Aku tak Rindu
aku tak rindu seruling hafiz dan rumi tak kemaruk mabuk ibnul farid aku butakan mata atas kerlap singgasana simurgh ketika tiga puluh attar rebah pada altar aku ludahi muka alhallaj jual kebenaran seharga khirka tua penuh kecoa kusamak sihir formulasi ibnu arabi pelan-pelan kubaca Alquran dan hadis nabi palingkan diri dari fantasi para syekh sufi
Analisis Puisi:
Tema utama puisi “Aku tak Rindu” adalah pemberontakan spiritual dan penolakan terhadap romantisasi sufisme. Puisi ini menyoroti bagaimana penyair secara terang-terangan menolak kemelekatan terhadap simbol-simbol mistik dan tradisi sufisme yang dianggap telah menjebak banyak orang dalam fantasi semu.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik tajam terhadap cara sebagian orang memandang spiritualitas dan tasawuf. Penyair ingin menunjukkan bahwa kebenaran sejati bukan terletak pada puisi-puisi cinta ilahi atau ekstase mistik yang sering diagungkan para sufi, melainkan pada pemahaman langsung terhadap kitab suci dan ajaran nabi.
Puisi ini menyiratkan bahwa terlalu larut dalam romantisme spiritual ala sufi bisa menyesatkan, menjauhkan manusia dari pemahaman esensial agama itu sendiri. Dengan kata lain, penyair ingin kembali ke sumber utama: Alquran dan hadis, tanpa perlu terjebak euforia mistik.
Puisi ini bercerita tentang seorang penyair yang menolak rindu terhadap tokoh-tokoh sufi besar seperti Hafiz, Rumi, Ibnul Farid, Al-Hallaj, Ibnu Arabi, hingga Attar. Penyair menjauhkan dirinya dari kemilau singgasana spiritual Simurgh dan menolak jual beli kebenaran ala kaum sufi yang dianggapnya telah terkontaminasi romantisme kosong.
Sebaliknya, ia memilih membaca Alquran dan hadis nabi secara langsung, meninggalkan fantasi dan romantisme para syekh sufi yang baginya tidak lagi relevan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa keras, tajam, dan penuh penolakan. Ada kesan amarah, kejengkelan, sekaligus keteguhan dalam menyatakan sikap. Penyair tidak takut berkonfrontasi dengan simbol-simbol besar dunia tasawuf yang selama ini diagungkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan utama dari puisi ini adalah kritik terhadap glorifikasi berlebihan terhadap tradisi mistik dan sufistik. Penyair mengingatkan bahwa kebenaran sejati bukanlah dalam ekstase dan puisi-puisi indah para sufi, melainkan dalam pemahaman langsung terhadap ajaran agama yang murni.
Puisi ini juga mengajak pembaca untuk berpikir kritis, tidak mudah terpesona oleh kemasan indah spiritualitas yang kadang menyesatkan, dan berani mencari hakikat kebenaran sendiri.
Imaji
Puisi ini penuh dengan imaji pemberontakan dan penghancuran simbol-simbol spiritual. Beberapa imaji yang muncul:
- Meludahi muka Al-Hallaj — gambaran ekstrem tentang penolakan pada romantisme syahid spiritual.
- Menyamak sihir formulasi Ibnu Arabi — imaji pembongkaran terhadap konsep-konsep metafisis yang dianggap rumit dan menyesatkan.
- Membaca Alquran dan hadis nabi secara langsung — imaji sederhana yang menunjukkan keinginan kembali ke sumber utama ajaran Islam.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Metafora: “kerlap singgasana simurgh” sebagai simbol puncak spiritualitas mistik.
- Sarkasme: “jual kebenaran seharga khirka tua penuh kecoa” — kritik pedas terhadap komersialisasi spiritualitas.
- Hiperbola: meludahi muka Al-Hallaj — ekspresi ekstrem yang menyiratkan ketidaksukaan yang mendalam.
Puisi: Aku tak Rindu
Karya: Damiri Mahmud
Biodata Damiri Mahmud:
- Damiri Mahmud lahir pada tanggal 17 Januari 1945 di Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara.
- Damiri Mahmud meninggal dunia pada tanggal 30 Desember 2019 (pada usia 74) di Deli Serdang, Sumatra Utara.