Puisi: Masjid Saka Tunggal (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi “Masjid Saka Tunggal” karya Abdul Wachid B. S. bercerita tentang sebuah masjid bersejarah bernama Masjid Saka Tunggal, yang didirikan pada ...
Masjid Saka Tunggal

masjid satu pilar 
di tengahnya empat sayap 
seperti totem tergambar
bawah tiang kaca pelapis senyap

ada tahun pendirian prasasti 

abad 12 sebelum wali sanga 
di tanah yang disucikan agama kuna
sebuah batu menhir tegak meraja
di hutan dengan ratusan kera

empat sayap penopang yang 
menempel di saka empat kiblat dan lima lurus
empat mata angin dan satu pusat tak terputus

manusia dikelilingi 
api, angin, air, dan bumi
hidup haruslah seimbang

yang hidup mestinya seperti alif
jangan bongkok 
yang bengkok bukanlah manusia

empat penjuru 
mata memandang
hati berdendang
lagu

“jangan terlalu banyak air 
kalau tak ingin tenggelam
jangan banyak angin 
bila tak tahan masuk angin 
jangan bermain api 
jika takut terbakar
jangan terlalu memuja bumi 
jika tak ingin terjatuh”

empat kiblat dan lima lurus 
sufiyah, amarah, lawwmah, muthmainnah
bertarunglah jiwajiwa manusia
hingga hidup hanyalah alif.

Cikakak, Wangon, 4 Januari 2016

Analisis Puisi:

Puisi “Masjid Saka Tunggal” mengangkat tema tentang spiritualitas, filosofi kehidupan, serta keseimbangan antara unsur duniawi dan ketuhanan. Melalui simbol-simbol arsitektur masjid, puisi ini mengajak pembaca memahami makna hidup yang harmonis dalam bingkai religiusitas.

Makna Tersirat

Di balik gambaran tentang masjid dengan satu pilar (saka tunggal), puisi ini menyiratkan pesan mendalam tentang keesaan Tuhan (tauhid) dan pentingnya manusia menjaga keseimbangan hidup. Pilar tunggal melambangkan ketauhidan, sementara empat sayap yang menopangnya melambangkan empat elemen kehidupan — api, angin, air, dan bumi.

Makna tersirat lainnya adalah ajakan agar manusia hidup seperti huruf alif — tegak lurus dan menjauhi kebengkokan moral maupun spiritual. Pesan ini sarat nilai sufistik, mengingatkan manusia untuk tidak berlebihan dalam mengejar kesenangan duniawi karena ketidakseimbangan justru akan membawa petaka.

Puisi ini bercerita tentang sebuah masjid bersejarah bernama Masjid Saka Tunggal, yang didirikan pada abad ke-12. Masjid ini berdiri di atas tanah suci bekas peradaban agama kuno. Pilar tunggalnya menjadi simbol keesaan Tuhan, sementara empat sayapnya mewakili arah mata angin dan unsur-unsur alam yang membentuk kehidupan manusia.

Lebih dari sekadar menceritakan fisik masjid, puisi ini juga mengisahkan tentang filosofi hidup yang diajarkan lewat bangunan tersebut. Kehidupan manusia, sebagaimana arsitektur masjid itu, harus bertumpu pada keteguhan iman (alif) dan keseimbangan terhadap empat unsur alam agar tidak terjerumus dalam kebengkokan moral.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa mistis, penuh kontemplasi, sekaligus mengandung nuansa sakral dan religius. Penyebutan menhir, hutan, kera, serta prasasti kuno menambah kesan historis dan spiritual yang kuat. Puisi ini seolah mengajak pembaca berziarah batin, menyelami jejak sejarah yang sarat makna filosofis dan spiritual.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama dari puisi ini adalah pentingnya menjaga keseimbangan hidup dengan selalu mengingat Tuhan sebagai pusat kehidupan. Manusia diminta menjaga dirinya agar tidak berlebihan dalam menjalani hidup, baik dalam urusan dunia maupun spiritual. Hidup yang ideal adalah hidup yang tegak lurus seperti alif — penuh kejujuran dan ketulusan.

Selain itu, puisi ini juga mengingatkan bahwa warisan sejarah, nilai-nilai kearifan lokal, dan ajaran leluhur menyimpan makna mendalam yang dapat menjadi pedoman hidup masa kini.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kaya dan kuat:
  • Masjid dengan satu pilar dan empat sayap — menghadirkan visual arsitektur yang unik dan simbolik.
  • Batu menhir di hutan dengan ratusan kera — membangkitkan imaji magis tentang situs kuno yang sakral.
  • Air, angin, api, bumi — menciptakan gambaran tentang unsur-unsur alam yang mengitari hidup manusia.
  • Huruf alif yang tegak lurus — menghadirkan simbol spiritual tentang keimanan yang kokoh.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “hidup haruslah seperti alif” — alif sebagai simbol manusia yang lurus dan benar.
  • Personifikasi: “air yang bisa menenggelamkan, angin yang membawa masuk angin” — memberikan sifat manusiawi pada unsur alam.
  • Simbolisme: pilar tunggal sebagai simbol tauhid, empat sayap sebagai simbol unsur alam, dan alif sebagai simbol kesempurnaan spiritual.
  • Repetisi: “empat kiblat dan lima lurus” diulang untuk memperkuat makna keseimbangan hidup dalam spiritualitas.
Puisi “Masjid Saka Tunggal” karya Abdul Wachid B. S. adalah puisi yang kaya makna filosofis dan religius, mengajak pembaca merenungkan makna hidup yang lurus dan seimbang. Dengan menjadikan masjid bersejarah sebagai metafora kehidupan, puisi ini menyampaikan pesan universal tentang tauhid, keseimbangan spiritual dan duniawi, serta pentingnya hidup selaras dengan alam.

Abdul Wachid B. S. berhasil menyulam sejarah, spiritualitas, dan filosofi kehidupan dalam untaian kata-kata yang kuat dan simbolik, menjadikan puisi ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan perenungan maknawi.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Masjid Saka Tunggal
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.