Puisi: Kangen (Karya Oka Rusmini)

Puisi "Kangen" karya Oka Rusmini bercerita tentang perasaan rindu yang mendalam terhadap sosok ayah, seorang laki-laki yang meskipun hidup dalam ...
Kangen
teringat bapak

Sekerat demi sekerat, lelaki itu melepas kulitku. Mengeluarkan isi kepalaku. Bintang gelap menancap di matanya. Ibunya telah merenggut ratusan api yang kusimpan sejak kanak-kanak. Kumasuki wilayah tanpa peta, aku rindu aroma bapakku, yang rajin menghirup gelapnya pagi, sambil mengumpulkan kayu-kayu kering, kakinya dibiarkan tertancap di keruncingan batu. Lelaki itu selalu diam, sambil mematahkan asap yang melukai tubuhku. Sebelum matahari tinggi, dia menutup matanya, lalu mengeruk dapur, dan kembali menjatuhkan tubuhnya memejamkan mata melupakan keping-keping kemiskinan yang dia tancapkan sendiri di tubuhnya. Aku jijik, selalu ingin memuntahkan dan menuangkan seluruh isi tubuh ke otaknya. Agar dia bisa membuka mata, dan memeras bintik-bintik keringat.


Itulah lelaki itu, yang memuja kebesarannya, sementara anak-anaknya berbuih, mengunyah kebesarannya. Aku jadi rindu Bapak, kemiskinan yang dicangkul di darahku melahirkan aroma bunga yang mampu mengupas rohku. Lelaki itu tetap duduk dengan sebatang rokok, tak bergerak, suaranya memuntahkan seluruh isi tubuhku.

Kumiliki dua tubuh tua. Aku memilih Bapak, yang masih berani menengadahkan wajahnya, membiarkan matahari dan orang-orang menatapnya dengan beragam tusukan. Aku sempat melihat matahari mencakar tubuhnya, atau orang-orang menanamkan kata-kata busuk. Bapakku memasuki seluruh kemiskinannya. Jarang kulihat lelaki itu memejamkan mata, sambil mengupas masa lalunya, lalu mendengkur nikmat, sambil mengeram ilusi.

Aku jadi ingat Bapak. Ingin kuambil pisau komandonya, menguliti lelaki tua yang selalu berkicau di depanku. Kutancapkan di otaknya agar dia miliki rasa malu. Anak-anak apa yang akan menjelma dari tubuhnya?

2005

Sumber: Pandora (2008)
Catatan:
Judul lain dari puisi ini adalah Lelaki yang Memadamkan Bintang di Matanya. Selain di buku Pandora (2008), puisi ini juga dijumpa di buku Nyanyian Pulau-Pulau (2010).

Analisis Puisi:

Puisi "Kangen" karya Oka Rusmini merupakan sebuah karya yang sarat dengan emosi, menggambarkan perasaan rindu yang mendalam, sekaligus kritik terhadap keadaan sosial dan pribadi yang dirasakan oleh penyair. Dalam puisi ini, Oka Rusmini mengajak pembaca untuk merenung tentang hubungan antara individu dengan masa lalu mereka, terutama hubungan dengan figur orang tua, dalam hal ini, dengan sosok ayah. Melalui gambaran yang kuat dan simbolis, puisi ini mengungkapkan perasaan rindu, penghormatan, serta ketegangan yang muncul dari pengalaman pribadi dan pengamatan sosial.

Tema Puisi: Rindu, Kemiskinan, dan Konflik Sosial

Tema utama yang diangkat dalam puisi ini adalah rindu, tetapi juga penuh dengan elemen kemiskinan dan penilaian terhadap keadaan sosial yang lebih luas. Penyair membandingkan sosok ayah yang penuh ketabahan dengan lelaki tua yang hidup dalam kemiskinan dan kebodohan, menyiratkan kritik terhadap keadaan sosial yang mempengaruhi kehidupan keluarga dan individu. Rindu terhadap sosok bapak yang rajin dan gigih, serta refleksi terhadap kemiskinan yang diwariskan, menjadi elemen penting dalam puisi ini.

Makna Tersirat: Penyesalan dan Keinginan untuk Melawan Keadaan

Makna tersirat dalam puisi ini berfokus pada perasaan penyesalan, kebingungan, dan kecaman terhadap figur lelaki tua yang digambarkan sebagai sosok yang lemah dan penuh keputusasaan. Penyair membandingkan lelaki tua ini dengan ayah yang telah menjalani hidup penuh kesulitan dengan kepala tegak, meskipun terperangkap dalam kemiskinan. Ada keinginan dari penyair untuk melawan keadaan yang diciptakan oleh lelaki tua ini, yang hidup dalam kebodohan dan tidak berdaya. Penyair juga menunjukkan rasa jijik dan ketidakpuasan terhadap apa yang dilihat sebagai sikap pasif lelaki tua tersebut yang terus-menerus melanggengkan kemiskinan dan penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang perasaan rindu yang mendalam terhadap sosok ayah, seorang laki-laki yang meskipun hidup dalam kemiskinan, memiliki keberanian dan kekuatan untuk menanggung beban hidup dengan kepala tegak. Dalam bagian pertama puisi, penyair mengungkapkan rasa kehilangan terhadap ayah yang telah menjadi simbol ketabahan, kerja keras, dan penghormatan pada hidup, meskipun penuh dengan kesulitan. Ayah digambarkan sebagai figur yang rajin, bahkan dalam kesulitan, sedangkan lelaki tua lainnya hanya tampak diam dan membiarkan dirinya terperangkap dalam keadaan yang tidak berdaya.

Refleksi terhadap Kemiskinan dan Kritis terhadap Lelaki Tua

Kemiskinan menjadi tema sentral dalam puisi ini. Penyair menggambarkan lelaki tua sebagai seseorang yang melanjutkan kehidupan dalam kesusahan tanpa ada usaha untuk memperbaiki keadaan. "Kemiskinan yang dicangkul di darahku melahirkan aroma bunga yang mampu mengupas rohku" adalah penggambaran bagaimana kemiskinan tersebut mempengaruhi kehidupan dan moral seseorang. Penyair juga mengkritik lelaki tua yang "memuja kebesarannya" sementara anak-anaknya "berbuih, mengunyah kebesarannya," menggambarkan ketidakmampuan lelaki tersebut untuk memimpin atau memberi contoh yang baik bagi generasi berikutnya.

Amanat yang Tersirat: Pembelajaran dari Sosok Ayah dan Kesadaran Diri

Amanat yang tersirat dalam puisi ini adalah pentingnya keberanian, kerja keras, dan kesadaran sosial. Penyair memilih untuk mengingat ayahnya sebagai sosok yang mampu menanggung beban hidup dengan penuh ketabahan dan keberanian, meskipun ia hidup dalam kemiskinan. Melalui perbandingan ini, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat lebih dalam tentang arti dari kekuatan batin dan tekad untuk bertahan hidup. Penyair juga menunjukkan betapa pentingnya untuk tidak menyerah pada keadaan dan untuk tidak membiarkan kemiskinan atau keadaan sosial menjadi alasan untuk berhenti berjuang.

Rindu yang Memperdalam Keterhubungan dengan Masa Lalu

Puisi "Kangen" karya Oka Rusmini adalah sebuah ungkapan rindu yang mendalam terhadap sosok ayah yang penuh ketabahan, sekaligus kritik tajam terhadap sosok lelaki tua yang terjebak dalam kemiskinan dan kebodohan. Dengan menggambarkan dua sosok yang sangat kontras ini, puisi ini tidak hanya mengungkapkan perasaan pribadi penyair, tetapi juga menggugah kesadaran pembaca untuk merenungkan kondisi sosial mereka. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai keberanian dan keteguhan dalam hidup, serta menyadari bahwa kehidupan yang lebih baik dimulai dengan kesadaran untuk berubah dan berusaha.

Oka Rusmini
Puisi: Kangen
Karya: Oka Rusmini

Biodata Oka Rusmini:
  • Oka Rusmini lahir di Jakarta pada tanggal 11 Juli 1967.
© Sepenuhnya. All rights reserved.