Sajak Sebatang Lisong
Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Sebatang Lisong” merupakan salah satu karya paling keras dan lugas dari W.S. Rendra dalam menyuarakan kritik sosial. Puisi ini menempatkan penyair sebagai saksi sekaligus penggugat atas realitas Indonesia yang timpang, penuh ketidakadilan, dan jauh dari cita-cita kemanusiaan. Dengan gaya pamflet dan bahasa yang langsung, puisi ini menolak keindahan semu dan memilih keberpihakan yang tegas.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketidakadilan sosial dan kritik terhadap kekuasaan. Selain itu, puisi ini mengangkat tema kegagalan sistem pendidikan, ketimpangan ekonomi, serta keterasingan seni dan intelektual dari penderitaan rakyat. Rendra menegaskan bahwa persoalan bangsa bukan sekadar teknis pembangunan, melainkan persoalan kemanusiaan yang diabaikan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengamati kondisi Indonesia sambil “menghisap sebatang lisong”. Dari pengamatan itu, ia menyaksikan ironi besar: jutaan anak tanpa pendidikan, sarjana menganggur, perempuan hamil yang harus antre uang pensiun, serta rakyat kecil yang tertindas. Penyair juga menggambarkan bagaimana pertanyaannya selalu mentok—baik pada meja kekuasaan, teknokrat, pendidik, maupun penyair salon—yang gagal menjawab persoalan nyata rakyat.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kecaman terhadap elite kekuasaan, kaum teknokrat, dan seniman yang tercerabut dari realitas sosial. Rendra menyindir keras anggapan bahwa rakyat malas, sementara sistem yang menindas justru dibiarkan. Puisi ini juga menyiratkan penolakan terhadap ketergantungan pada konsep dan teori asing yang tidak berpijak pada kondisi nyata bangsa sendiri.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini muram, geram, dan penuh keprihatinan, bercampur dengan nada marah dan menggugat. Ada pula suasana ironis dan satiris, terutama ketika penderitaan rakyat dihadapkan dengan kemewahan para cukong, teknokrat, dan penyair salon. Di bagian akhir, suasana berubah menjadi tegas dan menyerukan perlawanan intelektual dan moral.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat utama puisi ini adalah kesenian dan pemikiran harus berpihak pada penderitaan rakyat. Rendra menegaskan bahwa seni kehilangan makna jika terpisah dari derita lingkungan, dan berpikir menjadi kosong jika tidak menyentuh persoalan kehidupan nyata. Puisi ini juga menyerukan agar bangsa Indonesia merumuskan jalannya sendiri, turun ke lapangan, dan memahami realitas secara langsung.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual dan auditif yang kuat. Imaji visual tampak pada gambaran “di langit / dua tiga cukong mengangkang”, “delapan juta kanak-kanak / tanpa pendidikan”, “wanita bunting / antri uang pensiunan”, serta “iklan berlampu neon”. Imaji auditif muncul melalui “gebalau suara yang kacau” dan protes-protes yang terpendam. Imaji-imaji ini memperkuat kesan keras dan nyata dari realitas sosial yang digambarkan.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas, antara lain:
- Metafora, seperti “dua tiga cukong mengangkang / berak di atas kepala mereka.” sebagai simbol dominasi elite ekonomi.
- Satire dan ironi, dalam pernyataan teknokrat yang menyebut bangsa malas di tengah penderitaan rakyat.
- Hiperbola, pada angka dan gambaran penderitaan massal untuk menegaskan skala masalah.
- Retorika, melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggugat makna seni dan pemikiran.
Puisi “Sajak Sebatang Lisong” adalah puisi perlawanan yang menolak netralitas. W.S. Rendra menempatkan puisi sebagai pamflet masa darurat, alat kesadaran sosial yang menuntut keterlibatan nyata. Puisi ini menegaskan bahwa tugas penyair bukan sekadar merangkai keindahan, melainkan menyuarakan kebenaran dan berpihak pada mereka yang terpinggirkan.
Karya: W.S. Rendra
Biodata W.S. Rendra:
- W.S. Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
- W.S. Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 (pada usia 73 tahun) di Depok, Jawa Barat.