Analisis Puisi:
Tema utama puisi ini adalah eksploitasi hewan oleh manusia, khususnya tentang nasib tragis ayam yang dijadikan objek pemuas kebutuhan manusia. Puisi ini menggambarkan relasi timpang antara manusia dan makhluk lain di bumi, di mana manusia mengambil posisi sebagai penguasa yang menentukan hidup-mati ayam.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kesewenang-wenangan manusia terhadap makhluk hidup lain. Ayam, sebagai simbol hewan ternak, diperlakukan sebagai komoditas semata — diternakkan, dijual, dipotong, dipanggang, atau dijadikan hiburan dalam sabung ayam. Lewat suara ayam betina, puisi ini menyiratkan kesadaran bahwa manusia berkuasa, tetapi kekuasaan itu dipakai tanpa mempertimbangkan penderitaan makhluk lain.
Ada juga refleksi bahwa setiap makhluk hidup memiliki takdir dan fungsi di dunia, tetapi cara manusia memperlakukan ayam mencerminkan hilangnya rasa welas asih. Ayam dilahirkan bukan sekadar untuk “menyenangkan manusia”, tetapi juga memiliki hak hidupnya sendiri yang sering diabaikan.
Puisi ini bercerita tentang seekor ayam betina yang menyaksikan penderitaan sesamanya di tangan manusia. Ayam-ayam dipaksa menahan lapar dan haus di atas truk, digantung di motor, lalu dibawa ke pasar atau restoran untuk dipotong dan dipanggang. Ada juga yang dijadikan ayam sabung, yang dipaksa bertarung demi hiburan manusia.
Ayam betina itu merenung tentang nasib kaumnya, sambil mengakui bahwa ada manusia baik, tetapi ada juga manusia jahat. Pada akhirnya, ia sadar bahwa sepanjang hidupnya, ayam harus selalu siap merelakan nyawa ke tangan manusia.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, pilu, dan penuh keprihatinan. Ada kesan pasrah dan ketidakberdayaan yang dialami ayam betina di tengah dominasi manusia. Puisi ini menghadirkan nuansa empati sekaligus sindiran halus terhadap sikap manusia yang memandang rendah nyawa makhluk lain.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan puisi ini adalah pengingat bagi manusia agar lebih bijaksana dalam memperlakukan makhluk hidup lain. Kehidupan ayam atau hewan lain bukan sekadar objek pemuas kebutuhan manusia, tetapi juga bagian dari tatanan kehidupan yang seharusnya dihormati. Puisi ini mengajak manusia untuk menumbuhkan empati dan kesadaran moral, serta mengingat bahwa kekuasaan manusia di dunia bukan alasan untuk berlaku sewenang-wenang terhadap makhluk lain.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan nyata:
- Ayam bertumpuk-tumpuk di atas truk, menahan lapar dan haus.
- Ayam tergantung di atas motor, dibawa ke pasar atau restoran.
- Ayam sabung yang dipaksa bertarung.
Semua imaji tersebut menampilkan pemandangan tragis dari kehidupan ayam, yang merefleksikan eksploitasi manusia terhadap hewan ternak.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Personifikasi: Ayam betina menyaksikan, merenung, dan mengakui — ayam diperlakukan seolah memiliki kesadaran layaknya manusia.
- Ironi: Ayam lahir untuk menyenangkan manusia, padahal kenyataannya ayam justru menjalani hidup penuh penderitaan di tangan manusia.
- Metafora: Ayam sabung dan ayam pejantan menjadi simbol eksploitasi dan hiburan kasar yang diciptakan manusia.
- Antitesis: Ayam menyadari ada manusia baik dan ada manusia jahat, menampilkan kontras antara potensi kasih sayang dan kebrutalan manusia.
Puisi "Ayam" karya Aspar Paturusi bukan sekadar puisi tentang hewan ternak, melainkan kritik sosial yang menyentil kesadaran manusia tentang bagaimana perlakuan mereka terhadap makhluk hidup lain. Puisi ini mengingatkan bahwa hewan juga ciptaan Tuhan, yang seharusnya dihormati meski mereka ditakdirkan sebagai sumber pangan.
Dengan gaya bahasa yang lugas, puitis, dan sarat makna filosofis, Aspar Paturusi mengajak pembaca memandang ayam (dan hewan lainnya) bukan sekadar komoditas, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang punya hak untuk dihormati dan diperlakukan secara manusiawi.
Puisi: Ayam
Karya: Aspar Paturusi
Karya: Aspar Paturusi
Biodata Aspar Paturusi:
- Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
- Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
