Puisi: Dikantongi oleh Tuhan (Karya Bung Karno)

Puisi "Dikantongi oleh Tuhan" karya Bung Karno merupakan refleksi mendalam tentang asal-usul manusia, kehendak Tuhan dalam menentukan hidup, serta ...

Dikantongi oleh Tuhan


Tatkala ibumu masih perawan
bapak masih perjaka
Lantas kita menjawab
"Yah, kami waktu itu dikantongi Tuhan
Dikantongi oleh Tuhan."

Maka pada satu saat Tuhan ini
ingin meng-gumelar-kan kita ke dunia
Bagaimana caranya
apa diambil kantong Tuhan
Kemudian ... dijatuhkan dari langit?
Tidak!
Tuhan lantas menjodohkan
Seorang pria dan seorang wanita
Tuhan yang menjodohkan

Saya tempo hari berkata
jodoh itu adalah hak Tuhan
Mati hak Tuhan
Jodoh hak Tuhan
Lahir hak Tuhan
Tuhan menjodohkan seorang pria dan seorang wanita

Pria dan wanita ini kataku
jadikan dapur dari Tuhan
Dapur untuk meng-gumelar-kan kita di dunia

Nah, kita diprocotkan tidak di langit
tidak di laut
tetapi diprocotkan di tanah air ini
Yang dari tanah air inilah kita, saudara-saudara
dapat makanan
yang dari tanah air inilah
kita dapat minuman
yang dari tanah air inilah
kita menghirup hawanya yang segar

Pendek kata
tanah airlah tempat kita
dari masih bayi merah itu
tumbuh menjadi manusia yang dewasa sekarang
karena itu maka lantas aku mengambil konklusi
hai, manusia, cintailah Tuhan
yang dulu mengantongi engkau
Cintailah ibu-bapakmu
dapur yang dibuat Tuhan
untuk meng-gumelar-kan engkau
Cintailah tanah air yang di tempat itu
engkau dapat minum, makan dan lain sebagainya

Sumber: Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno (2002)

Catatan:
Buku Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno (2002) dihimpun oleh Maman S. Tegeg. Maman merangkai tulisan-tulisan (termasuk pidato) karya Bung Karno (yang dikutip dari berbagai sumber) menjadi bentuk sajak/puisi.

Analisis Puisi:

Puisi "Dikantongi oleh Tuhan" karya Bung Karno merupakan refleksi mendalam tentang asal-usul manusia, kehendak Tuhan dalam menentukan hidup, serta pentingnya cinta kepada Tuhan, orang tua, dan tanah air.

Tema Puisi

Puisi ini mengangkat beberapa tema utama, antara lain:
  1. Takdir Ilahi – Puisi ini menegaskan bahwa segala sesuatu dalam kehidupan manusia—kelahiran, jodoh, dan kematian—merupakan hak Tuhan.
  2. Rasa Syukur kepada Tuhan – Bung Karno menekankan bahwa manusia harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan dan menempatkan mereka di dunia.
  3. Cinta kepada Orang Tua – Orang tua disebut sebagai "dapur yang dibuat Tuhan" untuk melahirkan manusia, sehingga anak-anak wajib menghormati dan mencintai mereka.
  4. Nasionalisme dan Kecintaan terhadap Tanah Air – Tanah air adalah tempat manusia lahir, tumbuh, dan mendapatkan kehidupan, sehingga harus dijaga dan dicintai.

Makna Puisi

Puisi ini memiliki makna yang mendalam tentang eksistensi manusia dan hubungan antara individu dengan Tuhan, orang tua, serta tanah airnya.

"Tatkala ibumu masih perawan / bapak masih perjaka / Lantas kita menjawab / 'Yah, kami waktu itu dikantongi Tuhan.'"

Menggambarkan bahwa sebelum manusia lahir, mereka masih berada dalam kuasa Tuhan, menunggu waktu untuk diturunkan ke dunia.

"Maka pada satu saat Tuhan ini / ingin meng-gumelar-kan kita ke dunia"

Kata "gumelar" berarti melahirkan atau menampakkan. Ini menunjukkan bahwa kelahiran manusia adalah kehendak Tuhan.

"Tuhan lantas menjodohkan / Seorang pria dan seorang wanita / Tuhan yang menjodohkan"

Menekankan bahwa pernikahan dan jodoh adalah bagian dari rencana Tuhan.

"Nah, kita diprocotkan tidak di langit / tidak di laut / tetapi diprocotkan di tanah air ini"

Kata "diprocotkan" berarti dilahirkan. Bung Karno ingin menegaskan bahwa manusia lahir di tanah air tertentu, yang kemudian menjadi bagian dari identitas mereka.

"Cintailah Tuhan yang dulu mengantongi engkau / Cintailah ibu-bapakmu / dapur yang dibuat Tuhan / untuk meng-gumelar-kan engkau"

Mengajak pembaca untuk mencintai Tuhan, orang tua, dan tanah air sebagai bentuk penghormatan atas asal-usul mereka.

Makna Tersirat

Selain makna eksplisit yang disampaikan, puisi ini juga mengandung beberapa makna tersirat, antara lain:
  1. Manusia Tidak Bisa Memilih Takdirnya – Sejak awal, manusia sudah berada dalam "kantong Tuhan," yang berarti mereka tidak bisa memilih kapan atau di mana mereka akan dilahirkan.
  2. Hubungan Manusia dengan Lingkungannya – Tanah air bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.
  3. Kewajiban untuk Bersyukur dan Berbakti – Manusia harus mensyukuri kehidupan yang diberikan Tuhan dan berbakti kepada orang tua yang telah melahirkan mereka.
  4. Pesan Nasionalisme – Bung Karno secara halus mengajarkan cinta terhadap tanah air, menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa tanah airnya.
Puisi ini bercerita tentang asal-usul manusia dan peran Tuhan dalam menentukan kehidupan mereka. Melalui metafora sederhana, Bung Karno menjelaskan bagaimana manusia berasal dari kehendak Tuhan, lahir dari rahim ibu berkat jodoh yang ditentukan Tuhan, serta tumbuh di tanah air yang harus mereka cintai.

Dengan gaya bahasa khas orator, Bung Karno menyampaikan pesan bahwa manusia harus selalu mengingat asal-usul mereka, mencintai Tuhan, menghormati orang tua, dan berbakti kepada tanah air. Pesan ini memiliki nilai spiritual sekaligus nasionalisme yang kuat.

Ir. Soekarno
Puisi: Dikantongi oleh Tuhan
Karya: Bung Karno

Biodata Bung Karno/Ir. Soekarno:
  • Ir. Soekarno (EYD: Sukarno) merupakan Presiden Indonesia (1945-1967).
  • Ir. Soekarno, sering disapa Bung Karno, lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Soerabaja, Oost Java, Hindia Belanda.
  • Ir. Soekarno meninggal dunia karena gangguan ginjal pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.