Puisi: La Condition Humaine (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "La Condition Humaine" karya Gunoto Saparie adalah sebuah refleksi mendalam tentang kondisi manusia yang terjebak dalam pencarian makna hidup ..
La Condition Humaine

siapakah sebenarnya kita?
sendirian mengarungi lautan
tak punya siapa-siapa dan apa-apa
tak punya harapan meski jauh berjalan

mungkin kita bisa menyanyi 
mungkin kita bisa berpuisi
namun bukankah segalanya sia-sia
saat di ujung jalan maut menunggu kita?

kita tak tahu ke mana akan pulang
filsafat dan agama kehilangan pesona
kita bergegas menembus kabut rahasia
ayat-ayat tuhan hanya remang-remang

siapakah sesungguhnya kita?
meraba dengan mata rabun
menyimak dengan wajah ngungun
tak sanggup menafsirkan firmannya

siapakah sebenarnya engkau, tuhan?
menyeretku dari kesepian ke kesepian
setelah adam-hawa tersesat di hutan
syahwat pun meronta memetik buah larangan

2021

Catatan:
La Condition Humaine = Nasib Manusia.

Analisis Puisi:

Puisi "La Condition Humaine" karya Gunoto Saparie menggali tema tentang kondisi manusia yang terperangkap dalam pencarian makna hidup yang tidak pasti. Dengan bahasa yang filosofis dan penuh keraguan, puisi ini menggambarkan ketidakpastian, kesepian, dan keterasingan yang dihadapi manusia dalam perjalanan hidupnya. Dalam puisi ini, Saparie tidak hanya menanyakan tentang siapa kita sebagai individu, tetapi juga tentang hubungan kita dengan Tuhan, takdir, dan esensi kehidupan itu sendiri.

Siapakah Kita? - Pertanyaan Eksistensial yang Tak Terjawab

Puisi ini dimulai dengan sebuah pertanyaan yang fundamental dan universal: "siapakah sebenarnya kita?" Pertanyaan ini membawa pembaca pada pencarian tentang identitas manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk dalam konteks yang lebih besar. Saparie menggambarkan kita sebagai individu yang "sendirian mengarungi lautan," sebuah metafora untuk kehidupan yang terasa sepi dan terasing, seperti mengarungi samudra tanpa tujuan yang jelas. Tidak ada yang pasti dalam perjalanan ini—"tak punya siapa-siapa dan apa-apa"—menggambarkan perasaan kekosongan dan ketidakberdayaan yang sering kali muncul ketika seseorang menghadapi kenyataan bahwa hidup itu penuh dengan ketidakpastian.

Pernyataan ini menyoroti kondisi manusia yang terjebak dalam pergulatan batin antara pencarian makna hidup dan kenyataan akan keterbatasannya. Meskipun kita memiliki kemampuan untuk "menyanyi" atau "berpuisi," dua bentuk ekspresi artistik dan kreatif, puisi ini mempertanyakan makna dari semua itu: "bukankah segalanya sia-sia saat di ujung jalan maut menunggu kita?" Ini adalah refleksi tentang kefanaan hidup, di mana segala pencapaian dan usaha kita terasa tidak berarti saat maut mengintai di ujung jalan.

Ketidakpastian dan Kehilangan Makna - Filsafat dan Agama yang Tak Lagi Menyentuh

Sebagai bagian dari pencarian eksistensial, puisi ini melanjutkan dengan menggambarkan bagaimana kita bergegas menembus "kabut rahasia," berusaha memahami kehidupan yang penuh teka-teki. Namun, dalam pencarian ini, kita mengalami kehilangan orientasi. "Filsafat dan agama kehilangan pesona," kalimat ini menggambarkan bagaimana konsep-konsep besar yang seharusnya memberikan pencerahan bagi umat manusia, kini tampak redup dan tidak lagi mampu memberikan jawaban yang memadai. Baik filsafat yang seharusnya membawa pencerahan intelektual, maupun agama yang diharapkan memberikan kepastian moral dan spiritual, tampak tak berdaya dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh keraguan dan ketidakpastian.

Gambaran "ayat-ayat Tuhan hanya remang-remang" juga memperkuat kesan ketidakjelasan tersebut. Tuhan yang seharusnya menjadi sumber pencerahan dan kekuatan kini tampak jauh dan samar, seperti cahaya yang remang-remang, sulit dijangkau dan dipahami. Ini menimbulkan perasaan keterasingan dan kesepian yang semakin mendalam bagi pencari makna hidup.

Perjalanan Menuju Ketidakpastian - Meraba dalam Kegelapan

Salah satu tema sentral dalam puisi ini adalah rasa kehilangan dan keterbatasan manusia dalam mencari pemahaman yang lebih tinggi. "Meraba dengan mata rabun," menggambarkan manusia yang berusaha memahami dunia dan dirinya sendiri, tetapi terhalang oleh keterbatasan indera dan akal. Manusia berusaha memahami Tuhan dan kehidupan, namun sering kali gagal untuk melihat dengan jelas apa yang ada di depan mereka. Puisi ini menggambarkan manusia sebagai sosok yang "menyimak dengan wajah ngungun," atau terkesan bingung dan tidak bisa mengerti. Ini mengisyaratkan betapa sulitnya bagi manusia untuk menangkap makna hidup yang lebih dalam, yang sering kali terbungkus dalam kebingungan dan kegelapan batin.

Pertanyaan tentang Tuhan - Pencarian Akan Tuhan yang Menyakitkan

Pada bagian akhir, puisi ini menyentuh sebuah pertanyaan besar tentang Tuhan, yang juga menjadi bagian dari pencarian eksistensial manusia. "Siapakah sebenarnya engkau, Tuhan?" Ini adalah pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak mereka yang mengalami penderitaan, kebingungan, dan rasa keterasingan. Tuhan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan sumber kekuatan, dalam puisi ini tampak mengundang keraguan dan kebingungan. Dalam pencarian makna hidup, pertanyaan tentang Tuhan sering kali muncul, terutama ketika seseorang merasa terjerat dalam kesepian dan ketidakpastian.

Selain itu, puisi ini mengangkat kisah asal-usul manusia melalui referensi "setelah Adam-Hawa tersesat di hutan." Menurut mitologi, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, namun mereka terperangkap dalam dosa dan kesalahan setelah memetik buah larangan. Puisi ini menyiratkan bahwa manusia, sejak awal penciptaannya, telah terperangkap dalam siklus kesalahan, nafsu, dan keraguan. "Syahwat pun meronta memetik buah larangan," menggambarkan bahwa nafsu dan keinginan manusia sering kali membawa mereka pada jalan yang sesat, meskipun mereka tahu ada batasan yang harus dipatuhi.

Puisi "La Condition Humaine" karya Gunoto Saparie adalah sebuah refleksi mendalam tentang kondisi manusia yang terjebak dalam pencarian makna hidup yang penuh ketidakpastian. Melalui pertanyaan-pertanyaan filosofis dan gambaran ketidakpastian, puisi ini menggambarkan bagaimana manusia merasa terasing, bingung, dan kadang kehilangan arah. Filsafat dan agama, yang seharusnya memberikan pencerahan, kini tampak tak lagi mampu menjawab keraguan dan pencarian batin yang mendalam.

Puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan manusia dengan Tuhan, yang dalam banyak hal terasa jauh dan penuh misteri. Namun, meskipun manusia meraba dalam kegelapan, puisi ini mengingatkan kita bahwa pencarian makna hidup adalah proses yang tak pernah selesai, dan sering kali kita harus menghadapi ketidakpastian dengan penuh kerendahan hati.

Akhirnya, puisi "La Condition Humaine" mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi manusia yang terbatas, terasing, dan terus mencari dalam perjalanan yang tak pasti, namun tetap terus bertanya, mencari, dan berharap meskipun berada dalam ketidakpastian.

Puisi: La Condition Humaine
Puisi: La Condition Humaine
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.