Hanya Inilah Jalannya
sepatu setengah usang membenam
dalam lumpur
menuju teratak,
air menetes dari atap
membasahi kekayaanku yang
paling berharga,
pengalaman jerman, inggeris,
perancis, rusia dan tiongkok
dan banyak lagi
hasil pemikiran putera-putera
dunia yang terbaik.
*
temanku nyenyak kembali sesudah
membuka pintu,
kesunyian diluar membantuku
makin dulu makin jauh tenggelam,
ingat aku akan sumpah tetap setia
pada ajarannya
kokok ayam jantan tak
mengagetkan,
siang dan malam sama saja,
jalan yang ditunjukkannya
selamanya terang.
*
kita pasti akan sampai ke ujung
jalan ini
di mana tak ada sepatu usang,
di mana tak ada lumpur
membenam,
di mana tak ada teratak bocor,
tapi hanya inilah jalannya.
Malam, 27 Januari 1955
Harian Rakyat, 12 Februari 1955
Sumber: Gugur Merah (2008)
Analisis Puisi:
Puisi "Hanya Inilah Jalannya" mengangkat tema perjuangan dan keteguhan dalam menghadapi kesulitan hidup. Penyair menggambarkan jalan panjang yang penuh tantangan, tetapi tetap harus ditempuh demi mencapai tujuan.
Makna Tersirat
Secara tersirat, puisi ini mengungkapkan bahwa perjuangan tidaklah mudah, tetapi hanya dengan menghadapi kesulitan, perubahan bisa terjadi.
Frasa "sepatu setengah usang membenam dalam lumpur" menggambarkan kondisi yang sulit, tetapi tetap dilalui oleh tokoh dalam puisi ini.
Bagian "ingat aku akan sumpah tetap setia pada ajarannya" menekankan bahwa tokoh ini memiliki keyakinan kuat terhadap suatu prinsip atau ideologi, dan ia tidak akan tergoyahkan meskipun menghadapi kesulitan.
Di akhir puisi, "kita pasti akan sampai ke ujung jalan ini" memberikan harapan bahwa perjuangan akan membuahkan hasil, meskipun jalan yang ditempuh sulit.
Puisi ini bercerita tentang seorang pejuang atau aktivis yang menjalani hidup penuh kesulitan, tetapi tetap teguh pada keyakinannya.
Tokoh dalam puisi ini tinggal di tempat yang sederhana (teratak bocor), harus berjalan melewati lumpur, dan hidup dalam kesunyian. Namun, ia tetap berpegang teguh pada prinsip yang diyakininya, karena ia percaya bahwa perjalanan ini akan membawa perubahan di masa depan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa penuh keteguhan, ketabahan, dan harapan. Ada kesan kesulitan dan penderitaan, tetapi juga semangat untuk terus maju.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini adalah:
- Metafora – "sepatu setengah usang membenam dalam lumpur", yang menggambarkan perjalanan berat dalam perjuangan.
- Personifikasi – "kesunyian di luar membantuku", yang memberikan kesan bahwa kesunyian menjadi teman dalam perenungan.
- Hiperbola – "jalan yang ditunjukkannya selamanya terang", yang menekankan bahwa jalan yang dipilih adalah satu-satunya yang benar.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan pesan bahwa perjuangan untuk perubahan membutuhkan keteguhan dan kesabaran.
Penyair juga ingin menegaskan bahwa tidak ada jalan mudah untuk mencapai tujuan besar, tetapi jika seseorang tetap teguh dan setia pada perjuangannya, maka ia akan sampai pada tujuannya.
Imaji
Puisi ini menghadirkan beberapa imaji yang kuat, seperti:
- Imaji visual – "sepatu setengah usang membenam dalam lumpur", yang menggambarkan kondisi fisik yang sulit.
- Imaji pendengaran – "kokok ayam jantan tak mengagetkan", yang memberikan kesan bahwa tokoh dalam puisi ini sudah terbiasa dengan kehidupan yang sulit.
- Imaji perasaan – "kesunyian di luar membantuku", yang menggambarkan kondisi batin seseorang yang merenungkan perjuangannya.
Puisi "Hanya Inilah Jalannya" karya D.N. Aidit adalah puisi yang menggambarkan perjalanan perjuangan yang penuh tantangan, tetapi harus dilalui demi mencapai perubahan.
Dengan bahasa yang penuh simbolisme, puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa perjuangan bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi keyakinan dan keteguhan akan membawa seseorang mencapai tujuan yang lebih baik di masa depan.
Karya: D.N. Aidit
Biodata D.N. Aidit / Dipa Nusantara Aidit:
- D.N. Aidit (nama lahir Achmad Aidit) lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Tanjungpandan, Belitung, Hindia Belanda.
- D.N. Aidit meninggal dunia pada tanggal 22 November 1965 di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia.