Minum Seni dan Kultur
Kita bergerak karena kesengsaraan kita
Kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna
Kita bergerak tidak karena ideal saja
Kita bergerak karena ingin cukup makanan
Kita bergerak karena ingin cukup pakaian
ingin cukup tanah
ingin cukup perumahan
ingin cukup pendidikan
ingin cukup minum seni dan kultur
pendek kata kita bergerak karena ingin
perbaikan nasib di dalam segala bagian-bagian dan
cabang-cabangnya
Perbaikan nasib ini hanyalah bisa datang seratus persen
bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialism
sebab stelsel inilah yang sebagai kemandegan tumbuh di atas tubuh
kita
hidup dan subur dari pada kita
hidup dan subur dari pada tenaga kita
rezeki kita, zat-zatnya masyarakat kita
Oleh karena itu
maka pergerakan kita
janganlah pergerakan yang kecil-kecilan
pergerakan kita haruslah pada hakekatnya
suatu pergerakan yang ingin
merobah sama sekali sifatnya masyarakat
Suatu pergerakan yang ingin
menjebol kesakitan-kesakitan masyarakat
sampai ke sulur-sulurnya dan akar-akarnya
suatu pergerakan yang sama sekali ingin
menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme
Pergerakan kita janganlah
hanya suatu pergerakan yang ingin rendahnya pajak
jangan hanya ingin tambahnya upah
janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil
yang bisa tercapai sekarang
tetapi ia harus menuju kepada suatu transformasi yang
menjungkir-balikkan sama sekali sifatnya masyarakat itu
dari sifat imperialisme dan kapitalisme menjadi
sifat yang sama rasa sama rata
Pergerakan kita harus suatu
pergerakan yang pada hakekatnya
menuju kepada suatu "Ommekeer" susunan sosial.
Sumber: Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno (2002)
Catatan:
Buku Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno (2002) dihimpun oleh Maman S. Tegeg. Maman merangkai tulisan-tulisan (termasuk pidato) karya Bung Karno (yang dikutip dari berbagai sumber) menjadi bentuk sajak/puisi.
Analisis Puisi:
Puisi "Minum Seni dan Kultur" karya Bung Karno adalah manifestasi pemikiran revolusioner yang menyoroti ketimpangan sosial serta semangat perlawanan terhadap imperialisme dan kapitalisme. Puisi ini menegaskan bahwa perjuangan rakyat bukan hanya sekadar gerakan kecil, tetapi sebuah transformasi besar yang mengubah sistem sosial secara menyeluruh.
Tema Puisi
Puisi ini mengangkat tema perjuangan sosial, kesetaraan, dan revolusi. Bung Karno menegaskan bahwa masyarakat harus bergerak untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dalam segala aspek, mulai dari kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tanah, dan pendidikan hingga kebebasan dalam menikmati seni dan budaya (minum seni dan kultur).
Selain itu, puisi ini juga membawa tema anti-kapitalisme dan anti-imperialisme. Bung Karno menekankan bahwa ketidakadilan sosial hanya bisa dihapuskan jika sistem yang menindas rakyat dihancurkan hingga ke akar-akarnya.
Makna Puisi
Puisi ini menggambarkan alasan mendasar mengapa rakyat harus bergerak dan berjuang. Bung Karno menjelaskan bahwa dorongan utama perjuangan bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata akan kehidupan yang lebih baik.
Bung Karno menegaskan bahwa rakyat menginginkan:
- Kesejahteraan ekonomi (cukup makanan, pakaian, tanah, perumahan, pendidikan).
- Kehidupan yang berbudaya (minum seni dan kultur), menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup dari kebutuhan fisik, tetapi juga dari aspek seni dan budaya.
- Perubahan sistemik, bukan hanya reformasi kecil tetapi transformasi besar yang menghapus kapitalisme dan imperialisme.
Makna Tersirat
Secara tersirat, puisi ini menegaskan bahwa perjuangan yang setengah-setengah tidak akan membawa perubahan nyata. Bung Karno ingin menyampaikan bahwa perbaikan kecil seperti kenaikan upah atau pengurangan pajak tidak akan menyelesaikan masalah jika sistem kapitalisme dan imperialisme masih berakar.
Selain itu, puisi ini juga menunjukkan bahwa perjuangan bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga mencakup aspek sosial dan budaya. Frasa "minum seni dan kultur" menunjukkan bahwa masyarakat yang beradab harus memiliki akses yang luas terhadap seni dan kebudayaan, karena hal ini merupakan bagian dari kesejahteraan yang hakiki.
Puisi ini bercerita tentang perjuangan rakyat untuk mencapai kehidupan yang lebih layak dan adil. Bung Karno menegaskan bahwa perlawanan terhadap ketimpangan sosial harus dilakukan secara total, bukan hanya dalam bentuk tuntutan kecil tetapi melalui transformasi besar terhadap sistem yang menindas.
Puisi ini juga menggambarkan visi revolusioner Bung Karno, di mana rakyat harus bersatu untuk menjungkirbalikkan sistem kapitalisme dan imperialisme, demi menciptakan masyarakat yang lebih adil, setara, dan sejahtera dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam menikmati seni dan kebudayaan.
Karya: Bung Karno
Biodata Bung Karno/Ir. Soekarno:
- Ir. Soekarno (EYD: Sukarno) merupakan Presiden Indonesia (1945-1967).
- Ir. Soekarno, sering disapa Bung Karno, lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di Soerabaja, Oost Java, Hindia Belanda.
- Ir. Soekarno meninggal dunia karena gangguan ginjal pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta, Indonesia.