Puisi: Perumput Merapi (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi "Perumput Merapi" karya Iman Budhi Santosa mengangkat tema kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam, serta mengkritik cara pandang ...
Perumput Merapi

Ketika pagi berbagi rumput di batas hutan konservasi
tak terbaca bekas luka dan pijar lava
di sekujur tubuhnya yang merambat tua
dan hanya tersenyum waktu seekor kepodang
menjatuhkan kotorannya tepat di kepala
karena Merapi rumah bersama di alam nyata

"Mengapa mereka lebih mengabdi pada sapi
dan kambing etawa? Lebih mencintai sepi
daripada gemerlap kota raja?" Tulis seorang peneliti
berbekal buku dan selalu bersepatu
tak pernah menginjak tanah
saat merunut jejak tapak sejarah
yang tertera pada kawasan vegetasi rendah

Maka, ia pun terkejut ketika seekor ular menyelinap
di antara selangkangan seorang perumput
dan si ular hanya dibiarkan melata entah ke mana
entah akan berburu katak atau sekadar tamasya
entah mencari pasangan atau kembali ke habitatnya

Di bawah pohon puspa akademisi muda itu tertegun.
Di lereng Merapi, berhadapan petak-petak zonasi
ternyata rumput dapat menjelma puisi
sedangkan rumus dan teori literasi
tak ubahnya capung yang beterbangan kian-kemari
hinggap sejenak pada reranting musim kemudian pergi
sesuai arah pikiran yang dirancang
dan jarang sekali membumi

2018

Sumber: Cincin Api (2019)

Analisis Puisi:

Puisi "Perumput Merapi" karya Iman Budhi Santosa mengangkat tema kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam, serta mengkritik cara pandang yang sering terpisah antara dunia ilmiah dan kehidupan sehari-hari. Dengan latar belakang Gunung Merapi, puisi ini menggambarkan pertemuan antara alam yang liar, penuh dengan keindahan dan ancaman, dengan manusia yang bertindak sebagai penjaga dan pengamat. Iman Budhi Santosa menggunakan simbolisme dan narasi yang kaya untuk menyampaikan pesan tentang ketidakharmonisan antara alam dan dunia akademis atau intelektual.

Simbolisme Alam dan Kehidupan Manusia

Dalam puisi ini, Gunung Merapi bukan hanya sekadar latar tempat, tetapi juga sebuah simbol dari kekuatan alam yang tak terduga. Gunung ini, dengan segala potensi letusannya yang dahsyat, menjadi rumah bersama bagi berbagai makhluk hidup. Namun, dalam narasi puisi ini, kehidupan di sekitar Merapi tidak hanya diwarnai dengan ancaman bahaya, tetapi juga dengan ketenangan dan siklus kehidupan yang berlangsung dalam keharmonisan alam.

"Ketika pagi berbagi rumput di batas hutan konservasi tak terbaca bekas luka dan pijar lava di sekujur tubuhnya yang merambat tua"

Kalimat ini menggambarkan Merapi sebagai tempat yang secara fisik membawa bekas luka dari letusan-letusan sebelumnya, namun di sisi lain, ia tetap menawarkan kehidupan yang subur dan alami. Pagi membawa kesegaran dan kehidupan baru, yang disimbolkan dengan "rumput" yang tumbuh di batas hutan konservasi. Ini adalah penggambaran tentang bagaimana alam terus bergerak maju, meskipun bekas luka masa lalu tetap ada.

"Dan hanya tersenyum waktu seekor kepodang menjatuhkan kotorannya tepat di kepala"

Simbol kepodang yang jatuh dengan kotorannya mengandung makna bahwa kehidupan terus berlangsung dengan cara yang tidak selalu dapat dikendalikan atau diprediksi. Alam tidak terbebani oleh sejarah atau kecemasan manusia; ia bergerak dengan cara yang alami, kadang memberi berkah, kadang memberi hal-hal yang mungkin tidak menyenangkan, seperti kotoran yang jatuh pada kepala.

Kritik terhadap Pandangan Akademis dan Intelektual

Puisi ini juga menggambarkan ketegangan antara pandangan dunia akademis yang terpisah dari kenyataan dan kehidupan di lapangan. Tokoh akademisi yang disebutkan dalam puisi ini adalah simbol dari dunia ilmiah yang lebih memilih kenyamanan dan kebersihan dalam berpikir, tetapi kurang menyentuh dan menghargai keindahan serta kompleksitas kehidupan sehari-hari di alam.

"Mengapa mereka lebih mengabdi pada sapi dan kambing etawa? Lebih mencintai sepi daripada gemerlap kota raja?"

Pertanyaan ini mencerminkan kebingungan atau bahkan kritik terhadap cara hidup orang-orang yang lebih memilih hewan ternak dan kehidupan pedesaan yang sepi, daripada mengejar kemewahan kota besar. Di sini, Iman Budhi Santosa menyiratkan bahwa ada nilai yang lebih dalam dalam kehidupan yang sederhana dan harmonis dengan alam, yang sering kali diabaikan oleh dunia akademis yang terlalu terfokus pada teori dan angka.

"Tulis seorang peneliti berbekal buku dan selalu bersepatu tak pernah menginjak tanah"

Bagian ini sangat menggambarkan pemisahan antara dunia nyata dan dunia intelektual. Peneliti yang berbekal buku, yang tidak pernah "menginjakan tanah," menggambarkan ketidakmampuan untuk benar-benar memahami dan merasakan kehidupan yang ada di lapangan. Ia hanya melihat dari luar, tanpa terlibat langsung dalam realitas yang terjadi.

Interaksi Alam dengan Kehidupan Manusia: Keberagaman dan Kebebasan

Salah satu momen yang sangat mencolok dalam puisi ini adalah ketika seekor ular melintas di antara selangkangan seorang perumput, dan si perumput membiarkan ular itu melata tanpa ada intervensi. Ini menggambarkan sikap menerima kehidupan alam secara utuh, tanpa rasa takut atau intervensi berlebihan dari manusia. Alam memiliki jalannya sendiri, dan manusia hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan tersebut.

"Maka, ia pun terkejut ketika seekor ular menyelinap di antara selangkangan seorang perumput dan si ular hanya dibiarkan melata entah ke mana entah akan berburu katak atau sekadar tamasya"

Ular, yang mungkin dianggap menakutkan oleh banyak orang, di sini diizinkan untuk bebas bergerak dan melanjutkan hidupnya. Ini adalah simbol dari kebebasan dan keberagaman kehidupan di alam, yang tidak dapat dikendalikan atau dipahami sepenuhnya oleh manusia. Keberagaman ini adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar, di mana setiap makhluk hidup memiliki peranannya sendiri.

Rumput sebagai Puisi: Keterhubungan dengan Alam

Bagian terakhir puisi ini, "ternyata rumput dapat menjelma puisi sedangkan rumus dan teori literasi tak ubahnya capung yang beterbangan kian kemari", memberikan kesan yang sangat mendalam. Di sini, rumput yang tumbuh di lereng Merapi digambarkan sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar tanaman; ia menjelma menjadi puisi. Ini mengisyaratkan bahwa alam itu sendiri adalah sebuah karya seni yang penuh makna, yang lebih dalam dari sekadar angka-angka atau rumus teori.

Puisi ini mengkritik cara dunia ilmiah yang terlalu fokus pada teori dan angka, yang kadang-kadang mengabaikan keindahan alam dan kehidupan yang tak terkatakan. Rumus dan teori dianggap sebagai sesuatu yang hanya berputar-putar dan tidak membumi, seperti capung yang terbang tanpa tujuan yang jelas.

Puisi "Perumput Merapi" karya Iman Budhi Santosa mengajak kita untuk menghargai alam dan kehidupan sederhana yang sering kali diabaikan oleh dunia modern dan akademis. Melalui penggunaan simbolisme yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat kembali hubungan kita dengan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan dengan lingkungan sekitar. Alam, dengan segala keindahan dan keberagamannya, bukan hanya menjadi latar belakang kehidupan, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan puisi yang tak terucapkan.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Perumput Merapi
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.