Puisi: Dari Bukit Parangtritis (Karya Zainal Arifin Thoha)

Puisi "Dari Bukit Parangtritis" karya Zainal Arifin Thoha bercerita tentang kerinduan spiritual seorang penyair terhadap seorang guru atau tokoh ...
Dari Bukit Parangtritis

Syaikh maulana maghribi
Kulihat makammu dari sini
Kukirim salam padamu dari sini
Kujabat tanganmu dari sini
Kucium wangi jubahmu dari sini

Tetapi maaf
aku masih berada di sini
syaikh maulana maghribi
telah kau rentang tangan
lambaian nama-nama alam semesta
menunjuk-nunjuk titik dan prahara
menerangkan gerak gelombang
dan biru dada lautan
lalu kepadaku
kautitipkan pesan diam
kabar langit dan tutur kearifan

syaikh maulana maghribi
kumohon sungguh segera
engkau menyambung luka jiwa
lantaran kepadamu
aku merindukan
layaknya pantai
merindu lautan

Yogya, 2000

Analisis Puisi:

Puisi "Dari Bukit Parangtritis" karya Zainal Arifin Thoha mengangkat tema spiritualitas, kerinduan, dan pencarian makna kehidupan. Melalui penggunaan bahasa yang penuh nuansa, puisi ini membawa pembaca untuk merasakan kedalaman emosi penulis, yang dituangkan melalui penghormatan kepada seorang tokoh spiritual, Syaikh Maulana Maghribi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerinduan spiritual. Sang penyair merasakan kedekatan dengan seorang tokoh spiritual yang telah tiada, namun pengaruhnya masih hidup dalam jiwa dan pikirannya. Tema kerinduan ini juga dilengkapi dengan pencarian makna kehidupan dan pesan-pesan spiritual yang diwariskan oleh sang Syaikh, yang menunjukkan perjalanan batin yang dalam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkisar pada perjalanan spiritual yang tidak hanya berlangsung di dunia fisik, tetapi juga dalam dunia batin.
  • "Kulihat makammu dari sini" menggambarkan bahwa meskipun penyair tidak berada di dekat makam sang Syaikh, ia merasakan kehadiran spiritualnya.
  • "Kau rentang tangan" menunjukkan bahwa meskipun sang Syaikh telah tiada, ajaran dan kearifannya masih hidup, meluas ke seluruh alam semesta.
  • "Aku merindukan layaknya pantai merindu lautan" menggambarkan kerinduan yang dalam, seolah-olah ada keterikatan yang sangat erat antara jiwa penyair dan sang Syaikh, layaknya pantai yang tidak dapat terlepas dari lautan.
Puisi ini mengisyaratkan bahwa meskipun fisik seseorang mungkin sudah tiada, pengaruh dan ajarannya tetap hidup dalam diri orang-orang yang merindukan kebijaksanaannya.

Puisi ini bercerita tentang kerinduan spiritual seorang penyair terhadap seorang guru atau tokoh spiritual yang telah meninggal. Penyair, meskipun tidak berada di tempat yang sama, merasa sangat dekat dengan Syaikh Maulana Maghribi melalui kekuatan ajaran dan pesan-pesan spiritual yang ditinggalkannya. Penyair memohon agar sang Syaikh dapat menyembuhkan luka batin yang ia rasakan, seolah-olah ada hubungan batin yang sangat erat antara mereka.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah syahdu dan penuh kerinduan. Ada perasaan mendalam terhadap keberadaan seseorang yang telah tiada, namun tetap hidup dalam ingatan dan pengaruhnya. Pembaca dibawa dalam suasana yang tenang, namun sarat dengan harapan dan doa, yang terungkap melalui lirik-lirik yang penuh penghormatan dan kerendahan hati.

Imaji

Imaji yang tercipta dalam puisi ini sangat kuat dan menyentuh:
  • "Kulihat makammu dari sini" membangkitkan gambaran visual dari jauh, seolah-olah penyair sedang mengamati makam sang Syaikh, meskipun ia tidak berada di sana secara fisik.
  • "Lambaian nama-nama alam semesta" menggambarkan betapa luas dan mendalamnya ajaran yang diberikan, melibatkan seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan.
  • "Pantai merindu lautan" menciptakan imaji emosional yang sangat dalam, menggambarkan kerinduan yang tidak dapat terpisahkan dan terus-menerus mengalir, seperti hubungan antara pantai dan lautan yang abadi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini termasuk:
  • Metafora: "Pantai merindu lautan" sebagai simbol kerinduan yang tidak terpisahkan antara penyair dan ajaran sang Syaikh.
  • Personifikasi: "Kau rentang tangan" yang memberikan makna bahwa ajaran sang Syaikh seolah-olah masih mengarahkan atau memberi petunjuk kepada penyair.
  • Simbolisme: "Makammu" dan "luka jiwa" menjadi simbol pengingat dan perasaan kehilangan terhadap sang guru, yang sekaligus menjadi bagian dari perjalanan spiritual penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya hubungan batin yang mendalam dengan tokoh spiritual atau guru. Meskipun seseorang tidak lagi hadir secara fisik, ajaran dan pengaruhnya tetap hidup dalam diri orang-orang yang mengingatnya dengan penuh rasa hormat dan kerinduan. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung, mengingat, dan menyambung kembali ajaran-ajaran bijak yang telah diwariskan oleh orang-orang yang telah tiada.

Puisi "Dari Bukit Parangtritis" karya Zainal Arifin Thoha menunjukkan kekuatan emosi batin yang tidak terpisahkan dari pencarian makna hidup dan kerinduan akan ajaran seorang guru. Dengan penggunaan bahasa yang indah dan penuh nuansa, puisi ini membawa pembaca pada perjalanan spiritual yang mendalam dan menyentuh hati.

Zainal Arifin Thoha
Puisi: Dari Bukit Parangtritis
Karya: Zainal Arifin Thoha

Biodata Zainal Arifin Thoha:
  • KH. Zainal Arifin Thoha lahir di Kediri, pada tanggal 5 Agustus 1972.
  • KH. Zainal Arifin Thoha meninggal dunia pada 14 Maret 2007.
© Sepenuhnya. All rights reserved.