Puisi: Ngrayun (Karya Slamet Sukirnanto)

Puisi “Ngrayun” mengangkat tema tentang kerinduan akan alam desa yang subur, perjuangan hidup di tanah yang keras, serta harapan akan kehidupan ...
Ngrayun

Beri Aku
Air di kali

Beri Aku
Air di sawah-sawah

Beri Aku
Kenangan di lembah-lembah

Beri Aku
Kehidupan yang ramah
Seputih cairan getah
Yang terus mengalir
Goresan batang-batang pinus
Bayangannya rebah
Ketika angin
Belum juga berembus.

Hati siapa
Mampu mengeja
Terangnya cahaya
Matahari rendah di sana
Kemarau dirimu
Panjang tak mampu dibelah.

Bukit kapur
Tanah tandus
Mimpimu subur
Jangan! Jangan!
Ada yang hancur!

Ibu tua
Mendaki bukit
Untuk siapa
Beban berat di bakul
Katakan! Katakan!
Subuh dan senja
Beredar teratur
Beri Aku.

Ngrayun-Ponorogo, Mei 1983

Sumber: Horison (Oktober, 1984)

Analisis Puisi:

Puisi “Ngrayun” mengangkat tema tentang kerinduan akan alam desa yang subur, perjuangan hidup di tanah yang keras, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik. Puisi ini menggambarkan potret alam pedesaan yang kering, sekaligus suara batin tentang kerinduan terhadap kesuburan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Makna Tersirat

Di balik baris-barisnya, puisi ini menyiratkan makna tentang betapa beratnya kehidupan masyarakat desa yang hidup di tanah tandus dan minim sumber daya. Ada keinginan yang mendalam agar alam kembali ramah dan memberi kehidupan yang layak. Permohonan “Beri Aku” yang diulang-ulang menunjukkan betapa mendesaknya kebutuhan akan air, kenangan indah masa lalu, serta harapan masa depan yang lebih baik.

Makna lainnya adalah pesan tentang keterikatan manusia dengan alamnya. Desa yang tandus bukan hanya tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas dan sejarah hidup para penduduknya. Alam yang rusak atau sulit ditaklukkan seolah menjadi luka batin yang diwariskan turun-temurun.

Puisi ini bercerita tentang kondisi alam dan kehidupan di Ngrayun, sebuah daerah di Ponorogo yang dikenal berbukit kapur dan kering. Penyair menggambarkan kekeringan, perjuangan seorang ibu tua yang mendaki bukit dengan beban berat, serta permohonan yang tulus agar alam kembali memberi kehidupan yang layak. Dalam narasi yang puitis, kita bisa merasakan bagaimana warga desa bergantung sepenuhnya pada alam, dan harapan akan hujan serta kesuburan terasa seperti mimpi yang semakin jauh.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini muram, pilu, dan penuh kerinduan. Ada nada putus asa yang samar, tetapi juga terselip harapan yang belum padam. Suasana pedesaan yang kering, panas, dan penuh perjuangan digambarkan melalui bukit kapur, sawah yang tandus, dan ibu tua yang memikul beban berat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa alam dan manusia saling berkaitan erat. Ketika alam tidak ramah, manusia yang bergantung padanya harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Puisi ini mengingatkan bahwa kehidupan di desa-desa terpencil sering kali begitu berat dan membutuhkan perhatian lebih.

Selain itu, puisi ini juga ingin menyampaikan bahwa kerinduan akan masa lalu yang lebih subur dan penuh kenangan indah adalah cerminan harapan akan masa depan yang lebih baik. Jangan biarkan alam rusak lebih jauh, karena ia adalah sumber kehidupan manusia.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji visual dan sensorik yang membawa pembaca merasakan langsung suasana Ngrayun:
  • Air di kali dan sawah — imaji tentang sumber kehidupan yang hilang.
  • Goresan batang pinus dan bayangannya rebah — gambaran alam yang diam dan sunyi.
  • Bukit kapur dan tanah tandus — imaji tentang kerasnya alam Ngrayun.
  • Ibu tua mendaki bukit dengan bakul berat — imaji tentang perjuangan hidup perempuan desa yang menggambarkan kerasnya realitas sosial.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Repetisi: Pengulangan frasa “Beri Aku” sebagai penegasan kerinduan dan permohonan.
  • Personifikasi: Alam digambarkan seperti makhluk hidup yang bisa memberi atau menolak kehidupan.
  • Metafora: Bukit kapur dan tanah tandus sebagai simbol kerasnya hidup, sedangkan subur mimpi sebagai simbol harapan.
  • Hiperbola: Kemarau panjang tak mampu dibelah menggambarkan betapa beratnya musim kering.

Puisi Slamet Sukirnanto
Puisi: Ngrayun
Karya: Slamet Sukirnanto

Biodata Slamet Sukirnanto:
  • Slamet Sukirnanto lahir pada tanggal 3 Maret 1941 di Solo.
  • Slamet Sukirnanto meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 2014 (pada umur 73 tahun).
  • Slamet Sukirnanto adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.