Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Kalah atau Menang (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi "Kalah atau Menang" karya Pulo Lasman Simanjuntak mengajak pembaca untuk merenung tentang kehidupan, perjuangan, dan peran manusia dalam ...
Kalah atau Menang

kita berangkat dari sebuah titik
makin lama menjelma jadi mata air
lalu mencium ikan-ikan beracun di danau
tanpa sayap

(padahal jarak Yogjakarta dan New York hanya segaris, kepastian-kepastian semu)

Kristus pernah engkau dengar bukan?
bermazmur
sesungguhnya cinta itu
permainan gila
para tukang potret amatiran

hayo....
kita berkelahi tanpa badik
melawan matahari betina itu
agar sinarnya yang manja
tak lagi menghamili 
hewan-hewan langka kegemaranmu

percayalah,
sejarah akan tunduk
atau kita pura-pura jadi malaikat manis
yang berlari dari kandang sapi
rindu tidur di kereta angin

mulailah

2023

Catatan:
Puisi berjudul "Kalah atau Menang" ini dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Rabu, 12 Juli 2023.

Analisis Puisi:

Puisi "Kalah atau Menang" karya Pulo Lasman Simanjuntak adalah sebuah karya yang menggugah dengan perpaduan antara imaji yang kuat, simbolisme, dan kritik sosial yang tajam. Dibacakan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin Taman Ismail Marzuki pada Rabu, 12 Juli 2023, puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kehidupan, perjuangan, dan peran manusia dalam membentuk kenyataan yang sering kali semu. Melalui pilihan kata dan metafora yang kaya, puisi ini menghadirkan konflik batin yang kompleks antara harapan, kenyataan, dan makna kehidupan.

"Kita berangkat dari sebuah titik, makin lama menjelma jadi mata air..."

Puisi ini dimulai dengan penggambaran perjalanan yang dimulai dari sebuah titik. Kalimat "Kita berangkat dari sebuah titik" bisa diartikan sebagai awal dari sebuah perjuangan, baik dalam konteks individu maupun kolektif. Titik ini bisa mewakili titik nol, titik awal dari kehidupan atau bahkan dari pemikiran dan tindakan. Seiring berjalannya waktu, titik tersebut menjelma menjadi mata air, sebuah simbol kehidupan dan sumber yang memberikan kehidupan. Namun, perjalanan ini tidak semudah yang dibayangkan, karena "mata air" ini pada akhirnya berhadapan dengan "ikan-ikan beracun di danau," sebuah gambaran tentang rintangan atau bahaya yang tidak terduga dalam hidup. Meskipun demikian, simbol mata air tetap menonjol, mengindikasikan bahwa meskipun ada bahaya, ada juga potensi untuk menyuburkan dan memberi kehidupan.

"Lalu mencium ikan-ikan beracun di danau tanpa sayap"

Penggambaran ikan-ikan beracun di danau adalah metafora yang kuat untuk menggambarkan bahaya yang tersembunyi dalam kehidupan. Ikan yang beracun ini mewakili masalah atau tantangan yang tidak terlihat pada pandangan pertama, tetapi dapat merusak atau membahayakan jika tidak dihadapi dengan hati-hati. Kehadiran tanpa sayap mengindikasikan ketidakmampuan untuk melarikan diri atau menghindari bahaya tersebut, yang mengarah pada realitas bahwa dalam hidup kita sering kali dihadapkan pada situasi di mana kita harus menghadapi tantangan tanpa memiliki alat untuk melarikan diri atau menghindarinya.

"Padahal jarak Yogjakarta dan New York hanya segaris, kepastian-kepastian semu"

Bagian ini mengangkat tema ketidakpastian dan semu, yang menjadi salah satu pokok utama dalam puisi ini. Jarak antara Yogyakarta dan New York, yang secara fisik terpisah jauh, diungkapkan dengan metafora "hanya segaris." Hal ini menyiratkan bahwa dalam kehidupan ini, jarak atau perbedaan antara tempat, budaya, dan cara pandang dapat terasa sangat tipis dan hampir tidak ada, terutama dalam dunia yang semakin terhubung melalui teknologi dan informasi. Namun, meskipun segaris, "kepastian-kepastian semu" menunjukkan bahwa segala hal yang tampak jelas dan pasti bisa jadi hanyalah ilusi. Ini mencerminkan ketidakpastian yang sering kali menghantui kehidupan, di mana kita tidak pernah benar-benar bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Kristus pernah engkau dengar bukan? bermazmur, sesungguhnya cinta itu permainan gila para tukang potret amatiran"

Mengutip nama Kristus dalam konteks ini menunjukkan refleksi religius atau spiritual, namun juga diikuti dengan pernyataan yang lebih sinis dan ironis mengenai cinta. "Cinta itu permainan gila" menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang tidak terduga dan penuh dengan kerumitan, bahkan bisa dilihat sebagai permainan yang tidak jelas dan sering kali membingungkan. Cinta yang digambarkan sebagai "permainan gila" ini diambil dalam konteks para tukang potret amatiran, yang seharusnya menangkap momen berharga, namun justru gagal dalam melakukannya. Potret yang diambil dengan cara amatiran ini bisa menjadi metafora untuk gambaran cinta yang sering kali tidak sempurna, atau bahkan bisa jadi salah interpretasi.

"Hayo.... kita berkelahi tanpa badik, melawan matahari betina itu..."

Pada bagian ini, penyair mengajak pembaca untuk "berkelahi tanpa badik," yang dapat diartikan sebagai perjuangan tanpa alat atau senjata konvensional. "Melawan matahari betina itu" adalah metafora untuk melawan kekuatan yang luar biasa atau entitas yang sangat kuat dan dominan, mungkin sistem atau kekuatan besar yang menindas atau membatasi kebebasan dan aspirasi manusia. Matahari, dalam hal ini, mungkin bisa diartikan sebagai simbol dari kekuatan yang mengendalikan hidup dan menentukan arah hidup manusia, yang harus diperjuangkan agar tidak menjadi "sinarnya yang manja" yang dapat merusak segala sesuatu di bawahnya.

"Percayalah, sejarah akan tunduk atau kita pura-pura jadi malaikat manis..."

Bagian ini mencerminkan kritik terhadap sejarah dan bagaimana sejarah sering kali dipandang sebagai sesuatu yang tak bisa diubah. Penyair mengajak pembaca untuk percaya bahwa sejarah bisa "tunduk," yang berarti kita memiliki kemampuan untuk mengubah atau mempengaruhi jalannya sejarah. Namun, jika itu tidak mungkin, maka kita bisa berpura-pura menjadi "malaikat manis" yang mencoba untuk kabur dari kenyataan yang keras, seakan lari dari masalah yang ada. Kegagalan untuk mengubah sejarah atau ketidakmampuan menghadapi kenyataan mungkin membuat kita terjebak dalam dunia ilusi dan pura-pura.

"Mulailah"

Akhir dari puisi ini, dengan kata "Mulailah," adalah ajakan untuk bertindak. Setelah semua renungan dan refleksi tentang perjuangan hidup, cinta, sejarah, dan kenyataan yang semu, penyair mengajak pembaca untuk memulai sesuatu. Kata ini bisa diartikan sebagai seruan untuk tidak terjebak dalam keraguan atau keputusasaan, tetapi untuk terus melangkah maju, meskipun dengan segala ketidakpastian dan tantangan yang ada.

Makna dan Pesan Puisi Kalah atau Menang

Puisi "Kalah atau Menang" karya Pulo Lasman Simanjuntak mengajak pembaca untuk merenung tentang perjalanan hidup yang penuh dengan ketidakpastian, cinta yang penuh dengan paradoks, serta sejarah yang tidak dapat dipahami secara utuh. Penyair menggunakan metafora dan simbolisme yang kaya untuk menggambarkan realitas kehidupan yang sering kali tampak semu dan tidak pasti. Dalam setiap barisnya, terdapat kecaman terhadap ketidakadilan, ketidakberdayaan, serta usaha untuk memahami dan mengubah dunia. Di balik pesimisme yang terkandung dalam beberapa bagian, ada ajakan untuk terus melangkah dan memulai sesuatu yang baru, meskipun dunia tampaknya tidak memberikan banyak kepastian.

Pulo Lasman Simanjuntak
Puisi: Kalah atau Menang
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Penyair dan Sastrawan Pulo Lasman Simanjuntak memulai karier dalam dunia tulis menulis (kesusasteraan) sejak tahun 1980-an. Karya puisi pertama berjudul IBUNDA dimuat di Harian Umum KOMPAS pada bln Juli 1977. Setelah itu sejak tahun 1980 sampai tahun 2023 berturut-turut karya puisinya dimuat (dipublish) di 25 media cetak (koran, suratkabar, dan majalah), serta 83 media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.

    Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul MEDITASI BATU. Selain itu juga puisinya terhimpun dalam 25 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.

    Saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Sastra ASEAN, Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Bengkel Deklamasi Jakarta (BDJ), Sastra Nusa Widhita (SNW), Pemuisi Nasional Malaysia, Sastra Sahabat Kita (Sabah, Malaysia), Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Kampung Seni Jakarta, Penikmat Seni Budaya, Storia Sastra, Bengkel Narasi, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, dan anggota Sastra Reboan.

    Pulo Lasman Simanjuntak bekerja sebagai wartawan dan rohaniawan, bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    © Sepenuhnya. All rights reserved.