Sumber: Horison (Agustus, 1966)
Analisis Puisi:
Puisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartojo Andangdjaja merupakan potret lirih sekaligus agung tentang kehidupan perempuan desa yang menopang denyut ekonomi dan kehidupan keluarga. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, puisi ini menyoroti kekuatan perempuan yang sering luput dari sorotan, tetapi justru menjadi fondasi keberlangsungan hidup banyak orang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketangguhan dan pengabdian perempuan, khususnya perempuan desa. Selain itu, puisi ini mengangkat tema kerja keras, cinta kasih, dan perjuangan hidup dalam keterbatasan, yang dilakukan secara sunyi namun berkelanjutan.
Puisi ini bercerita tentang perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, berangkat dari desa menuju kota dengan kereta api. Mereka pergi sebelum hari benar-benar dimulai, bahkan sebelum peluit kereta pagi berbunyi. Tujuan mereka adalah pasar-pasar kota, tempat mereka menjual hasil bumi demi mempertahankan kehidupan keluarga dan desa yang mereka tinggalkan.
Makna tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah pengakuan atas peran vital perempuan sebagai penopang kehidupan sosial dan ekonomi. Mereka digambarkan sebagai “akar-akar yang melata”, yang bekerja tanpa banyak bicara namun memberi kehidupan. Puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap masyarakat yang kerap mengabaikan jerih payah perempuan kelas bawah, padahal merekalah yang menjaga kesinambungan hidup antara desa dan kota.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini hening, khidmat, dan penuh penghormatan. Gambaran pagi buta, perjalanan kereta, dan gerak sunyi menuju pasar menghadirkan nuansa tenang sekaligus heroik. Tidak ada letupan emosi berlebihan, melainkan kekaguman yang disampaikan dengan lirih dan penuh empati.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menghargai kerja keras perempuan, terutama mereka yang berada di lapisan masyarakat paling bawah. Puisi ini menegaskan bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam bentuk heroisme besar, tetapi hadir dalam kerja rutin yang dilakukan dengan cinta dan tanggung jawab.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji visual. Pembaca diajak membayangkan perempuan-perempuan dengan bakul di tangan, kabut pagi di perbukitan desa, roda-roda baja kereta yang bergerak, serta pasar-pasar kota yang mulai hidup. Imaji ini menciptakan gambaran perjalanan fisik sekaligus simbolik dari desa ke kota.
Majas
Majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, seperti “akar-akar yang melata” untuk melambangkan perempuan sebagai penopang kehidupan.
- Personifikasi, pada “surya” yang seolah dilombai dalam perjalanan menuju kota.
- Repetisi, pada frasa “perempuan-perempuan yang membawa bakul” yang menegaskan subjek utama puisi.
- Metonimia, pada “bakul” sebagai simbol kerja, hasil bumi, dan tanggung jawab hidup.
Puisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” adalah puisi penghormatan. Hartojo Andangdjaja menempatkan perempuan desa sebagai figur sentral yang kuat, sabar, dan penuh cinta. Melalui puisi ini, pembaca diajak menyadari bahwa di balik denyut kehidupan kota, ada langkah-langkah sunyi perempuan-perempuan perkasa yang sejak pagi buta telah menghidupi banyak kehidupan.
Puisi: Perempuan-Perempuan Perkasa
Karya: Hartojo Andangdjaja
Biodata Hartojo Andangdjaja:
- Edjaan Tempo Doeloe: Hartojo Andangdjaja.
- Ejaan yang Disempurnakan: Hartoyo Andangjaya.
- Hartojo Andangdjaja lahir pada tanggal 4 Juli 1930 di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja meninggal dunia pada tanggal 30 Agustus 1990 (pada umur 60 tahun) di Solo, Jawa Tengah.
- Hartojo Andangdjaja adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.