Puisi: Badan Demam Ruhku Demam (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Badan Demam Ruhku Demam" karya Abdul Wachid B.S. mengajak pembaca untuk merenungkan betapa pentingnya kehadiran sosok yang kita cintai, ...
Badan Demam Ruhku Demam

Badan demam oleh sesuatu yang
Menari-nari bagai gasing
Di dalam lubuk hati yang
Dilapisi oleh yang bernama, Sayang

Ruhku demam oleh sesuatu yang
Menari-nari bagai penari padang pasir
Di sekujur tubuhnya cahaya berdesir
Diiringi oleh seruling dan kendang, Sayangnya

Engkau tidak juga hadir melengkapi perjamuan
Padahal di langit keindahan di altar tanah keindahan
Di segala arah keindahan, akan menjadi tersia tertahan
Oleh haru-biru rindu yang tiada berkesudahan

Sekalipun aku mampu mabuk oleh dunia
Tetapi? Kalimatmu kelak yang
Selamatkan aku
Tergelincir dari segala tarian.

Yogyakarta, 23 Maret 2012

Sumber: Kepayang (Cinta Buku, 2013)

Analisis Puisi:

Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan mendalam yang penuh kegelisahan. Puisi ini menggambarkan perasaan rindu yang membakar jiwa dan raga, serta pencarian akan kehadiran sosok yang sangat diharapkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah tentang kerinduan yang begitu mendalam hingga menembus batas fisik dan batin. Penyair ingin menyampaikan bahwa rasa rindu yang mendalam tidak hanya mengganggu tubuh, tetapi juga mengguncang ruh atau jiwa seseorang. Ini menunjukkan bahwa cinta dan kerinduan bisa menjadi sebuah penyakit batin yang meliputi keseluruhan diri manusia.

Lebih dalam lagi, puisi ini juga mencerminkan kegelisahan eksistensial—bahwa tanpa kehadiran sosok yang dirindukan, keindahan dunia terasa sia-sia, dan bahkan hidup kehilangan makna.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami demam fisik dan batin karena kerinduan mendalam kepada sosok yang dicintai. Sosok tersebut begitu diharapkan hadir untuk melengkapi "perjamuan" atau momen indah dalam hidup sang penyair. Namun, kehadiran yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang, hingga kerinduan itu berubah menjadi haru-biru yang berkepanjangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini penuh kegelisahan, gelora rindu, sekaligus kegetiran. Ada kesan melankolis yang kuat, seolah sang penyair terombang-ambing dalam perasaan cinta yang tidak kunjung menemukan pelabuhan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang bisa diambil dari puisi ini adalah tentang kekuatan kerinduan dan cinta yang mampu mengguncang fisik dan batin manusia. Penyair ingin menyampaikan bahwa kerinduan yang tidak terbalas atau cinta yang belum bersatu bisa menjadi beban berat bagi jiwa, dan bahwa kehadiran sosok yang dicinta sering kali menjadi penyelamat di tengah badai kehidupan. Selain itu, puisi ini mengingatkan bahwa keindahan dunia terasa hambar tanpa kehadiran seseorang yang bermakna di hati.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang menghadirkan suasana dan sensasi yang kuat:
  • Imaji perasaan: “badan demam” dan “ruhku demam” menggambarkan sensasi fisik dan batin yang sama-sama tersiksa karena kerinduan.
  • Imaji visual: “menari-nari bagai gasing” dan “penari padang pasir” membentuk gambaran indah tentang kegelisahan yang bergerak liar.
  • Imaji pendengaran: “diiringi seruling dan kendang” menghadirkan suasana musikal yang memperkuat nuansa romantis dan melankolis.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
  • Metafora: "badan demam" dan "ruhku demam" melukiskan rindu sebagai penyakit yang menguasai tubuh dan jiwa.
  • Personifikasi: "sesuatu yang menari-nari bagai gasing" memberikan gambaran bahwa rindu seolah hidup dan bergerak sendiri.
  • Repetisi: penggunaan kata "keindahan" yang diulang-ulang menekankan betapa indahnya dunia yang seharusnya dirayakan bersama sosok yang dicinta.
  • Hiperbola: "haru-biru rindu yang tiada berkesudahan" melebih-lebihkan rasa rindu sebagai perasaan yang nyaris tak tertahankan.
Puisi "Badan Demam Ruhku Demam" karya Abdul Wachid B.S. adalah puisi cinta yang sarat dengan kegelisahan batin dan gejolak rindu. Melalui metafora demam fisik dan ruh, puisi ini menekankan bahwa cinta dan kerinduan mampu menguasai seluruh aspek diri manusia. Dengan bahasa yang indah, imaji yang kuat, serta suasana melankolis yang menyelimuti, puisi ini berhasil menciptakan gambaran tentang cinta yang menyiksa sekaligus mendewasakan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan betapa pentingnya kehadiran sosok yang kita cintai, serta bagaimana kerinduan yang dalam bisa membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih reflektif dan peka terhadap makna hidup.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Badan Demam Ruhku Demam
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.