Puisi: Eksekusi 1983 (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi "Eksekusi 1983" karya Iman Budhi Santosa adalah refleksi mendalam tentang ketakutan, kepasrahan, dan ketidakadilan dalam menghadapi kematian.
Eksekusi 1983

Seperti menjerit
ia memberi aba-aba
satu kopi pahit.
Tapi sejam kemudian belum juga disentuhnya,
sibuk berlindung dari bayang-bayang toples
perempuan warung yang kenes, poster dan kalender
dan siang pada gelas es

"Malam nanti, aku mati," desahnya
dengan nafas amis tembaga
seperti ada jarum, melintang
di tenggorokannya

Lalu ia meremas
selembar uang kertas
membenamkannya ke dalam kopi
Lantas berdiri. "Besok sediakan kopi manis,
ingat, satu kopi manis, di sini
dan hitung hutangku selama ini. Mengerti?!" katanya
sambil menancapkan sangkur telanjang di atas meja

Tiga lelaki berseragam
seperti muncul dari angan-angan
tiba-tiba sudah di pintu
dan berseru: "Jarot, kami diperintahkan menjemputmu!"

1983

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi "Eksekusi 1983" karya Iman Budhi Santosa merupakan salah satu puisi yang menggambarkan situasi menjelang eksekusi mati seorang narapidana. Melalui diksi yang kuat dan atmosfer yang suram, puisi ini menyampaikan ketegangan dan kepasrahan tokoh utama dalam menghadapi ajal.

Latar Belakang dan Konteks

Judul puisi ini, Eksekusi 1983, merujuk pada suatu peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut. Tahun 1983 di Indonesia dikenal dengan kebijakan Petrus (Penembakan Misterius), sebuah operasi keamanan yang bertujuan menumpas kriminalitas dengan cara eksekusi mati tanpa pengadilan. Banyak spekulasi bahwa puisi ini terinspirasi dari kebijakan tersebut, menggambarkan seorang terpidana yang menanti ajalnya dengan getir.

Struktur dan Makna Puisi

Ketegangan dan Kepasrahan

Seperti menjerit
ia memberi aba-aba
satu kopi pahit.
Tapi sejam kemudian belum juga disentuhnya,
sibuk berlindung dari bayang-bayang toples
perempuan warung yang kenes, poster dan kalender
dan siang pada gelas es

Puisi ini diawali dengan gambaran seseorang yang meminta secangkir kopi pahit tetapi tidak segera meminumnya. Kopi pahit di sini bisa menjadi simbol dari kepahitan hidup yang harus ia telan. Ia tampak gelisah, mencoba mencari perlindungan dari benda-benda di sekitarnya—toples, perempuan warung, poster, kalender, dan siang pada gelas es. Ini menunjukkan bahwa pikirannya terganggu oleh bayang-bayang kematian yang semakin dekat.

Keputusasaan dan Kesadaran Akan Kematian

"Malam nanti, aku mati," desahnya
dengan nafas amis tembaga
seperti ada jarum, melintang 
di tenggorokannya

Tokoh dalam puisi ini dengan jelas menyadari nasibnya. Ungkapan "Malam nanti, aku mati" menggambarkan kepasrahannya, sementara "nafas amis tembaga" bisa diinterpretasikan sebagai rasa logam di mulut, simbol dari darah atau kematian yang sudah dekat. Perasaan tersedak, yang diibaratkan dengan "seperti ada jarum, melintang di tenggorokannya", menunjukkan ketakutan dan tekanan mental yang ia rasakan.

Kemarahan dan Pemberontakan Terakhir

Lalu ia meremas 
selembar uang kertas
membenamkannya ke dalam kopi
Lantas berdiri. "Besok sediakan kopi manis,
ingat, satu kopi manis, di sini 
dan hitung hutangku selama ini. Mengerti?!" katanya
sambil menancapkan sangkur telanjang di atas meja

Tindakan meremas uang dan mencelupkannya ke kopi bisa diartikan sebagai bentuk keputusasaan atau penolakan terhadap sistem yang telah menghukumnya. Ia menyampaikan pesan bahwa esok ia ingin kopi manis, yang bisa bermakna harapan akan sesuatu yang lebih baik setelah kematiannya.

Tindakan menancapkan sangkur di meja menjadi simbol perlawanan terakhirnya. Meski tahu ia tidak bisa melawan takdir, ia tetap ingin menunjukkan keberanian di hadapan kematian.

Eksekusi yang Tak Terelakkan

Tiga lelaki berseragam
seperti muncul dari angan-angan
tiba-tiba sudah di pintu
dan berseru: "Jarot, kami diperintahkan menjemputmu!"

Bagian terakhir puisi ini menjadi klimaks dari keseluruhan cerita. Tiga lelaki berseragam, yang kemungkinan adalah petugas eksekusi, datang menjemputnya. Nama Jarot yang disebutkan bisa jadi mewakili sosok kriminal yang menjadi korban kebijakan Petrus atau seorang tahanan politik yang dieksekusi tanpa pengadilan.

Tema dan Simbolisme dalam Puisi

Puisi "Eksekusi 1983" sarat dengan simbolisme yang menggambarkan kepasrahan, ketakutan, dan ketidakadilan. Beberapa tema utama dalam puisi ini meliputi:
  1. Ketakutan terhadap kematian → Digambarkan melalui gestur tokoh yang gelisah, tidak menyentuh kopi, dan merasa ada jarum di tenggorokannya.
  2. Ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan → Eksekusi yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa adanya kejelasan hukum.
  3. Pemberontakan terakhir sebelum mati → Simbol sangkur yang ditancapkan ke meja menunjukkan keberanian seseorang yang tak lagi memiliki harapan.
  4. Harapan akan kehidupan setelah mati → Permintaan untuk kopi manis bisa diartikan sebagai harapan akan kedamaian setelah kematian.
Puisi "Eksekusi 1983" karya Iman Budhi Santosa adalah refleksi mendalam tentang ketakutan, kepasrahan, dan ketidakadilan dalam menghadapi kematian. Dengan gaya bahasa yang lugas namun penuh makna, puisi ini berhasil membangun atmosfer yang mencekam dan penuh emosi.

Melalui kisah seorang pria yang menunggu eksekusinya, puisi ini bukan hanya berbicara tentang satu individu, tetapi juga tentang banyak jiwa yang menjadi korban kebijakan represif di masa lalu. Dengan demikian, puisi ini bukan sekadar puisi kematian, melainkan juga puisi tentang perlawanan, kepasrahan, dan keinginan untuk tetap dikenang.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Eksekusi 1983
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.