Puisi: Pertiwi (Karya Subagio Sastrowardoyo)

Puisi "Pertiwi" karya Subagio Sastrowardoyo mengajak pembaca untuk merenungkan tentang keajaiban alam dan kekayaan yang ditawarkannya kepada manusia.
Pertiwi

Ia rebah di lembah pagi:
paha putih menjulurkan ketela
lengan manis beruas tebu
dan jari tangan mengalirkan bulir padi.

Pemburu, apa yang kautunggu!

Rambut rindang melindungi kelapa
gading – buah dadanya

Tanpa ayal kutempuh semak belukar
menyambut daging ilahi

di belah gapura kuhirup madu abadi.

Sumber: Keroncong Motinggo (1975)

Analisis Puisi:

Puisi "Pertiwi" karya Subagio Sastrowardoyo adalah sebuah puisi yang memuji keindahan dan keberlimpahan alam, sambil mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam.

Penggambaran Alam yang Indah: Penyair menggambarkan alam dengan keindahan yang luar biasa. Ia menciptakan gambaran lembah pagi yang subur dan penuh dengan kehidupan. Deskripsi paha putih ketela, lengan manis beruas tebu, dan jari tangan yang mengalirkan bulir padi, menciptakan citra tentang kemakmuran alam dan keberlimpahan hasil bumi.

Keterhubungan Manusia dengan Alam: Dalam puisi ini, ada penggambaran keterhubungan yang erat antara manusia dengan alam. Pemburu yang disebutkan dalam puisi ini, mungkin melambangkan manusia yang mencari keberlimpahan dari alam. Mereka menyambut daging ilahi yang disediakan oleh alam dengan penuh kekaguman dan kegembiraan.

Simbolisme dan Metafora: Penyair menggunakan simbolisme dan metafora untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Misalnya, rambut rindang yang melindungi kelapa gading bisa saja melambangkan perlindungan alam terhadap kehidupan yang ada di dalamnya. Belah gapura dan madu abadi juga bisa diinterpretasikan sebagai simbol kesuburan dan keberkahan alam.

Pembangunan Naratif: Secara naratif, puisi ini mengikuti perjalanan pemburu yang memasuki alam dan menemukan keberlimpahan yang ditawarkan oleh Pertiwi. Ini menciptakan suasana penuh keajaiban dan keindahan alam yang memikat.

Puisi "Pertiwi" karya Subagio Sastrowardoyo adalah sebuah puisi yang memuji keindahan dan keberlimpahan alam, sambil menyoroti hubungan erat antara manusia dan alam. Dengan gambaran yang indah dan bahasa yang kaya, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang keajaiban alam dan kekayaan yang ditawarkannya kepada manusia.

Puisi Subagio Sastrowardoyo
Puisi: Pertiwi
Karya: Subagio Sastrowardoyo

Biodata Subagio Sastrowardoyo:
  • Subagio Sastrowardoyo lahir pada tanggal 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur.
  • Subagio Sastrowardoyo meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 1996 (pada umur 72 tahun) di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.