyaan retoris ini mengajak pembaca untuk merenungkan alasan di balik kesedihan para nelayan. Apakah ini karena mitos dan cerita yang dipercaya atau karena kenyataan pahit dari kehidupan mereka?

"haruskah percaya mitos dan cerita / angin musim mengalir membawa luka" mengisyaratkan bahwa mungkin ada kepercayaan atau cerita rakyat yang mempengaruhi suasana hati mereka. Angin musim yang membawa luka bisa berarti musim yang buruk atau masa-masa sulit yang harus dihadapi oleh nelayan.

Tulang Rusuk dan Makna Kehidupan

Bagian ini menjadi sangat reflektif: "di sini pernah kutemukan tulang rusukku / terbenam di pasir kelam penuh duka". Tulang rusuk bisa diartikan sebagai simbol pasangan atau bagian dari diri yang hilang. Penyair menemukan tulang rusuknya di pasir kelam, yang penuh duka, menunjukkan bahwa tempat ini menyimpan kenangan yang mendalam dan menyakitkan.

Puisi ditutup dengan kembalinya para nelayan yang penuh kesedihan: "ketika para nelayan pulang dalam sendu / dalam deraan penat tubuh dan jiwa". Sendu dan penat menunjukkan perasaan yang sangat mendalam dan kelelahan yang tidak hanya fisik tetapi juga jiwa. Ini menggarisbawahi perjuangan dan penderitaan yang dialami para nelayan setiap harinya.

Puisi "Pantai Kemangi" karya Gunoto Saparie adalah puisi yang menggambarkan kehidupan nelayan di Pantai Kemangi dengan kejujuran dan kepekaan yang mendalam. Melalui deskripsi visual yang kuat dan pertanyaan reflektif, puisi ini mengeksplorasi tema kelelahan, kesedihan, dan makna mendalam dari pengalaman hidup. Penyair berhasil menangkap esensi dari perjuangan dan penderitaan yang dialami oleh para nelayan, sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan lebih dalam tentang kehidupan dan kepercayaan yang mempengaruhi mereka. Puisi ini bukan hanya sebuah penggambaran, tetapi juga sebuah undangan untuk memahami dan merasakan kehidupan yang penuh tantangan tersebut.

Gunoto Saparie
Puisi: Pantai Kemangi
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.