Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Merenungi Obituari Rembulan (Karya Dimas Arika Mihardja)

Puisi "Merenungi Obituari Rembulan" mengajak pembaca untuk merenungkan kefanaan hidup dan bagaimana manusia terhubung dengan alam serta tradisi.
Merenungi Obituari Rembulan
(: kado ulang tahun dalam almanak yang pecah)

Arus sungai mengusung keranda rembulan ke huluan
puntung-puntung kata dan frasa berserak di atas tongkang
yang diayun gelombang. Biduk-biduk sayak
bersajak tentang tempoyak, riak dan ombak batanghari
di lapak-lapak pasar lopak yang sesak:
rembulan itu hanyut ke seberang lalu tersangkut 
di jaring-jaring nelayan.

Rembulan nyaris purnama
sungai memanen riak-riak isak sajak
di rerimbun semak seluwang, patin jambal
baung dan arwana merenangi arah arus batanghari
menembus cermin langit dengan kompas di sirip-siripnya
sawit pun tak lelah melepaskan cangkang-cangkangnya:
dan terasa ada yang luruh menjelang subuh.

Bayang rembulan menyusut saat mentari bangun pagi
balam, murai batu, dan pipit berkompangan
menyanyikan tradisi di dahan pohon-pohon tembesi
nelayan menjaring gerhana 
dan menyelam di palung paling dalam:
rembulan dan matahari adalah bola-bola bilyar
disodok lalu saling berbenturan
satu-demi-satu bola itu masuk lubang di akhir permainan.

Di ujung senja angso-angso kecilmu berenang di kedalaman airmata
sebelum pada akhirnya meregang di huluan
pedagang lemang di simpang mayang gamang 
memandang gerhana tanpa bintang-bintang
tempoyak dan cempedak berteriak serak:
beri aku sajak yang paling tuak!

Jambi, 25 Januari 2007

Analisis Puisi:

Puisi "Merenungi Obituari Rembulan" karya Dimas Arika Mihardja adalah sebuah karya yang penuh dengan simbolisme dan makna mendalam. Puisi ini mengangkat tema kefanaan, perjalanan hidup, dan perenungan akan keberadaan manusia melalui metafora alam, terutama sungai dan rembulan.

Puisi ini menggambarkan rembulan yang diusung oleh arus sungai, seolah-olah sebagai sebuah metafora tentang perjalanan hidup yang menuju akhir. Penggunaan kata "keranda rembulan" menyiratkan kematian atau peralihan dari satu fase kehidupan ke fase lainnya. Kehadiran sungai yang membawa rembulan mencerminkan aliran waktu yang tak terhentikan, sementara biduk-biduk dan riak ombak mengisyaratkan berbagai peristiwa dalam kehidupan.

Simbolisme dalam Puisi

  1. Rembulan: Melambangkan perjalanan hidup dan kefanaan. Rembulan yang hanyut ke seberang bisa diartikan sebagai perpindahan dari kehidupan menuju kematian atau dari satu masa ke masa berikutnya.
  2. Sungai: Merepresentasikan arus kehidupan yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
  3. Nelayan dan jaring: Bisa diartikan sebagai manusia yang berusaha menangkap atau memahami makna hidup di tengah ketidakpastian.
  4. Bola bilyar: Digunakan untuk menggambarkan siklus hidup, interaksi, dan benturan-benturan dalam kehidupan yang akhirnya bermuara pada akhir yang tak terelakkan.

Gaya Bahasa dan Struktur

Puisi ini menggunakan gaya bahasa yang khas dengan banyaknya metafora dan personifikasi, misalnya "puntung-puntung kata dan frasa berserak di atas tongkang" yang menggambarkan puing-puing kehidupan yang telah berlalu. Struktur puisinya mengalir seperti aliran sungai, memberikan kesan perjalanan yang tak terhentikan.

Makna dan Relevansi

Puisi "Merenungi Obituari Rembulan" mengajak pembaca untuk merenungkan kefanaan hidup dan bagaimana manusia terhubung dengan alam serta tradisi. Perpaduan unsur alam seperti sungai, sawit, dan ikan menciptakan nuansa lokal yang kuat, yang mengingatkan kita pada keterikatan manusia dengan lingkungan dan budaya sekitarnya.

Puisi ini menyajikan refleksi mendalam tentang hidup, perjalanan, dan ketidakpastian yang menyertainya. Dengan kata-kata yang penuh makna dan simbolisme, Dimas Arika Mihardja berhasil menghadirkan sebuah karya yang kaya akan interpretasi dan inspirasi bagi pembaca.

"Puisi Dimas Arika Mihardja"
Puisi: Merenungi Obituari Rembulan
Karya: Dimas Arika Mihardja
© Sepenuhnya. All rights reserved.