Sumber: Rindu Bahagia (1963)
Analisis Puisi:
Puisi "Menyesal" karya Ali Hasjmy merupakan salah satu puisi reflektif yang kuat dalam menggambarkan penyesalan manusia terhadap waktu yang telah terlewat. Dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami, puisi ini menyoroti persoalan klasik tentang kelalaian di masa muda dan dampaknya ketika usia telah menua. Ali Hasjmy tidak hanya menghadirkan ratapan personal, tetapi juga menjadikannya sebagai pelajaran moral bagi generasi berikutnya.
Puisi ini disusun dalam bentuk soneta dengan pola 4 bait 14 baris, sehingga pesan yang disampaikan terasa tegas dan mengendap dalam benak pembaca.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah penyesalan atas kelalaian di masa muda. Penyair menyoroti bagaimana waktu yang tidak dimanfaatkan dengan baik—khususnya untuk menuntut ilmu dan berbuat kebajikan—akan berujung pada rasa sesal ketika usia telah senja. Tema ini juga berkaitan erat dengan kesadaran akan pentingnya waktu dan tanggung jawab pribadi dalam menjalani hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah berada di usia tua dan menyadari bahwa masa mudanya telah berlalu tanpa pemanfaatan yang berarti. Ia menyesali kelalaiannya di “hari pagi” dan “masa muda”, yang kini berbuah kehidupan pahit: miskin ilmu dan miskin harta. Dari kesadaran itu, penyair kemudian mengalihkan suara puisinya menjadi nasihat bagi generasi muda agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah peringatan bahwa waktu merupakan anugerah yang tidak dapat diulang. Kelalaian, kemalasan, dan sikap menunda di masa muda akan membawa konsekuensi jangka panjang. Puisi ini juga menyiratkan bahwa penyesalan yang datang terlambat tidak mampu mengubah keadaan, sehingga kesadaran dan kedisiplinan harus dibangun sejak dini.
Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa pengalaman pahit seseorang dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang lain, khususnya generasi muda.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung melankolis dan reflektif. Perasaan sedih, pahit, dan getir mendominasi bait-bait awal, terutama ketika penyair menyadari hidupnya “meracun hati”. Namun, suasana tersebut perlahan berubah menjadi lebih didaktis dan penuh harap ketika penyair menyampaikan pesan kepada kaum muda.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat utama puisi ini adalah ajakan agar generasi muda memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Masa muda digambarkan sebagai “hari pagi”, yaitu waktu yang paling tepat untuk belajar, bekerja keras, dan mengabdi. Puisi ini menegaskan bahwa disiplin, kesungguhan, dan tujuan hidup yang jelas sejak muda akan menentukan kualitas kehidupan di masa tua.
Imaji
Puisi ini memanfaatkan imaji waktu dan usia, seperti pagi, petang, hari muda, dan usia tinggi. Imaji tersebut membantu pembaca membayangkan perjalanan hidup manusia dari muda hingga tua. Penggambaran pagi sebagai simbol awal kehidupan dan petang sebagai simbol usia senja memperkuat kesan penyesalan yang dialami.
Majas
Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
- Metafora, seperti “pagiku hilang sudah melayang” dan “petang datang membayang” yang menggambarkan fase kehidupan manusia.
- Personifikasi, pada ungkapan “petang datang membayang”, seolah-olah waktu memiliki kemampuan bergerak dan hadir.
Puisi "Menyesal" karya Ali Hasjmy merupakan refleksi mendalam tentang nilai waktu dan tanggung jawab manusia terhadap hidupnya sendiri. Melalui ungkapan penyesalan di usia tua, penyair menyampaikan pesan moral yang kuat agar generasi muda tidak menyia-nyiakan masa emas kehidupannya. Puisi ini relevan sepanjang zaman, karena persoalan kelalaian dan penyesalan merupakan pengalaman universal yang selalu hadir dalam kehidupan manusia.
Karya: Ali Hasjmy
Biodata Ali Hasjmy:
- Prof. Ali Hasjmy lahir di Lampaseh, Aceh Besar dengan nama lengkap Muhammad Ali Hasyim pada tanggal 28 Maret 1914.
- Prof. Ali Hasjmy meninggal dunia di Banda Aceh, pada tanggal 18 Januari 1998.
- Dalam dunia sastra, Prof. Ali Hasjmy pernah menggunakan beberapa nama pena, antara lain Al Hariry, Aria Hadiningsun dan Asmara Hakiki.
