Puisi: Masih Percaya? (Karya Aspar Paturusi)

Puisi "Masih Percaya?" karya Aspar Paturusi bercerita tentang hilangnya rasa percaya masyarakat terhadap pemimpin dan institusi-institusi resmi.
Masih Percaya?

sejarah bersaksi
rasa percaya meleleh
dari gedung-gedung
dari kantor-kantor
dari bingkai-bingkai
dari mimbar-mimbar
dari pidato
dari slogan
dari janji-janji

sikap percaya
telah terkubur
dalam-dalam
telah musnah
dilalap serakah
telah terbakar
api amarah

semula mereka jaga
dari hati tulus
dari nurani jernih
namun mereka saksikan
para pemegang amanah
lewat segala pola tingkah
tanpa rasa malu lagi
di tengah arena terbuka
ramai-ramai hianati sumpah
janji-janji pun terabaikan

ketika percaya sudah melayang
saling curiga tumbuh subur
orang-orang berlomba-lomba
meraih apa saja
mengorek apa saja
menggali sekuatnya
menimbun sebanyaknya
melarikan semuanya
tak peduli siapa empunya
milik sah orang lain
milik resmi negara
milik sejarah
diraup sepuasnya
halal tak halal
sudah beku
membatu

masihkah dapat kita temukan
di kolong langit nusantara
hurup besar memahat kata:
aku percaya kamu!

Jakarta, 29 September 2011

Analisis Puisi:

Tema utama puisi "Masih Percaya?" adalah krisis kepercayaan terhadap pemimpin dan rusaknya moralitas di ranah kekuasaan. Puisi ini mengangkat isu tentang hilangnya rasa percaya rakyat terhadap pemegang amanah, yaitu para pemimpin, politisi, dan pejabat yang seharusnya menjaga sumpah dan janji mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kepercayaan publik adalah fondasi utama dalam membangun bangsa yang sehat, tetapi sayangnya fondasi tersebut sudah lapuk akibat ulah para penguasa yang berkhianat pada janji-janjinya sendiri.

Puisi ini ingin menyampaikan bahwa ketika kepercayaan hancur, masyarakat akan hidup dalam kecurigaan, saling tidak percaya, dan berlomba-lomba mengejar kepentingan pribadi. Ini adalah gambaran dari masyarakat yang sakit akibat teladan buruk dari para pemimpinnya.

Puisi ini bercerita tentang hilangnya rasa percaya masyarakat terhadap pemimpin dan institusi-institusi resmi. Pada awalnya, rakyat percaya pada pidato, slogan, janji-janji, karena mengira semua itu lahir dari hati yang tulus dan nurani yang jernih. Namun, realitas menunjukkan bahwa janji hanyalah basa-basi, karena para pemegang amanah mengkhianati sumpahnya secara terang-terangan.

Ketika kepercayaan itu lenyap, lahir budaya saling curiga dan masyarakat pun ikut berlomba-lomba merampas hak orang lain. Ketidakjujuran, korupsi, dan ketidakpedulian tumbuh subur, karena kepercayaan kolektif telah musnah.

Suasana dalam Puisi

Puisi ini menghadirkan suasana pesimis, muram, dan penuh kekecewaan. Ada rasa kemarahan dan keputusasaan yang mengalir dalam setiap larik, mencerminkan frustrasi rakyat terhadap kondisi moralitas elite dan sistem yang rusak. Meski begitu, di akhir puisi, ada pertanyaan reflektif yang menyiratkan harapan yang nyaris padam: Apakah kita masih bisa percaya satu sama lain?

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan bahwa kepercayaan adalah aset berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kepercayaan hancur, maka masyarakat akan terpecah, penuh curiga, dan saling menjatuhkan demi kepentingan diri sendiri.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa para pemimpin harus menjaga amanah dengan tulus dan jujur, karena rakyat menaruh harapan besar pada janji-janji mereka. Pengkhianatan terhadap amanah bukan hanya melukai hati rakyat, tetapi juga merusak moral bangsa secara keseluruhan.

Imaji

Beberapa imaji kuat yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Imaji visual: rasa percaya yang meleleh dari gedung-gedung, kantor-kantor, hingga mimbar-mimbar.
  • Imaji aktivitas: orang-orang berlomba-lomba meraih, mengorek, menggali, dan menimbun apa saja yang bisa diambil.
  • Imaji suasana: arena terbuka di mana semua orang menyaksikan para pemimpin mengkhianati sumpah mereka secara terang-terangan.

Majas

Majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “percaya meleleh” menggambarkan hilangnya kepercayaan secara perlahan namun pasti.
  • Personifikasi: percaya digambarkan meleleh, terkubur, musnah, dilalap serakah, dan terbakar api amarah.
  • Hiperbola: penggambaran kerakusan para pemimpin yang melarikan semuanya tanpa peduli halal atau haram.
  • Ironi: janji-janji yang semula sakral berubah menjadi bahan olok-olok karena tak pernah ditepati.
  • Pertanyaan Retoris: “masihkah dapat kita temukan di kolong langit nusantara hurup besar memahat kata: aku percaya kamu?”
Puisi "Masih Percaya?" karya Aspar Paturusi adalah potret kelam relasi antara rakyat dan pemimpin di Indonesia. Lewat kritik tajam dan bahasa yang lugas, puisi ini menggambarkan kepercayaan yang runtuh akibat pengkhianatan kolektif dari para elite. Di tengah ironi dan pesimisme itu, tersisa satu pertanyaan reflektif: Apakah kita masih bisa percaya satu sama lain?

Puisi ini bukan hanya kritik politik, tetapi juga cermin bagi kita semua, bahwa memelihara kepercayaan adalah tanggung jawab bersama, baik rakyat maupun pemimpinnya.

Aspar Paturusi
Puisi: Masih Percaya?
Karya: Aspar Paturusi

Biodata Aspar Paturusi:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.