Analisis Puisi:
Dalam puisinya yang berjudul “Di Padang Belukar”, penyair Leon Agusta menyusun metafora yang sederhana namun mencabik. Di dalamnya, kita dihadapkan pada citra seekor anak domba yang lemah, terjebak di sebuah padang belukar yang tak ramah—penuh duri, ranjau tersembunyi, dan kehadiran serigala-serigala buas yang mengintai. Meski hanya terdiri dari beberapa baris, puisi ini mampu menyampaikan sebuah pesan kehidupan yang sarat ketegangan dan kepedihan.
Puisi ini bercerita tentang kerapuhan dan ketakberdayaan manusia di tengah dunia yang keras dan kejam. Lewat simbol anak domba, Leon Agusta menggambarkan makhluk yang paling lemah dan tak bersenjata, terperangkap dalam medan hidup yang penuh ancaman.
Serigala-serigala yang mengintai dalam puisi ini bisa dibaca sebagai simbol dari segala bentuk ancaman sosial, penindasan, atau bahkan kekuasaan yang menakutkan. Anak domba yang lembut dan sunyi, di sisi lain, mewakili manusia-manusia kecil—kita semua yang mencoba bertahan, hidup diam-diam agar tidak mengundang bahaya.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kerapuhan hidup dan ketidakadilan sosial. Leon Agusta tidak sedang bercerita tentang hewan ternak atau kisah fabel, melainkan sedang menyentil kenyataan hidup yang getir: betapa orang-orang lemah sering kali harus menyembunyikan keberadaannya, takut akan "serigala-serigala" dunia yang siap memangsa kapan saja.
Ada juga tema tambahan tentang kesendirian dan keputusasaan, yang tercermin dari baris terakhir: “Hidup mati / Dilimbur sepi”. Tidak ada pilihan lain selain diam. Bahkan hidup dan mati pun terasa tak jauh berbeda ketika semua dilingkupi oleh sunyi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini sangat dalam. Anak domba adalah simbol manusia yang tak punya kekuatan untuk melawan. Ia hidup dalam lingkungan yang berbahaya, penuh jebakan yang tidak terlihat (ranjau tersembunyi), serta pemangsa yang bisa muncul kapan saja (serigala-serigala).
Pertanyaannya—“Dapatkah ia tak bersuara?”—bukan hanya pertanyaan literal, tapi menggambarkan desakan untuk bungkam, agar tidak terlihat, agar tetap selamat. Dalam dunia nyata, ini bisa dimaknai sebagai sindiran terhadap masyarakat yang ditekan agar diam, terhadap mereka yang terpaksa menyembunyikan luka dan keberadaan mereka agar tidak menjadi sasaran.
Makna mendalam ini mengajak kita merenung: apa artinya menjadi manusia lemah dalam masyarakat yang tak memberi ruang untuk kelembutan? Dan lebih dari itu, berapa banyak orang yang hidup dalam ketakutan dan sunyi, seperti anak domba di padang belukar?
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini sangat tegang, sunyi, dan mencekam. Bukan ketegangan yang meledak-ledak, melainkan ketegangan yang menyelinap diam-diam, seperti napas tertahan. Ada perasaan waspada dan takut, seolah sewaktu-waktu bahaya bisa datang dan segalanya akan berakhir. Kesunyian bukan lagi ketenangan, tapi justru tempat di mana bahaya tumbuh dalam diam.
Imaji
Puisi ini sangat kuat dalam membangun imaji visual dan emosional, antara lain:
- “Seekor anak domba yang lembut di padang belukar” → imaji ini langsung menciptakan kontras antara kelembutan dan ancaman. Kita bisa membayangkan tubuh kecil, putih, dan lemah dari seekor domba di tengah hutan belukar yang penuh bahaya.
- “Duri dan ranjau tersembunyi” → menambah lapisan ancaman yang tidak hanya datang dari luar (serigala), tetapi juga dari lingkungan tempat berpijak.
- “Serigala-serigala tak mencium darahnya” → imaji tajam tentang ancaman yang peka terhadap kelemahan, siap menerkam kapan saja kelembutan tercium.
Melalui imaji ini, Leon Agusta berhasil menciptakan dunia puisi yang rapuh, getir, dan menghantui pembacanya.
Majas
Puisi ini penuh dengan majas simbolik dan metaforis yang kuat:
Metafora:
- Anak domba adalah metafora dari manusia yang lemah, polos, atau tidak punya kuasa.
- Serigala-serigala menjadi metafora dari kekuasaan, penindas, atau mereka yang mengancam kehidupan orang lain.
- Padang belukar dan duri serta ranjau tersembunyi adalah gambaran tentang kehidupan yang liar, penuh bahaya tersembunyi.
- Dilimbur sepi adalah ungkapan puitis tentang bagaimana kesendirian dan keheningan membanjiri kehidupan seseorang.
- Pertanyaan retoris juga digunakan dengan efektif: “Dapatkah ia tak bersuara?” dan “Dapatkah ia tak terluka?”—dua pertanyaan yang menyiratkan bahwa diam pun belum tentu membuat seseorang aman.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Jika ada amanat yang bisa ditarik dari puisi ini, maka itu adalah kritik terhadap ketimpangan dan kekerasan dalam hidup sosial. Leon Agusta seolah ingin berkata: dunia ini tidak selalu adil bagi mereka yang lemah, dan bahkan untuk bertahan hidup pun, sering kali seseorang harus memilih untuk diam, untuk menyembunyikan luka, agar tidak menjadi mangsa.
Namun dalam kegetiran itu, puisi ini juga menyuarakan sesuatu yang lebih dalam: kesadaran akan betapa berbahayanya dunia yang membuat kelembutan tak punya tempat untuk hidup.
Ketika Domba Harus Diam
Puisi “Di Padang Belukar” karya Leon Agusta adalah salah satu puisi pendek yang menyimpan gugatan sosial dan emosional yang tajam. Dengan simbol anak domba, penyair membawa kita menyusuri padang kehidupan yang tak ramah, penuh jebakan dan bahaya. Di sana, kelembutan bukanlah kekuatan, melainkan ancaman bagi dirinya sendiri. Dan dalam kesunyian itulah, manusia hidup—tak berdaya, namun tetap bertahan.
Membaca puisi ini seperti berdiri diam di hutan belukar, mengamati seekor domba yang ingin tetap hidup—bukan dengan melawan, tetapi dengan menyembunyikan napas dan luka-lukanya dari dunia yang tak pernah bersahabat.
Puisi: Di Padang Belukar
Karya: Leon Agusta
Biodata Leon Agusta:
- Leon Agusta (Ridwan Ilyas Sutan Badaro) lahir pada tanggal 5 Agustus 1938 di Sigiran, Maninjau, Sumatra Barat.
- Leon Agusta meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2015 (pada umur 77) di Padang, Sumatra Barat.
- Leon Agusta adalah salah satu Sastrawan Angkatan 70-an.