Embun
kuburu engkau dengan menapaki tanda-tanda
jejak, sambil bertiti di busur waktu
aku senantiasa terpesona padamu
tak terlalu salah bukan, untuk menjadi terompahmu
dengan pengertian yang bagaimana
aku sampai padamu
biar dengan cara yang paling hina sekali pun
kau imami kami pada sekali sholat maghrib
tiba pada salam bagi yang di langit
salam bagi yang di bumi
salam bagi yang bermukim
di antara langit dan bumi
seusai itu, engkau pun lenyap
sudah tak patut lagikah rumah ini, ya, kekasih
yang tumbuh busuk di degab jantungku
yang kubangun dari bulir darah
dan sumsumku
ah, surau yang berada di dalam hatiku
lampu pijar lamat di tanjung yang sepi itukah
dari berjuta-juta, berjuta-juta
sinyalmu, kekasih
Sumber: Horison (Mei, 2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Embun" karya Ajamuddin Tifani adalah salah satu karya yang mengundang kita untuk merenung tentang pencarian spiritual dan kerinduan mendalam. Dengan balutan bahasa simbolik, puisi ini membentuk atmosfer yang sunyi, penuh getar batin, dan mengajak kita masuk ke dalam ruang yang sangat personal antara pencari dan yang dicari.
Tema: Pencarian Spiritual dan Kerinduan Abadi
Tema utama dari puisi ini adalah pencarian spiritual dan kerinduan tanpa akhir. Tokoh aku liris dalam puisi tampak memburu sesuatu yang lebih tinggi, lebih suci—digambarkan sebagai "engkau", yang bisa dipahami sebagai sosok kekasih spiritual, Tuhan, atau cita-cita luhur. Pencarian ini dilalui dengan penuh kerendahan hati, bahkan bersedia menjadi "terompah" (alas kaki), sebuah simbol penyerahan diri sepenuhnya.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan rohani seorang pencari. Dia mengikuti tanda-tanda ("jejak") yang samar, dengan waktu sebagai busur perjalanan. Ada upaya mendekat, ada pesona yang dirasakan, tapi juga ada rasa kehilangan, karena setelah "engkau" memimpin mereka dalam satu sholat maghrib yang sakral, sang kekasih pun lenyap.
Perjalanan ini tidak hanya bersifat eksternal, melainkan perjalanan ke dalam hati yang membangun "rumah" dari darah dan sumsum—simbol dari sesuatu yang dibangun dengan seluruh pengorbanan diri.
Makna Tersirat: Pencarian yang Melelahkan tapi Mulia
Makna tersirat dalam puisi ini begitu dalam: pencarian terhadap sesuatu yang agung sering kali penuh dengan keterasingan dan kesepian. Meski semua daya upaya telah dikerahkan, seringkali hasilnya adalah ketiadaan yang justru menuntut kita untuk terus mencari.
Ada juga refleksi tentang kerendahan hati: bahwa untuk sampai kepada yang suci, tak masalah jika harus melewati jalan yang hina atau sulit. Bahkan, sang pencari siap menjadi alas kaki demi mencapai cinta sejati atau kehadiran ilahi.
Suasana dalam Puisi: Hening, Sunyi, dan Penuh Perasaan
Suasana dalam puisi ini sangat hening dan penuh getaran emosional. Nuansa spiritual terasa kental, seakan segala sesuatu terjadi dalam ruang yang kosong namun berisi kerinduan dan harap. Imaji tentang "lampu pijar lamat di tanjung yang sepi" menguatkan suasana sunyi dan sepi, di mana pencarian berlangsung dalam kesendirian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Salah satu amanat yang bisa diambil dari puisi ini adalah bahwa pencarian terhadap makna hidup, cinta sejati, atau Tuhan adalah perjalanan yang butuh kerendahan hati dan ketabahan. Meski terkadang yang dicari tampak hilang atau tak bisa digapai, perjalanan itu sendiri adalah bentuk kesetiaan yang luhur.
Imaji: Jejak, Rumah Darah, Lampu Pijar, Surau di Hati
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat:
- "Jejak di busur waktu": visualisasi perjalanan spiritual melintasi dimensi waktu.
- "Rumah dari bulir darah dan sumsum": gambaran tentang perjuangan batin dan pengorbanan mendalam.
- "Lampu pijar lamat di tanjung yang sepi": melukiskan kesepian yang tetap disinari harapan kecil.
- "Surau di dalam hatiku": memperlihatkan bahwa pencarian spiritual itu terletak dalam diri sendiri.
Majas: Metafora, Simile, dan Personifikasi
Dalam puisi ini, beberapa majas yang tampak adalah:
- Metafora: "busur waktu" sebagai perjalanan hidup, "surau di dalam hatiku" sebagai tempat suci dalam diri.
- Simile: "tak terlalu salah bukan, untuk menjadi terompahmu" – menunjukkan kesediaan merendahkan diri demi yang dicintai.
- Personifikasi: rumah yang "tumbuh busuk di degab jantungku" memberi karakter hidup pada rumah sebagai simbol hati yang menua dan terluka.
"Embun" sebagai Sebuah Doa dan Tangisan Diam
Melalui puisi "Embun", Ajamuddin Tifani mengajak kita merenungkan tentang betapa sulitnya mengejar sesuatu yang agung dan tak terjangkau. Embun dalam judul bisa dimaknai sebagai sesuatu yang rapuh, indah, dan cepat lenyap—seperti kerinduan spiritual itu sendiri.
Puisi ini berbicara tentang kesetiaan tanpa syarat, kerelaan untuk berkorban, dan keteguhan hati untuk terus mencari, bahkan dalam sepi dan kehilangan. Sebuah pengingat bahwa dalam hidup ini, pencarian itu sendiri bisa menjadi doa, dan kesetiaan itu sendiri bisa menjadi kemenangan.
Puisi: Embun
Karya: Ajamuddin Tifani
Biodata Ajamuddin Tifani:
- Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 23 September 1951.
- Ajamuddin Tifani meninggal dunia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Mei 2002.
