Puisi: Prelude (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Prelude” karya Abdul Hadi WM bercerita tentang sekelompok pelaut dan nelayan yang berada di laut, yang menghadapi alam dan menjalani ...
Prelude (1)

Di atas laut. Bulan perak bergetar
suhu pun melompat
Di bandar kecil itu. Aku pun dapat
menerka. Seorang pelaut mengurusi jangkar


Prelude (2)

Siapakah bertolak bersama pelaut-pelaut itu?
angin senja dari benua. Sesekali suara sauh
Siapakah yang berseru bersama pelaut-pelaut itu?
langit yang biru, bisik-bisik. Sesekali bayang-bayang negeri jauh


Prelude (3)

Dua nelayan Madura terjun ke sampannya
angin tak menyuruh mereka, dingin yang baja
seperti kata nenek moyangnya, mereka lepaskan mantera
seperti kata nenek moyangnya, engkau hanya menawarkan angin utara


Prelude (4)

Angin akan kembali dari bukit-bukit, menyongsong malam hari
atau yang tidur siang hari, yang kedengaran membetulkan kemarau
angin yang tahu, seperti engkau, ke mana arah musim ini mati
ke laut: membujuk-bujuk nelayan. Suara yang lirih sesekali.

Sumber: Horison (Mei, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Prelude” karya Abdul Hadi WM mengangkat tema alam dan kehidupan pelaut, yang mencakup perjalanan laut, angin, dan kehidupan para nelayan. Tema ini juga menyentuh pada hubungan manusia dengan alam dan bagaimana mereka saling bergantung satu sama lain dalam menjalani hidup, terutama dalam konteks para nelayan yang hidup di tengah lautan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan di laut adalah sebuah perjuangan yang penuh dengan unsur alam yang tak dapat diprediksi, namun tetap dihadapi dengan keteguhan dan kebijaksanaan yang diwariskan turun-temurun. Puisi ini juga mengajak kita untuk merenungkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam, saling berinteraksi dan dipengaruhi oleh kekuatan alam yang tak terelakkan, seperti angin dan ombak. Ada juga makna bahwa meskipun manusia berada dalam ketidakpastian, mereka tetap menemukan cara untuk bertahan hidup, baik itu dengan memanfaatkan alam atau dengan mengikuti kebijaksanaan leluhur.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok pelaut dan nelayan yang berada di laut, yang menghadapi alam dan menjalani rutinitas kehidupan mereka di atas perahu. Di dalam puisi ini, pelaut dan nelayan digambarkan berinteraksi dengan alam yang sangat kuat, seperti angin yang datang dari benua dan suara sauh yang sesekali terdengar. Cerita ini mengangkat kebijaksanaan leluhur yang diwariskan pada para nelayan, yang dilakukan melalui mantera yang mereka ucapkan, yang menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari di laut.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat tenang dan penuh dengan kesendirian, namun juga terdapat rasa kebijaksanaan dan keheningan yang dalam. Lautan yang luas dengan suara angin dan sauh menjadi latar yang menggambarkan kesederhanaan dan keheningan alam, sementara para nelayan dan pelaut tampaknya menjalani kehidupan yang penuh dengan ketenangan serta keharmonisan bersama alam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada alam dan sering kali mereka harus menjalani hidup dengan keberanian dan kebijaksanaan untuk menghadapi tantangan yang datang. Alam, dalam hal ini angin dan laut, bukan hanya menjadi tempat bekerja bagi para nelayan, tetapi juga menjadi guru yang mengajarkan tentang waktu, siklus alam, dan keterhubungan antara manusia dan alam. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai kebijaksanaan tradisional dan pemahaman yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang sering kali terlupakan dalam kehidupan modern.

Imaji

Beberapa imaji kuat yang tercipta dalam puisi ini adalah:
  • Imaji alam: laut, angin, dan bulan yang bergetar, menciptakan gambaran suasana alam yang tenang namun penuh kekuatan.
  • Imaji perjalanan: pelaut dan nelayan yang melanjutkan rutinitas mereka dengan kebijaksanaan yang diwariskan dari nenek moyang, memberikan kesan perjalanan yang berkelanjutan dan penuh pengetahuan.

Majas

Beberapa majas yang terlihat dalam puisi ini adalah:
  • Personifikasi: "Angin yang tahu", memberikan kesan bahwa angin seakan memiliki pengetahuan atau kesadaran tertentu, yang seolah-olah dapat mempengaruhi kehidupan manusia.
  • Metafora: "Angin utara" dan "kemarau" yang menggambarkan tantangan atau kondisi yang dihadapi para nelayan, memberikan kesan bahwa alam memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan manusia.
  • Alusio: Penyebutan nenek moyang dan mantera yang mereka lepaskan menunjukkan pengaruh tradisi dan kebijaksanaan leluhur dalam kehidupan mereka.
Puisi “Prelude” karya Abdul Hadi WM berhasil menggambarkan kehidupan nelayan yang harmonis dengan alam. Ada rasa keheningan, keteguhan, dan kebijaksanaan yang tercermin dalam setiap barisnya, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam serta menghargai tradisi yang diwariskan. Pembaca diajak untuk merenung tentang bagaimana kita harus hidup berdampingan dengan alam, memahami kekuatannya, dan memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik.

Puisi: Prelude
Puisi: Prelude
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.