Ambulans
Ambulans, apakah kau tak pernah
peluh keletihan mengantar mayat-mayat,
kesayangan Tuhan itu ke sana kemari?
Sirene adalah suara mayat yang mewartakan manusia
sungguh fana. Seperti jelaga, ia rentan basah-hijau, kering, abu,
dan luluh lantak dalam serbuan wabah, dan maut.
Sirene meraung-raung di pintu, hinggap di daun jendela,
memata-matai nasib yang mulai tidak berfungsi lagi,
Petir menggeledek, hujan pun melebat
di antara air mata yang mendidih
menghancurkan tembok yang berdiri di langit-langit
sampai orang-orang lupa ia sedang menangis di bawah hujan
mengguyur tubuhnya yang tak pernah menangis kematiannya.
Seketika ia menangis, ambulans menamainya kidung Mazmur 85.
Ledalero, 22 Maret 2022
Analisis Puisi:
Puisi "Ambulans" karya Melki Deni menyajikan gambaran penuh emosi tentang ambulans, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi medis tetapi juga sebagai pembawa kematian. Dengan imaji yang kuat dan bahasa yang mendalam, puisi ini membangkitkan perasaan pembaca dan mengajak untuk merenung tentang kehidupan dan kematian.
Personifikasi Ambulans: Penyair memberikan personifikasi pada ambulans dengan memandangnya sebagai entitas yang memiliki pengalaman dan emosi. Puisi membuka dengan pertanyaan yang menyentuh hati, menanyakan apakah ambulans pernah merasakan keletihan dan beban moral mengantar mayat-mayat ke tempat pemakaman. Ini menciptakan pemahaman lebih dalam tentang peran ambulans dalam menghadapi kematian.
Simbolisme Sirene: Sirene ambulans diartikan sebagai suara mayat yang mewartakan keterbatasan manusia dan kefanaan hidup. Sirene bukan hanya alat peringatan, tetapi juga simbol penuh arti tentang fragilitas dan kerentanannya manusia. Penggambaran sirene sebagai suara yang merayakan kefanaan manusia menciptakan kontras yang kuat.
Metafora Jelaga dan Maut: Puisi menggunakan metafora jelaga untuk menggambarkan kehidupan manusia yang rentan terhadap berbagai perubahan dan bencana. Jelaga yang rentan basah-hijau, kering, dan abu menciptakan citra tentang kerapuhan dan ketidakpastian hidup. Maut digambarkan sebagai serbuan wabah yang menghancurkan dan meluluhlantakkan segala sesuatu.
Imaji Hujan dan Air Mata: Hujan yang melebat dan air mata yang mendidih menciptakan gambaran emosional dan dramatis. Ini bisa diartikan sebagai simbol kesedihan dan penderitaan yang melanda manusia ketika menghadapi kematian. Tembok yang dihancurkan oleh hujan mencerminkan ketidakmampuan manusia untuk menghentikan aliran waktu dan takdir.
Penyatuan Alam dan Emosi Manusia: Puisi menggabungkan elemen alam, seperti hujan dan petir, dengan emosi manusia. Petir yang menggeledek menciptakan atmosfer tegang dan dramatis, sementara hujan menciptakan perasaan kehilangan dan kesedihan. Penyatuan ini menciptakan dimensi emosional yang mendalam.
Kidung Mazmur 85: Penutup puisi dengan menyebut "kidung Mazmur 85" menambahkan unsur religius. Kidung Mazmur sering kali digunakan dalam konteks rohaniah untuk menyampaikan doa atau keluh kesah. Pemilihan ini bisa mencerminkan harapan atau permohonan akan belas kasihan dan kebijaksanaan di tengah-tengah tragedi dan kehilangan.
Melalui penggunaan bahasa yang indah dan imaji yang kuat, puisi "Ambulans" karya Melki Deni berhasil menggambarkan ambulans tidak hanya sebagai kendaraan fisik tetapi sebagai simbol kehidupan dan kematian. Puisi ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang mendalam tentang eksistensi manusia dan peran ambulans dalam menghadapi momen kritis kehidupan.
Puisi: Ambulans
Karya: Melki Deni
Biodata Melki Deni:
- Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
- Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
- Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).