Puisi: Pemasrahan (Karya Fridolin Ukur)

Puisi "Pemasrahan" karya Fridolin Ukur bercerita tentang seorang suami yang mendampingi istrinya, Sri, yang akan menjalani operasi.
Pemasrahan (1)
Untuk istriku Sri, yang menjalani operasi
Kediri, 18 September 1969

        Wajahnya dingin
        matanya hangat
        jemarinya dingin
        hatinya hangat

Sejuta keyakinan di tatapan mata
sejuta kata di genggaman jejari
sepenuh iman terpasrahlah diri
berpisahlah kini, untuk nanti berjumpa

Pemasrahan (2)

        Hanya aku berwarna
        yang lain putih semua,
        kereta yang digiring juga putih
        wajah yang terbaring juga putih

Hanya aku berwarna, dan
senyum Sri ikut berwarna

        Sentuhan akhir ujung jejari
        senyum pengharapan mewarnai wajah
        mengiringnya pergi
        sendiri kini
        ke balik pintu operasi

Pemasrahan (3)

Antara jantung
dan hati,
terasa cekikan dingin
dingin
dinginnya ketakutan!

        Antara seribu doa
        dan hari menyinta
        terasa kepekatan hitam
        hitam
        hitamnya ketakutan!

Pemasrahan (4)

Segala keberanian yang tertancap dalam dada
goyah patah
retak pecah;

        Segala kepastian yang angkuh dalam raga
        lunglai lemah
        rontok rebah;

Sebanyak detik yang menjalar
delapan belas ribu edaran,
berpacu di seluruh urat nadi
menari gila di ruang diri,
ketakutan berpesta
ketakutan menyiksa;

Sebanyak detik yang menjalar
delapan belas ribu edaran
aku masih terus bertahan
dalam doa dan pemasrahan

Sumber: Wajah Cinta (2000)

Analisis Puisi:

Puisi "Pemasrahan" karya Fridolin Ukur merupakan karya yang menggambarkan pengalaman emosional seorang suami yang mendampingi istrinya sebelum menjalani operasi. Dengan bahasa yang sederhana namun kuat, puisi ini memancarkan ketegangan, ketakutan, dan keikhlasan dalam menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.

Tema Puisi

Tema utama dalam puisi ini adalah ketakutan, cinta, dan kepasrahan. Penyair menyoroti bagaimana seseorang berusaha menerima keadaan yang tidak bisa dikendalikan dengan penuh harap dan doa. Ada juga tema kesetiaan dan harapan, di mana sang suami tetap berada di sisi istrinya, meskipun harus menyerahkan nasibnya pada takdir dan tenaga medis.

Makna Tersirat

Secara tersirat, puisi ini menggambarkan perjuangan batin dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Penyair menunjukkan bahwa dalam momen-momen sulit, seseorang akan diuji antara rasa takut dan keimanan. Sang suami merasa ketakutan mendalam akan kemungkinan terburuk, namun ia tetap berusaha mempertahankan harapan dan kepercayaannya kepada Tuhan.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk menerima segala kemungkinan, termasuk perpisahan sementara atau bahkan yang abadi. Meskipun ada ketakutan yang melumpuhkan, harapan dan doa menjadi kekuatan yang menahan seseorang untuk tetap tegar.

Puisi ini bercerita tentang seorang suami yang mendampingi istrinya, Sri, yang akan menjalani operasi. Dalam keheningan ruang rumah sakit, ia merasakan berbagai emosi yang berkecamuk—dari kepasrahan, kecemasan, hingga ketakutan yang menghantuinya.

Bagian pertama dari puisi ini menggambarkan bagaimana sang istri tetap memiliki semangat dan ketenangan meskipun fisiknya tampak lemah. Bagian kedua menggambarkan suasana rumah sakit yang serba putih dan perasaan kesendirian sang suami ketika istrinya dibawa ke ruang operasi. Bagian ketiga dan keempat menggambarkan ketakutan yang semakin kuat, hingga akhirnya ia hanya bisa bertahan dengan doa dan kepasrahan penuh.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini penuh ketegangan, kecemasan, dan kepasrahan. Ada rasa takut yang sangat kuat, tetapi juga ada kehangatan dan ketulusan dalam mendampingi orang tercinta.

Amanat/Pesan yang Disampaikan

Pesan utama dari puisi ini adalah keikhlasan dan kekuatan doa dalam menghadapi cobaan hidup. Penyair ingin menunjukkan bahwa dalam situasi sulit, seseorang bisa saja merasa sangat rapuh, tetapi doa dan keyakinan bisa menjadi pegangan untuk tetap bertahan. Selain itu, puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta sejati berarti bersedia mendampingi pasangan dalam suka maupun duka, termasuk di saat-saat sulit seperti menghadapi ketidakpastian hidup dan kematian.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini dipenuhi dengan imaji visual dan sensorik yang kuat, seperti:
  • Imaji visual → "Hanya aku berwarna, yang lain putih semua" menciptakan gambaran suasana rumah sakit yang steril dan dingin, menonjolkan perasaan keterasingan dan kesendirian sang suami.
  • Imaji taktil → "Terasa cekikan dingin, dingin, dinginnya ketakutan!" membuat pembaca bisa merasakan bagaimana ketakutan itu begitu menusuk dan melumpuhkan tubuh.
  • Imaji gerak → "Sebanyak detik yang menjalar, delapan belas ribu edaran" menggambarkan detak waktu yang terasa begitu panjang bagi seseorang yang sedang menunggu dalam kecemasan.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora → "Ketakutan berpesta, ketakutan menyiksa" menggambarkan rasa takut sebagai sesuatu yang hidup dan aktif, menguasai pikiran sang penyair.
  • Personifikasi → "Ketakutan berpesta" memberikan sifat manusiawi kepada ketakutan, seolah-olah ia adalah entitas yang bisa menikmati penderitaan seseorang.
  • Repetisi → "Dingin, dingin, dinginnya ketakutan!" dan "Hitam, hitam, hitamnya ketakutan!" memperkuat perasaan cemas dan teror yang dirasakan oleh sang suami.
Puisi "Pemasrahan" karya Fridolin Ukur adalah ungkapan emosional tentang ketakutan dan kepasrahan dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Dengan tema cinta, ketakutan, dan harapan, puisi ini menggambarkan bagaimana seseorang harus berjuang dengan perasaannya sendiri ketika orang yang dicintai berada dalam situasi kritis. Imaji yang kuat dan bahasa yang lugas menjadikan puisi ini begitu menyentuh dan mampu menggambarkan perasaan universal tentang kehilangan dan harapan.

Fridolin Ukur
Puisi: Pemasrahan
Karya: Fridolin Ukur

Biodata Fridolin Ukur:
  • Fridolin Ukur lahir di Tamiang Layang, Kalimantan Tengah, pada tanggal 5 April 1930.
  • Fridolin Ukur meninggal di Jakarta, pada tanggal 26 Juni 2003 (pada umur 73 tahun).
© Sepenuhnya. All rights reserved.