Ziarah ke Makam Usani
Langit seperti muram
Mentari tertutup mendung, keabu-abuan
Angin meniup sepoi
Pohon bambu, rindang menghijau
Burung-burung berterbangan, diam
Terasa senyap suasana alam
Kawan demi kawan datang
Menziarahi makam
Usani, wanita pejuang komunis
Pembela setia buruh dan tani;
Ia mati dalam mengabdi
Proletariat kesayangan sejati
Tanah merah pekuburan dicacaki
Nisan bambu tegak-tegak
Laksana tekad hati Usani
Mengibarkan tinggi-tinggi, panji PKI
Semua kawan tunduk berdiri
Duka cita menyayat hati
Airmata mengalir, butir demi butir;
Dan semua berjanji
Akan nyalakan api-juang Usani
Mengganyang si-lima jahat
"Malaysia", kabir, 7 setan desa,
imperialis AS dan
Revisionis
Usani pergi, api-juangnya nyala abadi
PKI mekar harum mewangi
Jakarta, 18 Juli 1965
Harian Rakyat, 25 Juli 1965
Sumber: Gugur Merah (2008)
Analisis Puisi:
Puisi "Ziarah ke Makam Usani" Karya D.N. Aidit merupakan karya yang kental dengan nuansa ideologi dan perjuangan politik. Berikut ini adalah analisis mengenai tema, makna tersirat, serta unsur-unsur sastra dalam puisi tersebut.
Tema
Puisi ini mengangkat tema perjuangan dan penghormatan terhadap seorang tokoh yang gugur dalam membela ideologi komunis. Usani, yang disebut dalam puisi, digambarkan sebagai pejuang yang setia kepada buruh dan tani, serta teguh dalam mengibarkan panji PKI.
Makna Tersirat
Di balik narasi yang disampaikan, terdapat makna tersirat mengenai semangat perjuangan yang tidak akan padam meskipun seorang pejuang telah gugur. Penyebutan janji untuk "menyalakan api-juang Usani" menunjukkan bahwa perjuangan Usani akan diteruskan oleh generasi selanjutnya. Selain itu, puisi ini juga menegaskan sikap perlawanan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh ideologi, seperti "imperialis AS," "Malaysia," dan "7 setan desa."
Puisi ini bercerita tentang ziarah para kawan seperjuangan ke makam Usani, seorang wanita yang mati dalam perjuangan membela proletariat. Suasana ziarah digambarkan dengan latar yang muram dan penuh duka. Meskipun demikian, puisi ini tidak hanya sekadar mengenang kepergian Usani, tetapi juga mengandung tekad dan semangat untuk melanjutkan perjuangan yang telah dirintisnya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Jika ditelaah lebih dalam, puisi ini menyampaikan pesan tentang keteguhan dalam memperjuangkan ideologi. Kematian seorang pejuang bukanlah akhir, melainkan awal bagi perjuangan yang lebih besar. Selain itu, puisi ini mengandung seruan untuk tetap setia pada perjuangan kelas yang diusung oleh PKI.
Imaji
Puisi ini mengandung imaji visual yang kuat, seperti "langit seperti muram," "mentari tertutup mendung," dan "tanah merah pekuburan dicacaki." Imaji ini membantu membangun suasana yang suram dan penuh penghormatan terhadap sosok Usani yang telah gugur.
Majas
Beberapa majas yang dapat ditemukan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, seperti dalam baris "Langit seperti muram" dan "Burung-burung berterbangan, diam." Kalimat ini memberikan kesan bahwa alam turut berduka atas kepergian Usani.
- Metafora, terlihat dalam baris "Usani pergi, api-juangnya nyala abadi," yang menggambarkan semangat perjuangan Usani sebagai api yang tidak pernah padam.
Puisi "Ziarah ke Makam Usani" tidak hanya merupakan penghormatan terhadap sosok Usani, tetapi juga sebuah manifesto ideologi yang menyerukan kesinambungan perjuangan. Puisi ini mencerminkan semangat perlawanan dan pengabdian terhadap ideologi yang diperjuangkan oleh penulisnya.
Karya: D.N. Aidit
Biodata D.N. Aidit / Dipa Nusantara Aidit:
- D.N. Aidit (nama lahir Achmad Aidit) lahir pada tanggal 30 Juli 1923 di Tanjungpandan, Belitung, Hindia Belanda.
- D.N. Aidit meninggal dunia pada tanggal 22 November 1965 di Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia.