Kalau Dia Benar-Benar Meninggal Dunia
Kalau dia benar-benar meninggal dunia
(karena bagai perawan tua yang diperkosa
pakaiannya koyak-moyak, kemaluannya berdarah dan luka-luka
warna merah meleleh di kelangkangnya. dia merintih
dan mengerang kesakitan, batuk-batuk
dan muntah di gang yang gelap
di gang yang sepi itu)
Kalau dia benar-benar meninggal dunia
(karena nyata-nyata tiada seorang pun kuasa
menyelamatkannya, paling tidak
menberi harapan
maka baiknya kita siap-siap saja)
aku akan pesan pada tukang-tukang menggali tanah
untuk membuat makam yang kira-kira pantas
dan pas benar dengan dia
berapa pun mereka minta ongkos
betapapun susah aku membayar
akan kuusahakan
baik toh begitu?
aku akan pesan peti yang bagus
baiknya dari besi atau kayu jati
diukir-ukir indah
dan andai uangku kurang
tolong pinjamilah dulu
gajian depan kukembalikan
bisakah?
aku juga mau pesan bunga-bunga yang lajim
mawar dan kenanga, ditaburkan di mana-mana
bila iring-iringan itu nanti berangkat
koor!
koor?
yah, koor memang penting tapi itu nanti sajalah
sebab benarkah dia mau mati
atau cuma anggapan kita saja
bahwa dia mau mati
di waktu yang dekat ini
dengarlah dia merintih lagi
dia mengira kita tak pernah memperhatikannya
selama ini
padahal.
Kalau dia benar-benar meninggal dunia
akan kusiapkan nisan yang bagus
dari marmer atau batu
biar awet
dan akan kutulisi
ditulisi apa
namanya?
siapakah namanya
siapakah dia
tuhan!
tuhan?
Kalau dia benar-benar meninggal dunia
akan menangis jugakah kau, ribut-ribut
sedih dan berkabung
bela sungkawa
ikut berduka cita. memasang bendera setengah tiang
sabar-sabar
tenanglah
kalau dia benar-benar mati
(tapi diam-diam)
kita kawin lagi.
4 Desember 1973
Sumber: Horison (Agustus, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi "Kalau Dia Benar-Benar Meninggal Dunia" karya F. Rahardi merupakan karya yang penuh dengan kegetiran dan ambiguitas, menggambarkan tentang kematian yang tidak hanya dipandang sebagai sebuah perpisahan, tetapi juga sebagai sebuah perenungan tentang ketidakpastian hidup dan mati. Melalui kata-kata yang kasar dan gambaran yang kuat, Rahardi menggambarkan sebuah proses emosional yang berlapis dan menggugah.
Penolakan dan Keraguan dalam Kematian
Salah satu tema utama dalam puisi ini adalah ketidakpastian tentang kematian. Rahardi mengajak pembaca untuk meragukan kenyataan kematian dengan mempertanyakan apakah seseorang benar-benar meninggal dunia atau hanya sekadar sebuah anggapan.
"Kalau dia benar-benar meninggal dunia"
Frasa ini menjadi repetisi yang mengulang sepanjang puisi, menciptakan rasa keraguan. Penulis seakan bertanya kepada pembaca apakah kita benar-benar yakin bahwa seseorang yang kita anggap telah meninggal benar-benar mati. Dengan mengulang kalimat ini, Rahardi menciptakan ketegangan antara kenyataan dan persepsi, antara yang tampak dan yang sebenarnya terjadi.
Kejamnya Gambaran Kematian yang Diberikan
Dalam puisi ini, gambaran tentang kematian bukanlah gambaran yang penuh ketenangan atau kedamaian. Sebaliknya, Rahardi menggambarkan kematian dengan cara yang sangat kejam dan mengerikan, menciptakan citra yang begitu menyakitkan.
"(karena bagai perawan tua yang diperkosa / pakaiannya koyak-moyak, kemaluannya berdarah dan luka-luka / warna merah meleleh di kelangkangnya. dia merintih / dan mengerang kesakitan, batuk-batuk dan muntah di gang yang gelap)"
Gambaran ini bukan hanya kejam, tetapi juga mengarah pada ketidakberdayaan dan kerendahan. Kematian di sini digambarkan seolah-olah tidak ada martabat atau kehormatan. Penyair menggunakan bahasa yang sangat kuat untuk menonjolkan perasaan penderitaan, ketidakberdayaan, dan kekerasan yang dirasakan oleh seseorang saat menjelang kematian.
Persiapan untuk Kematian yang Tak Terelakkan
Meskipun ada keraguan mengenai apakah kematian itu benar-benar terjadi, si pembicara dalam puisi ini tetap mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kematian. Ada perasaan cemas yang mendalam, namun juga penerimaan terhadap kenyataan yang tak terhindarkan.
"aku akan pesan pada tukang-tukang menggali tanah / untuk membuat makam yang kira-kira pantas / dan pas benar dengan dia"
Meski diwarnai keraguan, ada usaha untuk menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Di sini, ada kesan bahwa kita, sebagai manusia, sering kali berusaha merespons peristiwa besar seperti kematian dengan cara yang praktis dan fungsional, meskipun tidak sepenuhnya yakin bahwa hal itu akan terjadi.
"aku akan pesan peti yang bagus / baiknya dari besi atau kayu jati / diukir-ukir indah"
Perasaan ini mengarah pada sikap pragmatis terhadap kematian, di mana segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan sempurna meskipun kita sendiri ragu akan keniscayaannya. Penyair menggambarkan tindakan persiapan ini sebagai upaya untuk menjaga citra dan martabat yang mungkin hilang saat seseorang meninggal.
Kematian dan Kehidupan yang Mengikutinya
Puisi ini juga mencatat bagaimana orang-orang di sekitar orang yang meninggal berinteraksi dengan kepergiannya. Meskipun ada kesedihan dan rasa kehilangan yang nyata, kehidupan terus berjalan, dan ketidakpedulian terhadap perasaan orang yang sudah tiada muncul sebagai kenyataan pahit.
"kalau dia benar-benar meninggal dunia / akan menangis jugakah kau, ribut-ribut / sedih dan berkabung / bela sungkawa / ikut berduka cita. memasang bendera setengah tiang / sabar-sabar / tenanglah / kalau dia benar-benar mati / (tapi diam-diam) / kita kawin lagi."
Frasa "kita kawin lagi" di akhir puisi memberikan kontras yang tajam terhadap segala upacara kesedihan yang sebelumnya digambarkan. Ini menunjukkan bagaimana kehidupan manusia bergerak terus, meskipun kematian datang. Masyarakat atau individu mungkin merasakan kehilangan sementara, tetapi kehidupan akhirnya tetap berjalan, dan bahkan tradisi atau norma sosial pun berubah seiring waktu.
Kematian sebagai Proses yang Tak Terelakkan
Puisi ini menggambarkan kematian sebagai bagian dari siklus kehidupan yang tak terhindarkan. Meskipun ada perasaan keterpaksaan dalam menghadapi kematian, ada juga penerimaan terhadap proses tersebut. Rahardi dengan gamblang menunjukkan bahwa meskipun kita berusaha sebaik mungkin untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, pada akhirnya kita tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi.
Makna Tersembunyi dalam Puisi
Puisi ini pada akhirnya mengajak pembaca untuk merenung lebih jauh tentang kematian dan kehidupan. Meskipun dipenuhi dengan gambaran yang tragis dan kasar, ada sebuah perenungan tentang ketidakpastian hidup dan mati. Rahardi tidak hanya berbicara tentang kematian sebagai sebuah akhir, tetapi juga tentang bagaimana manusia meresponsnya dengan cara yang kadang-kadang tampak tidak tulus atau penuh dengan kebiasaan sosial yang formal.
Puisi "Kalau Dia Benar-Benar Meninggal Dunia" adalah puisi yang menggugah tentang kematian, kehidupan, dan ketidakpastian. Melalui deskripsi yang sangat kuat dan penuh emosi, Rahardi tidak hanya menggambarkan kesedihan dan kepergian, tetapi juga keraguan dan ketidakberdayaan dalam menghadapi kenyataan tersebut. Dalam kesakitan dan kegetiran, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan betapa hidup dan mati adalah dua sisi yang tak bisa dipisahkan, serta bagaimana manusia harus belajar menerima kenyataan ini meskipun dengan cara yang sering kali penuh dengan keraguan.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
