Puisi: Masjid Baiturrahman, Semarang (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Masjid Baiturrahman, Semarang" karya Gunoto Saparie mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan, mendekatkan diri kepada Allah, serta ...
Masjid Baiturrahman, Semarang

seusai salat subuh
jari-jari pun meniti tasbih
tenggelam dalam zikir
ya, allah maha besar

sejuk angin pagi
menyingkap rahasia kalbu
aku pun masuk ke dalam diriku
ya, allah maha kasih

seusai salat berjamaah
aku pun terbenam dalam sesal
o, ingin rasanya pulang ke asal
sehabis perjalanan jauh

2012-2019

Analisis Puisi:

Puisi "Masjid Baiturrahman, Semarang" karya Gunoto Saparie merupakan refleksi spiritual yang menggambarkan suasana batin seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah. Melalui rangkaian kata yang sederhana namun penuh makna, puisi ini membawa pembaca merenungi hubungan antara ibadah, introspeksi, dan perjalanan kehidupan.

Nuansa Religius yang Mendalam

Puisi ini dibuka dengan suasana setelah salat subuh, di mana jari-jemari meniti tasbih dalam zikir. Larik "tenggelam dalam zikir, ya, Allah Maha Besar" menunjukkan kekhusyukan dalam mengingat Tuhan. Aktivitas ini menggambarkan ketenangan dan kedekatan dengan Sang Pencipta, serta kesadaran akan kebesaran-Nya.

Simbol Angin Pagi dan Rahasia Kalbu

Dalam larik "sejuk angin pagi, menyingkap rahasia kalbu," penyair menggunakan simbol alam untuk menggambarkan ketenangan batin. Angin pagi melambangkan ketentraman setelah ibadah, di mana seseorang dapat lebih mendalami diri dan merenungkan makna kehidupannya. Frasa "aku pun masuk ke dalam diriku" menandakan refleksi diri yang mendalam, seolah-olah salat menjadi sarana untuk kembali kepada esensi diri.

Penyesalan dan Harapan untuk Kembali

Larik "seusai salat berjamaah, aku pun terbenam dalam sesal" menyoroti kesadaran akan dosa dan keinginan untuk kembali ke jalan yang benar. Kesadaran ini semakin kuat dalam larik "o, ingin rasanya pulang ke asal, sehabis perjalanan jauh." Pulang ke asal bisa dimaknai sebagai keinginan untuk kembali kepada fitrah, kepada Tuhan, setelah melalui berbagai lika-liku kehidupan.

Makna Perjalanan Spiritual

Puisi ini menggambarkan perjalanan spiritual seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah dan perenungan. Kesadaran akan kefanaan dan keinginan untuk kembali ke asal merupakan gambaran bagaimana manusia selalu mencari jalan pulang kepada Tuhannya.

Puisi "Masjid Baiturrahman, Semarang" karya Gunoto Saparie adalah sebuah refleksi spiritual yang menggugah perasaan. Dengan bahasa yang sederhana namun kaya akan makna, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kehidupan, mendekatkan diri kepada Allah, serta menyadari pentingnya introspeksi setelah ibadah. Melalui puisi ini, kita diajak untuk lebih memahami perjalanan spiritual dan makna kembali ke asal dalam kehidupan manusia.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Masjid Baiturrahman, Semarang
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.