Puisi: Wanita dari Lampadang (Karya L.K. Ara)

Puisi "Wanita dari Lampadang" karya L.K. Ara menggambarkan perjuangan dan keberanian seorang wanita dari Lampadang dalam menghadapi penjajahan ...
Wanita dari Lampadang

Ada seorang wanita dari Lampadang
Rumah dan kampungnya dibakar
Lalu ia menyingkir ke hutan rimba

Ketika remaja
Ia bukan gadis manja
Ringan tangannya
Bergunjing ia tak suka
Tak sombong ia
Tekun belajar agama

Langit bersih
Udara nyaman
Ketika itu
Tiba-tiba pasukan Belanda
Menyulut nyala
Membakar Mesjid Baiturrahman
Api marak tak tertahan

Wanita dari Lampadang itu
Keluar rumah buru-buru
Matanya merah
Menatap kobar api
Lalu menjerit
Wahai rakyat Aceh yang beriman
Lihat sendiri
Rumah suci
Mereka bakar dengan api
Nama Allah
Mereka cemarkan
Masiskah kita
Mau jadi budak Belanda ?

Lalu
Semua orang
Keluar rumah
Pedang dan rencong
Dicabut dari sarong
Semua mereka berseru
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Seketika pucuk rumput berdarah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Kolam-kolam berwarna merah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar
Langit berwarna merah
Allahuakbar
Allahuakbar
Allahuakbar

Orang Belanda
Kohler namanya
Jenderal pangkatnya
Tewas saat itu juga

Wanita dari Lampadang
Menyapu keringat di keningnya
Perlahan tersenyum ia
Melihat Belanda mundur
Surut bertempur

Jakarta, 1985

Analisis Puisi:

Puisi "Wanita dari Lampadang" karya L.K. Ara adalah sebuah karya yang menggambarkan perjuangan dan keberanian seorang wanita dari Lampadang dalam menghadapi penjajahan Belanda di Aceh. Puisi ini memperlihatkan semangat perlawanan dan kebangkitan rakyat Aceh terhadap penindasan yang mereka alami.

Tema Utama

  • Perlawanan terhadap Penjajahan: Tema utama puisi ini adalah perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Aceh. Wanita dari Lampadang digambarkan sebagai tokoh yang tangguh dan berani dalam menghadapi penindasan Belanda terhadap bangsanya. Peristiwa pembakaran mesjid dan kekerasan yang dilakukan Belanda memicu reaksi protes dan perlawanan yang kuat dari masyarakat Aceh, yang diwakili oleh wanita tersebut.
  • Kebangkitan Rakyat: Puisi ini juga mencerminkan semangat kebangkitan rakyat Aceh dalam menghadapi penjajahan. Ketika Mesjid Baiturrahman dibakar oleh pasukan Belanda, wanita dari Lampadang mengajak seluruh rakyat Aceh untuk bersatu melawan penindasan tersebut. Mereka berseru "Allahuakbar" sebagai bentuk perlawanan dan pengorbanan atas agama dan kebebasan mereka.

Gaya Bahasa

  • Imajinatif dan Deskriptif: Penyair menggunakan bahasa yang imajinatif dan deskriptif untuk menggambarkan suasana dan peristiwa yang terjadi dalam puisi. Deskripsi tentang pembakaran mesjid, reaksi wanita dari Lampadang, dan kebangkitan rakyat Aceh dilukiskan dengan detail yang membangkitkan gambaran yang kuat di benak pembaca.
  • Penggunaan Daerah Aceh: Penggunaan nama daerah-daerah Aceh di dalam puisi ini memberikan sentuhan autentisitas dan kekhasan pada karya sastra tersebut. Hal ini juga memperkuat identitas kultural dan kebanggaan akan warisan budaya Aceh dalam menghadapi penjajahan.
Puisi "Wanita dari Lampadang" adalah sebuah karya yang membangkitkan semangat perlawanan dan kebangkitan rakyat Aceh terhadap penjajahan Belanda. Melalui gambaran tentang keberanian seorang wanita dari Lampadang dan reaksi solidaritas rakyat Aceh, penyair mengajak pembaca untuk menghargai dan memahami perjuangan bangsa-bangsa yang berjuang untuk kebebasan dan martabatnya. Puisi ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan memperjuangkan hak-hak asasi manusia serta nilai-nilai kemanusiaan di dalam masyarakat.

L.K. Ara
Puisi: Wanita dari Lampadang
Karya: L.K. Ara

Biodata L.K. Ara:
  • Nama lengkap L.K. Ara adalah Lesik Keti Ara.
  • L.K. Ara lahir di Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah, 12 November 1937.
© Sepenuhnya. All rights reserved.