Aku Mendengarmu
Aku mendengarmu saat kau diam
Aku melihatmu saat kau tak menampakkan diri
Aku merabamu saat engkau sejauh tak ada
Aku membaui aromamu saat kau tak di dekatku
Aku bisa merasakanmu saat kau melupakanku
Sumber: Topeng Gerabah Bermata Cumbu (2021)
Analisis Puisi:
Puisi "Aku Mendengarmu" karya Hendro Siswanggono mengungkapkan konsep cinta dan kerinduan yang mendalam melalui cara yang halus dan penuh perasaan. Dalam puisi ini, penyair menggambarkan bagaimana perasaan dan kehadiran seseorang dapat dirasakan meski secara fisik mereka tidak ada di dekat kita. Puisi ini merayakan kepekaan hati yang mampu mendengar, melihat, dan merasakan meskipun dalam ketiadaan fisik. Ini adalah eksplorasi dari hubungan yang lebih emosional dan spiritual daripada sekadar fisik.
Keberadaan dalam Ketidakhadiran
Salah satu tema utama yang terasa dalam puisi ini adalah bagaimana perasaan bisa tetap hidup meskipun objek yang memicu perasaan tersebut tidak ada di dekat kita. Hendro Siswanggono menggambarkan hubungan yang lebih dari sekadar interaksi fisik, tetapi hubungan yang melibatkan perasaan, kenangan, dan bahkan imajinasi.
"Aku mendengarmu saat kau diam""Aku melihatmu saat kau tak menampakkan diri"
Kalimat-kalimat ini menunjukkan betapa kuatnya kehadiran orang lain dalam pikiran dan hati penyair. Meskipun orang yang dimaksud dalam puisi ini tidak berbicara atau menunjukkan diri mereka secara langsung, penyair dapat "mendengar" dan "melihat" mereka melalui kenangan atau perasaan yang tertanam dalam dirinya. Ini adalah bentuk komunikasi yang tidak membutuhkan kata-kata atau tindakan nyata, melainkan sebuah komunikasi emosional dan spiritual.
Merasakan Kehadiran dalam Ketiadaan
Puisi ini juga menunjukkan kemampuan untuk merasakan kehadiran seseorang bahkan ketika mereka tidak hadir secara fisik. Dalam banyak hubungan, rasa kehilangan atau kerinduan bisa membangkitkan perasaan bahwa orang yang kita rindukan masih ada di sekitar kita, meskipun mereka sejauh mata memandang.
"Aku merabamu saat engkau sejauh tak ada""Aku membaui aromamu saat kau tak di dekatku"
Kalimat ini mengungkapkan bagaimana penyair merasakan kehadiran orang tersebut melalui indera lain, meskipun mereka tidak dapat berinteraksi secara langsung. "Meraba" dan "membaui" adalah dua aktivitas yang berhubungan dengan indera fisik, tetapi dalam konteks ini, keduanya lebih berkaitan dengan bagaimana kenangan atau perasaan tentang orang yang dirindukan bisa hadir secara simbolis dalam bentuk lain—melalui sensasi atau ingatan yang terbentuk dalam hati penyair.
Rasa Kehilangan dan Kerinduan yang Mendalam
Puisi ini mengekspresikan perasaan rindu yang sangat mendalam, di mana perasaan tersebut tidak tergantung pada kehadiran fisik orang yang dirindukan. Penyair seakan-akan berkomunikasi dengan seseorang yang telah hilang, atau seseorang yang mungkin tidak sepenuhnya hadir dalam hidupnya lagi, tetapi keberadaan orang tersebut masih sangat dirasakan dalam setiap detik kehidupan.
"Aku bisa merasakanmu saat kau melupakanku"
Baris terakhir ini membawa perasaan melankolis yang sangat kuat. Meskipun orang tersebut mungkin telah "melupakan" penyair atau tidak lagi terhubung secara emosional, penyair masih dapat merasakan kehadiran orang tersebut. Ini bisa mengarah pada rasa kesepian, namun juga memperlihatkan ketahanan perasaan cinta atau kerinduan yang tidak mudah memudar, meski dalam ketidakhadiran fisik.
Menggali Arti Ketidakhadiran dalam Puisi
Puisi "Aku Mendengarmu" berbicara tentang perasaan yang melampaui ruang dan waktu. Meskipun orang yang dikasihi atau yang dirindukan tidak ada di sekitar kita, kehadirannya dapat dirasakan melalui ingatan, perasaan, dan sensasi. Hendro Siswanggono seakan menunjukkan bahwa dalam hubungan emosional yang mendalam, keberadaan seseorang tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk fisik; perasaan yang tertinggal dalam hati cukup untuk menciptakan suatu bentuk komunikasi yang lebih dari sekadar interaksi duniawi.
Simbolisme Kehadiran dalam Ketidakhadiran
Penyair menggunakan simbolisme indera untuk menunjukkan bagaimana kehadiran seseorang dapat melampaui batas fisik. Mendengar, melihat, meraba, dan membaui adalah aktivitas yang melibatkan indera, yang dalam puisi ini digunakan untuk menggambarkan cara-cara tak kasat mata di mana kita bisa "merasakan" orang yang kita rindukan. Ini adalah bentuk dari kepekaan jiwa yang mampu menangkap sesuatu yang tidak terlihat atau tidak terdengar oleh orang lain, yang sering kali hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada dalam keadaan yang sama.
Puisi "Aku Mendengarmu" adalah sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana kita bisa merasakan kehadiran seseorang dalam kehidupan kita meskipun mereka tidak berada di dekat kita. Puisi ini menyoroti bagaimana perasaan, kenangan, dan cinta bisa tetap hidup meskipun tidak ada kontak fisik. Hendro Siswanggono menggambarkan kerinduan yang begitu mendalam, di mana perasaan tersebut mampu melampaui batas-batas fisik dan temporal. Dalam dunia yang sering kali menilai keberadaan melalui apa yang terlihat dan terdengar, puisi ini mengajak kita untuk merenungkan bahwa keberadaan sejati bisa lebih terasa dalam hal-hal yang tak tampak.
