Puisi Ajamuddin Tifani

Puisi: Mereguk Magrib (Karya Ajamuddin Tifani)

Mereguk Magrib merangkak di atas bukit kenyataan menatap pedih burung lepas senja apa yang kau turuni setelah puncak yang terjejaki darah hatimu ini …

Puisi: Hangus (Karya Ajamuddin Tifani)

Hangus ke mana lagi perginya burung penyair baca puisi? alahai, mereka berbondong menuju titik didih matahari ia panjati udara dengan mata yang tertu…

Puisi: Pagi Akhir Tahun (Karya Ajamuddin Tifani)

Pagi Akhir Tahun gasan: aminah sebuah pagi yang bening dan kudus bagai perak yang dihamparkan seluas batas bumi ini dan telah berkenan mengisi baris-…

Puisi: Sejak Lama (Karya Ajamuddin Tifani)

Sejak Lama zikir bersama la bastari sejak lama aku tak percaya kepada ketenteraman dan sorga hanya bagi si pengharap yang menunggui kehidupan dengan …

Puisi: Karam (Karya Ajamuddin Tifani)

Karam aku ingat kamu, sebab, bukanlah laut namanya jika kau tak membiarkan perahu berkaraman pada lenguh-lunglaiku, pada puncak ketinggian aku kenang…

Puisi: Alif (Karya Ajamuddin Tifani)

Alif Alif tegakkan Alif tunjukkan cahaya langit pada Alam Sebelum Semesta – Sebelum Adam Sesudah Adam Alif Aku dalam Empulur di tegak Alif Tegakkan A…

Puisi: Sajak Memandang Bulan (Karya Ajamuddin Tifani)

Sajak Memandang Bulan bagi LF pandangi bulan saja, anakku yang sebagian nampak di lobang atap rumah petak ini ia tersenyum padamu, dengan salam yang …

Puisi: Lilin (Karya Ajamuddin Tifani)

Lilin aku bermimpi surat, lilin lebur kepada malam kabar baik apa yang memijar di kelopak bunga hari, lilin setelah firasat meleleh ke terang siang a…

Puisi: Mawar (Karya Ajamuddin Tifani)

Mawar alangkah kuntum mawar yang berbunga duri alangkah duri kuntum yang berbunga mawar di taman, tempat kita bercengkerama ini, teduh tapi poranda, …

Puisi: Requiem Meratus (Karya Ajamuddin Tifani)

Requiem Meratus Bagi Joko Pekik dan engkau pun saksi atas terkelupasnya kerak bumi di meratus dan siapa yang menjadikan suka atas kesengsaraan ini, j…

Puisi: Rumah Puisi (Karya Ajamuddin Tifani)

Rumah Puisi mengapa masih jua limpas rindu lautmu setelah kuciptakan surau di puncak karang setelah kuhiasi langit malammu dengan tujuhpuluhribu kuba…

Puisi: Pagi di Rimba (Karya Ajamuddin Tifani)

Pagi di Rimba ricau unggas, dan daun basah angin mengipas wangi rimba, waktu sampai memetik hari, semburat cahaya dalam kantuk nafas, memanjati matah…

Puisi: Perenjak (Karya Ajamuddin Tifani)

Perenjak baik! Untuk itukah cuma burung perenjak yang tengah asyik menyanyi segera untuk menyatakan: "Tidak!" tapi burung perenjak pun puny…

Puisi: Jika Ia Daun (Karya Ajamuddin Tifani)

Jika Ia Daun jika ia daun, berilah gugur, berilah agar tanah dapat menghimpunkan humusnya restu bagi luka-riangnya ibu pohonnya jika ia darah, sempur…

Puisi: Ada Daun Gugur (Karya Ajamuddin Tifani)

Ada Daun Gugur lalu i’tibar itu berserakan: keserakahan, peperangan, daun gugur yang menguning, dan hujan yang ungu dan air sungai yang kelabu dan aw…
© Sepenuhnya. All rights reserved.