Analisis Puisi:
Puisi “Mengukur Kesunyian” karya Mustafa Ismail adalah potret mendalam tentang kesunyian manusia dalam perjalanan panjang kehidupan. Ditulis dengan gaya yang liris dan reflektif, puisi ini menyuarakan suara hati yang resah, merasa terasing, namun terus bergerak dalam putaran waktu yang sunyi. Bait demi baitnya seperti catatan perjalanan batin yang jenuh oleh rutinitas, sepi, dan absurditas zaman.
Tema: Kesunyian dalam Perjalanan Hidup
Puisi ini dengan sangat kuat mengekspresikan tema tentang kesunyian eksistensial yang menyertai manusia dalam perjalanannya menempuh hidup. Bukan kesunyian yang lahir dari tiadanya suara, melainkan sunyi yang berasal dari ketimpangan makna, alienasi, dan kehampaan dalam kehidupan modern.
Puisi ini menyuarakan bahwa semakin panjang langkah kehidupan, semakin terasa sunyi itu menyelubungi—sebuah kesunyian yang tidak hanya hadir di ruang sepi, tetapi juga di tengah keramaian kota, senyum televisi, bahkan dalam perjalanan ke "pagi baru."
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan dalam kehidupan seperti melewati tikungan demi tikungan. Setiap tikungan adalah metafora dari perubahan, fase hidup, atau momen-momen reflektif yang pada akhirnya tidak membawa kehangatan, melainkan kesunyian yang kian meluas.
“Inilah perjalanan seribu tahun” menandakan bahwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan batin yang panjang dan melelahkan.
“Pagi yang jauh menuju pagi baru” menyiratkan harapan, tetapi harapan itu senantiasa dibayang-bayangi oleh kesunyian yang “tak terbendung.”
Makna Tersirat: Alienasi di Tengah Modernitas
Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan erat dengan alienasi—perasaan terasing dan kesendirian yang begitu kuat meskipun dunia terlihat ramai. Misalnya, bait:
“Matahari mati di mulut-mulut yang menebar senyum di kotak kaca” menggambarkan dunia media atau televisi yang penuh kepalsuan. “Kotak kaca” (yang kemungkinan besar mengacu pada TV) menyajikan senyuman, namun kehilangan makna; bahkan matahari pun mati di sana—cahaya dan kehidupan menjadi semu.
Ada juga simbol “debu, daun kering, dan sisa rumput” yang dikutip—ini adalah fragmen kehidupan yang kering dan tak lagi hidup, tanda dari harapan yang terkikis atau dunia yang kehilangan vitalitasnya.
Suasana dalam Puisi: Murung, Sunyi, dan Reflektif
Suasana dalam puisi ini sangat sunyi, suram, dan kontemplatif. Tidak ada kebisingan atau kegembiraan; hanya perjalanan yang penuh keheningan, kota yang tak bersuara, dan rasa sepi yang meresap hingga ke akar. Tiap baris seperti napas panjang yang dikeluarkan oleh seseorang yang letih dengan keadaan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan: Mewaspadai Kekosongan Makna
Jika ditarik sebagai amanat, puisi ini seolah mengajak kita untuk merenung lebih dalam terhadap arah kehidupan kita sendiri. Ia menyiratkan bahwa dalam kehidupan modern yang cepat, penuh citra dan ilusi, manusia bisa kehilangan dirinya sendiri, tenggelam dalam kesunyian eksistensial.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesunyian adalah bagian dari perjalanan, tetapi ketika tidak dipahami, ia bisa mengurung dan menjerat. Kita diminta untuk lebih peka: terhadap waktu, terhadap arah, terhadap makna dari semua yang kita jalani.
Imaji: Lanskap Kesunyian yang Kuat
Puisi ini kaya akan imaji visual dan emosional yang menancap kuat dalam benak pembaca:
- “Tikungan”, “jalanan penuh pohon tua yang tumbang” — membangun lanskap yang sepi dan melankolis.
- “Kita mengutip debu, daun kering, dan sisa rumput” — menciptakan imaji tentang sisa-sisa kehidupan, sesuatu yang pernah hidup namun kini hanya serpihan.
- “Matahari mati di mulut-mulut yang menebar senyum di kotak kaca” — imaji kontras antara harapan (matahari, senyum) dan kehampaan (kematian, kepalsuan media).
Majas: Metafora, Personifikasi, dan Hiperbola
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
Metafora:
- “Perjalanan seribu tahun” sebagai gambaran dari perjalanan hidup yang panjang, mungkin juga menggambarkan penderitaan atau pencarian makna.
- “Kesunyian selebar kota” — sunyi bukan hanya rasa, tapi menjadi lanskap besar yang melingkupi segalanya.
Personifikasi:
- “Matahari mati di mulut-mulut…” adalah bentuk personifikasi yang menggambarkan sinar kehidupan yang sirna dalam kepalsuan komunikasi modern.
Hiperbola:
- “Perjalanan seribu tahun” bisa dimaknai sebagai bentuk hiperbola dari lamanya proses kontemplatif atau penderitaan batin yang tak berujung.
Kesunyian Bukan Sekadar Keheningan
Melalui puisi "Mengukur Kesunyian", Mustafa Ismail berhasil menyampaikan kesan mendalam tentang betapa sunyi bisa hadir dalam segala bentuk kehidupan: dalam perjalanan, dalam senyuman palsu, dalam kota yang ramai namun hampa. Ini adalah puisi yang tak hanya menyuarakan suara dalam hati seseorang, tetapi juga memantulkan realitas sosial hari ini — di mana kesunyian hadir bukan karena tiadanya suara, tapi karena kehilangan makna.
Puisi ini patut dibaca perlahan, direnungkan dalam-dalam — karena di balik kesunyiannya, ia menggema dengan begitu nyaring.
Karya: Mustafa Ismail
Biodata Mustafa Ismail:
- Mustafa Ismail lahir pada tanggal 25 Agustus 1971 di Aceh.
