Puisi: Mengukur Kesunyian (Karya Mustafa Ismail)

Puisi “Mengukur Kesunyian” karya Mustafa Ismail bercerita tentang seseorang yang berjalan dalam kehidupan seperti melewati tikungan demi tikungan.
Mengukur Kesunyian

Di setiap tikungan, aku mengukur kesunyian:
makin luas, langit makin buram

Inilah perjalanan seribu tahun: berangkat dari
pagi yang jauh, menuju pagi baru
tapi kesunyian demi kesunyian tak terbendung

Kita mengutip debu, daun kering, 
dan sisa rumput. Matahari mati di mulut-mulut 
yang menebar senyum di kotak kaca

Inilah perjalanan ke kesunyian: sunyi selebar
kota, seluas kampung
jalanan penuh pohon tua yang tumbang

Kita terperosok cemas di tiap tikungan
mengerang di kesendirian.

Depok, 24 April 2006

Analisis Puisi:

Puisi “Mengukur Kesunyian” karya Mustafa Ismail adalah potret mendalam tentang kesunyian manusia dalam perjalanan panjang kehidupan. Ditulis dengan gaya yang liris dan reflektif, puisi ini menyuarakan suara hati yang resah, merasa terasing, namun terus bergerak dalam putaran waktu yang sunyi. Bait demi baitnya seperti catatan perjalanan batin yang jenuh oleh rutinitas, sepi, dan absurditas zaman.

Tema: Kesunyian dalam Perjalanan Hidup

Puisi ini dengan sangat kuat mengekspresikan tema tentang kesunyian eksistensial yang menyertai manusia dalam perjalanannya menempuh hidup. Bukan kesunyian yang lahir dari tiadanya suara, melainkan sunyi yang berasal dari ketimpangan makna, alienasi, dan kehampaan dalam kehidupan modern.

Puisi ini menyuarakan bahwa semakin panjang langkah kehidupan, semakin terasa sunyi itu menyelubungi—sebuah kesunyian yang tidak hanya hadir di ruang sepi, tetapi juga di tengah keramaian kota, senyum televisi, bahkan dalam perjalanan ke "pagi baru."

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan dalam kehidupan seperti melewati tikungan demi tikungan. Setiap tikungan adalah metafora dari perubahan, fase hidup, atau momen-momen reflektif yang pada akhirnya tidak membawa kehangatan, melainkan kesunyian yang kian meluas.

“Inilah perjalanan seribu tahun” menandakan bahwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin yang panjang dan melelahkan.

“Pagi yang jauh menuju pagi baru” menyiratkan harapan, tetapi harapan itu senantiasa dibayang-bayangi oleh kesunyian yang “tak terbendung.”

Makna Tersirat: Alienasi di Tengah Modernitas

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan erat dengan alienasi—perasaan terasing dan kesendirian yang begitu kuat meskipun dunia terlihat ramai. Misalnya, bait:

“Matahari mati di mulut-mulut yang menebar senyum di kotak kaca” menggambarkan dunia media atau televisi yang penuh kepalsuan. “Kotak kaca” (yang kemungkinan besar mengacu pada TV) menyajikan senyuman, namun kehilangan makna; bahkan matahari pun mati di sana—cahaya dan kehidupan menjadi semu.

Ada juga simbol “debu, daun kering, dan sisa rumput” yang dikutip—ini adalah fragmen kehidupan yang kering dan tak lagi hidup, tanda dari harapan yang terkikis atau dunia yang kehilangan vitalitasnya.

Suasana dalam Puisi: Murung, Sunyi, dan Reflektif

Suasana dalam puisi ini sangat sunyi, suram, dan kontemplatif. Tidak ada kebisingan atau kegembiraan; hanya perjalanan yang penuh keheningan, kota yang tak bersuara, dan rasa sepi yang meresap hingga ke akar. Tiap baris seperti napas panjang yang dikeluarkan oleh seseorang yang letih dengan keadaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan: Mewaspadai Kekosongan Makna

Jika ditarik sebagai amanat, puisi ini seolah mengajak kita untuk merenung lebih dalam terhadap arah kehidupan kita sendiri. Ia menyiratkan bahwa dalam kehidupan modern yang cepat, penuh citra dan ilusi, manusia bisa kehilangan dirinya sendiri, tenggelam dalam kesunyian eksistensial.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesunyian adalah bagian dari perjalanan, tetapi ketika tidak dipahami, ia bisa mengurung dan menjerat. Kita diminta untuk lebih peka: terhadap waktu, terhadap arah, terhadap makna dari semua yang kita jalani.

Imaji: Lanskap Kesunyian yang Kuat

Puisi ini kaya akan imaji visual dan emosional yang menancap kuat dalam benak pembaca:
  • “Tikungan”, “jalanan penuh pohon tua yang tumbang” — membangun lanskap yang sepi dan melankolis.
  • “Kita mengutip debu, daun kering, dan sisa rumput” — menciptakan imaji tentang sisa-sisa kehidupan, sesuatu yang pernah hidup namun kini hanya serpihan.
  • “Matahari mati di mulut-mulut yang menebar senyum di kotak kaca” — imaji kontras antara harapan (matahari, senyum) dan kehampaan (kematian, kepalsuan media).

Majas: Metafora, Personifikasi, dan Hiperbola

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:

Metafora:
  • “Perjalanan seribu tahun” sebagai gambaran dari perjalanan hidup yang panjang, mungkin juga menggambarkan penderitaan atau pencarian makna.
  • “Kesunyian selebar kota” — sunyi bukan hanya rasa, tapi menjadi lanskap besar yang melingkupi segalanya.
Personifikasi:
  • “Matahari mati di mulut-mulut…” adalah bentuk personifikasi yang menggambarkan sinar kehidupan yang sirna dalam kepalsuan komunikasi modern.
Hiperbola:
  • “Perjalanan seribu tahun” bisa dimaknai sebagai bentuk hiperbola dari lamanya proses kontemplatif atau penderitaan batin yang tak berujung.

Kesunyian Bukan Sekadar Keheningan

Melalui puisi "Mengukur Kesunyian", Mustafa Ismail berhasil menyampaikan kesan mendalam tentang betapa sunyi bisa hadir dalam segala bentuk kehidupan: dalam perjalanan, dalam senyuman palsu, dalam kota yang ramai namun hampa. Ini adalah puisi yang tak hanya menyuarakan suara dalam hati seseorang, tetapi juga memantulkan realitas sosial hari ini — di mana kesunyian hadir bukan karena tiadanya suara, tapi karena kehilangan makna.

Puisi ini patut dibaca perlahan, direnungkan dalam-dalam — karena di balik kesunyiannya, ia menggema dengan begitu nyaring.

Mustafa Ismail
Puisi: Mengukur Kesunyian
Karya: Mustafa Ismail

Biodata Mustafa Ismail:
  • Mustafa Ismail lahir pada tanggal 25 Agustus 1971 di Aceh.
© Sepenuhnya. All rights reserved.