Bima
Di dalam perjalanannya
dilihatnya tiada yang kekal
pada bahasa yang tinggal mati
Hutan jati hilang kumandangnya
dan sudut kota habis diperkata
juga langit telah hangus terbakar
di nyala matahari
Maka diputuskannya
untuk meninggalkan tanah kapur
dan tidur dengan naga
(yang tak jadi dibunuhnya)
di samudera angan-angan.
Di sana ia bisa bertatapan dengan sunyi
- makhluk kecil itu
berhuni di lubuk hati
Matanya cerah seperti punya bocah
yang hidup abadi.
Sumber: Keroncong Motinggo (1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Bima" karya Subagio Sastrowardoyo adalah sebuah karya yang kaya dengan simbolisme dan refleksi mendalam tentang ketidakabadian, pencarian makna, dan kedamaian batin. Dalam puisi ini, Subagio menggambarkan perjalanan seorang tokoh, yang diidentifikasi sebagai Bima, dalam mengeksplorasi kearifan dan mencari tempat di dunia yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian.
Perjalanan dan Ketidakabadian
Puisi dimulai dengan penggambaran perjalanan Bima yang menyadari bahwa "tiada yang kekal pada bahasa yang tinggal mati." Kalimat ini menekankan pemahaman Bima bahwa segala sesuatu yang pernah dianggap kekal atau tetap dalam bahasa dan penjelasan manusia pada akhirnya akan pudar dan menghilang. Ketidakabadian ini tercermin dalam berbagai elemen yang hilang atau mengalami perubahan, seperti "hutan jati" yang kehilangan "kumandangnya," sudut kota yang habis diperkata, dan langit yang "hangus terbakar di nyala matahari."
Melalui penggambaran ini, Subagio menyoroti kenyataan bahwa segala sesuatu yang bersifat fisik dan duniawi tidak dapat bertahan selamanya. Ketidakpastian dan perubahan adalah bagian dari pengalaman manusia yang tidak bisa dihindari.
Pencarian dan Keputusan untuk Meninggalkan
Sebagai respons terhadap ketidakabadian dan kehilangan tersebut, Bima memutuskan untuk "meninggalkan tanah kapur" dan "tidur dengan naga" di "samudera angan-angan." Tanah kapur, yang mungkin melambangkan kekeringan dan kekakuan, diibaratkan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan untuk mencari pengalaman dan makna baru.
Tidur dengan naga, simbol dari kekuatan dan misteri, di samudera angan-angan mencerminkan keputusan Bima untuk mencari kedamaian dan pemahaman yang lebih dalam melalui cara yang lebih imajinatif dan spiritual. Ini adalah langkah untuk menjauh dari dunia yang tampaknya tidak memadai dan mencari tempat di mana ia bisa menemukan makna dan kelegaan yang lebih mendalam.
Penerimaan dan Kedamaian Batin
Di "samudera angan-angan," Bima menemukan kedamaian dan bisa "bertatapan dengan sunyi." Sunyi di sini adalah makhluk kecil yang "berhuni di lubuk hati," menunjukkan bahwa kedamaian batin dapat ditemukan dalam kedalaman diri yang tenang dan penuh refleksi. Melalui tatapan ini, Bima menemukan kejelasan dan kedamaian yang tidak dapat ditemukan di dunia luar yang terus berubah.
Penggambaran mata Bima yang "cerah seperti punya bocah yang hidup abadi" menggambarkan keadaan batin yang penuh dengan rasa keajaiban dan keabadian anak-anak, di mana tidak ada batasan dan segala sesuatu tampak mungkin. Ini menunjukkan bahwa meskipun dunia luar mungkin tidak kekal, ada kemungkinan untuk menemukan kekekalan dalam diri sendiri melalui kedamaian dan penerimaan batin.
Simbolisme dan Makna dalam Puisi
Puisi ini menggunakan simbolisme yang kuat untuk menggambarkan perjalanan Bima. Hutan jati, sudut kota, dan langit yang hangus adalah simbol dari aspek-aspek dunia yang tidak kekal dan rentan terhadap perubahan. Tanah kapur dan naga, di sisi lain, melambangkan keputusan untuk meninggalkan dunia yang keras dan mencari kedamaian dalam imajinasi dan pengalaman spiritual.
Samudera angan-angan menjadi tempat di mana Bima bisa menemukan ketenangan dan makna yang lebih dalam. Sunyi, sebagai makhluk kecil yang tinggal di hati, melambangkan kedamaian batin yang ditemukan melalui refleksi dan introspeksi.
Pencarian Makna dalam Ketidakabadian
Puisi "Bima" karya Subagio Sastrowardoyo adalah karya yang menggambarkan perjalanan spiritual dan reflektif seorang tokoh dalam menghadapi ketidakabadian dan perubahan. Dengan menggunakan simbolisme yang kuat dan bahasa yang penuh makna, Subagio menyampaikan pesan bahwa meskipun dunia luar mungkin tidak kekal, ada kemungkinan untuk menemukan kedamaian dan pemahaman yang lebih dalam dalam diri sendiri melalui introspeksi dan penerimaan.
Melalui perjalanan Bima, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan ketidakabadian dan mencari tempat di mana mereka bisa menemukan kedamaian dan makna yang abadi. Ini adalah sebuah refleksi yang mendalam tentang bagaimana kita dapat menghadapi perubahan dan ketidakpastian dalam hidup dengan menemukan ketenangan di dalam diri kita sendiri.
Karya: Subagio Sastrowardoyo
Biodata Subagio Sastrowardoyo:
- Subagio Sastrowardoyo lahir pada tanggal 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur.
- Subagio Sastrowardoyo meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 1996 (pada umur 72 tahun) di Jakarta.