Puisi: Riwayat Sepi (Karya Melki Deni)

Puisi “Riwayat Sepi” mengangkat tema tentang sepi sebagai asal-muasal sekaligus takdir kehidupan manusia. Sepi dalam puisi ini bukan sekadar ....

Riwayat Sepi

Pada Mulanya Tuhan menciptakan Semua Sepi dari Sepi.
Adam diciptakan karena Alam Semesta, dan binatang-binatang Sepi.
Hawa dilukis dari Tulang Rusuk Adam karena Adam Sepi.
Sepi membuat Hawa ke Taman Eden. Ular menggodanya karena Sepi.
Sebelumnya Tuhan bilang: "Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." Tetapi ular yang Sepi meyakinkan Hawa: "Sekali-kali kamu tidak akan mati". Waktu itu Tuhan sedang menyepi.
Hawa makan Buah karena Sepi,
Adam juga ikut makan karena diserang Sepi.

Sepi membuat Tuhan keluar dari Sembunyi.
Adam-Hawa membuat Sepi itu Abadi.

Madrid, 3 Maret 2025

Analisis Puisi:

Puisi “Riwayat Sepi” mengangkat tema tentang sepi sebagai asal-muasal sekaligus takdir kehidupan manusia. Sepi dalam puisi ini bukan sekadar suasana sunyi, melainkan hakikat eksistensial yang menyertai penciptaan manusia dan seluruh semesta.

Makna Tersirat

Melki Deni menyelipkan makna bahwa sepi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bahkan, dalam kisah penciptaan, sepi menjadi alasan mengapa Adam diciptakan, mengapa Hawa hadir, hingga mengapa dosa pertama terjadi. Semua berasal dari rasa sepi yang menggerakkan tindakan-tindakan manusia.

Makna lain yang tersirat adalah sepi sebagai takdir yang melingkupi manusia sejak awal hingga akhir. Manusia tidak pernah benar-benar bebas dari sepi, karena sepi adalah warisan purba yang diwariskan sejak Adam dan Hawa.

Puisi ini bercerita tentang bagaimana sepi telah menjadi bagian dari riwayat penciptaan manusia. Melki Deni memadukan kisah keagamaan tentang Adam, Hawa, dan Taman Eden, lalu menafsirkannya dari sudut pandang eksistensial: sepi sebagai pemicu dan penyebab utama dosa dan kehancuran.

Adam diciptakan karena alam semesta sepi. Hawa hadir karena Adam sepi. Dosa pertama terjadi karena sepi menggoda Hawa dan ular pun bertindak karena sepi. Semua tindakan manusia di awal sejarahnya berakar pada kegelisahan karena sepi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini muram, kontemplatif, dan sarat perenungan. Sepi tidak digambarkan sekadar kesunyian yang melankolis, melainkan sebuah lubang eksistensi yang terus menganga dan tak pernah terisi penuh. Ada nuansa kesedihan, tetapi sekaligus kegetiran dan penerimaan bahwa sepi adalah bagian dari kodrat manusia.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang bisa dipetik adalah bahwa sepi adalah bagian yang tak terhindarkan dalam hidup manusia. Sepi bukan musuh yang harus dilawan, tetapi kenyataan yang perlu dipahami. Melalui pemahaman akan sepi, manusia bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan memahami asal-muasal keberadaan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa tidak semua tindakan yang lahir dari sepi berujung baik. Sepi bisa mendorong manusia melakukan pemberontakan, pelanggaran, hingga kehancuran, seperti kisah Adam dan Hawa di Taman Eden.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang membawa pembaca ke suasana penciptaan dan kejatuhan manusia pertama. Beberapa imaji yang kuat antara lain:
  • Tulang rusuk Adam yang melahirkan Hawa — imaji yang menghubungkan tubuh, kesepian, dan penciptaan.
  • Buah terlarang yang disentuh karena sepi — simbol godaan yang lahir dari kekosongan batin.
  • Tuhan menyepi dan keluar dari sembunyi — gambaran hubungan Tuhan dan manusia yang berjarak karena sepi.

Majas

Puisi ini memanfaatkan beberapa majas, seperti:
  • Personifikasi: Sepi diperlakukan layaknya makhluk hidup yang bisa mencipta, menggoda, bahkan mengutuk.
  • Repetisi: Kata sepi berulang-ulang muncul untuk menegaskan bahwa sepi adalah tokoh utama dalam riwayat ini.
  • Metafora: Sepi sebagai asal-muasal dosa, bukan sekadar perasaan, tetapi sebuah kekuatan yang menggerakkan sejarah manusia.

Puisi Melki Deni
Puisi: Riwayat Sepi
Karya: Melki Deni

Biodata Melki Deni:
  • Melki Deni adalah mahasiswa STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
  • Melki Deni menjuarai beberapa lomba penulisan karya sastra, musikalisasi puisi, dan sayembara karya ilmiah baik lokal maupun tingkat nasional.
  • Buku Antologi Puisi pertamanya berjudul TikTok. Aku Tidak Klik Maka Aku Paceklik (Yogyakarta: Moya Zam Zam, 2022).
  • Saat ini ia tinggal di Madrid, Spanyol.
© Sepenuhnya. All rights reserved.