Puisi: Sajak Akhir Mei (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Sajak Akhir Mei" menggabungkan keindahan alam dengan pemikiran mendalam tentang waktu dan eksistensi manusia. Gaya bahasa yang digunakan ...
Sajak Akhir Mei

ini ternyata akhir bulan mei 
ketika bunga sepatu di halaman mekar
ketika kemarau pun bangkit sepi
dan dingin angin menyusup pagar

aku tahu, bulan belum sepenuhnya bundar
ketika malam pun susut dalam ruang
ketika sayup matamu bagaikan kerdip bintang
bayang-bayang pepohonan jelaga benar

ini ternyata sebentar lagi bulan juni
ketika langit luas hening meditasi
barangkali aku hanya arus sungai
dengan jiwa luka pedih tak terperi

2023

Analisis Puisi:

Puisi "Sajak Akhir Mei" karya Gunoto Saparie membawa pembaca ke dalam suasana akhir bulan Mei dengan sentuhan keindahan alam dan refleksi mendalam terhadap perjalanan waktu. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisi ini mengundang pembaca untuk merenung tentang perubahan musim dan perasaan yang melingkupi akhir bulan Mei.

Deskripsi Alam: Puisi ini diawali dengan deskripsi alam, terutama bunga sepatu yang mekar dan angin yang menyusup pagar. Gambaran alam tersebut menciptakan suasana dan menggambarkan perubahan musim dari akhir Mei menuju musim kemarau.

Penyampaian Perasaan: Penyair menggunakan bahasa yang sederhana namun penuh nuansa untuk menyampaikan perasaannya. Pada bagian kedua, ia menggambarkan malam yang sayup dan matanya yang seperti kerdip bintang, menciptakan atmosfer romantis dan misterius.

Pergantian Bulan dan Waktu: Puisi ini menggambarkan transisi dari akhir Mei menuju bulan Juni, merujuk pada langit yang luas dan hening sebagai meditasi. Pergantian bulan dan waktu menjadi simbol perjalanan hidup dan konsep keabadian.

Pemikiran Filosofis: Terdapat unsur pemikiran filosofis dalam puisi ini, terutama dalam baris terakhir yang menyiratkan ketidakpastian hidup. Pemikiran bahwa pembaca hanya seperti arus sungai dengan jiwa yang luka pedih tak terperi menciptakan kesan reflektif tentang keadaan manusia di dunia.

Keterbatasan dan Keabadian: Bahasa puisi mencerminkan pemahaman tentang keterbatasan manusia di hadapan perubahan waktu dan musim. Meskipun begitu, ada nuansa harapan keabadian dalam meditasi dan pemandangan langit yang luas.

Imaji dan Metafora: Puisi ini menggunakan imaji-imaji yang kuat seperti "matamu bagaikan kerdip bintang" dan "bayang-bayang pepohonan jelaga" untuk menggambarkan keindahan dan misteri malam.

Suasana Romantis dan Melankolis: Puisi ini memancarkan suasana romantis dengan gambaran malam yang sayup dan matanya yang berkedip-kedip seperti bintang. Namun, terdapat juga elemen melankolis yang terasa dalam deskripsi jiwa yang luka pedih.

Pesan dan Makna: Pesan yang ingin disampaikan mungkin berkaitan dengan ketidakpastian hidup dan keindahan dalam perubahan alam. Puisi ini bisa diartikan sebagai sebuah refleksi tentang keabadian jiwa di tengah-tengah keterbatasan waktu.

Puisi "Sajak Akhir Mei" menggabungkan keindahan alam dengan pemikiran mendalam tentang waktu dan eksistensi manusia. Gaya bahasa yang digunakan menciptakan suasana yang romantis dan melankolis, sementara elemen filosofis menambah kedalaman pada makna puisi ini. Gunoto Saparie berhasil mengajak pembaca merenung tentang perubahan musim, waktu, dan hakikat hidup.

Gunoto Saparie
Puisi: Sajak Akhir Mei
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:
Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.