Analisis Puisi:
Tema utama dalam puisi ini adalah tentang ketegaran dalam menghadapi kesedihan dan luka kehidupan. Puisi ini berbicara tentang cara manusia menghadapi duka dan bagaimana menjalani hidup dengan penuh keberanian.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kehidupan selalu dipenuhi oleh suka dan duka yang silih berganti, namun manusia dituntut untuk tetap tegar berdiri menghadapi segala tantangan. Puisi ini juga menyampaikan bahwa air mata dan kesedihan adalah bagian wajar dari hidup, namun jangan sampai kita larut di dalamnya. Di balik pesan tersebut, terselip pula ajakan agar kita jangan sekadar menjadi ‘bola’ yang hanya dipermainkan nasib, melainkan jadilah pemain yang mengendalikan permainan hidup itu sendiri.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang dilanda kesedihan mendalam akibat kehilangan atau luka masa lalu. Penyair, melalui suara dalam puisi ini, mengajak orang tersebut untuk bangkit dari kesedihan, menerima kenyataan, dan kembali melangkah menghadapi kehidupan yang terus berjalan. Hidup adalah arena permainan, dan kita harus berani menjadi pemain, bukan sekadar menjadi bola yang pasrah dipermainkan keadaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini diwarnai kesedihan yang melankolis, namun diakhiri dengan nada motivasi yang tegas dan penuh harapan. Ada nuansa reflektif tentang kesedihan masa lalu, tetapi diimbangi semangat untuk melangkah ke depan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang disampaikan dalam puisi ini sangat jelas, yaitu:
- Hidup tidak selalu mudah, tetapi manusia harus tegar menghadapi duka dan kesedihan.
- Menangis bukanlah kelemahan, melainkan tanda bahwa kita masih peduli dan mencintai kehidupan.
- Jangan biarkan diri kita menjadi ‘bola’ yang hanya dipermainkan takdir, tetapi jadilah pemain yang mengatur jalannya hidup kita sendiri.
Imaji
Puisi ini menghadirkan beberapa imaji yang cukup kuat:
- Imaji penglihatan: "wajah sendu", "wajah-wajah muram", "wajah-wajah riang" yang menggambarkan suasana emosional manusia.
- Imaji rasa: "duka terus membayangimu" memberikan kesan perasaan sedih yang menyelimuti seseorang.
- Imaji gerak: "tegaklah, jadilah pemain" menghadirkan ajakan untuk bangkit dan bergerak menghadapi kehidupan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: "jadilah pemain, jangan pernah mau jadi bola" — manusia diibaratkan pemain yang mengendalikan hidupnya sendiri, bukan sekadar objek pasif seperti bola.
- Personifikasi: "duka terus membayangimu" — duka digambarkan seolah-olah sosok yang mengikuti dan membayangi.
- Simbolisme: bola sebagai lambang ketidakberdayaan, pemain sebagai simbol keberanian dan kendali hidup.
Karya: Aspar Paturusi
Biodata Aspar Paturusi:
- Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
- Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
