Puisi: Menunggu Itu (Karya Taufiq Ismail)

Puisi "Menunggu Itu" menggambarkan pengalaman menunggu dengan cermat dan mendalam. Dengan menggunakan gambaran stasiun kereta-api dan elemen ...
Menunggu Itu

Menunggu itu sepi
Menunggu itu puisi
Menunggu itu ngeri
Menunggu itu begini:

Sebuah setasiun kereta-api
Di negeri sunyi
Malam yang berdiri di sini.
Ada wajahmu dan wajahku
Benarkah jadi begini?

Rambutnya hitam sepi itu
Rambutnya putih sepi itu
Sunyi ialah sebuah bangku kamartunggu
Dan jam tua, berdetik di atas itu

Sunyi itu tak pernah tidur
Sunyi itu tamu yang bisu
Menawarkan rokok padamu

Sunyi itu mengembara kemana
Sunyi kota gemuruh
Sunyi padang penembakan
Sunyi tulang-belulang

Sebuah dunia yang ngeri
Menyuruh orang menanti
Ada karcis, ada kopor yang tua
Perjalanan seperti tak habisnya

Menunggu itu sepi
Menunggu itu ngeri
Menunggu itu teka-teki
Menunggu firdausi

1967

Sumber: Horison (Mei, 1967)

Analisis Puisi:

Puisi "Menunggu Itu" karya Taufiq Ismail adalah refleksi mendalam tentang pengalaman menunggu, di mana penyair menggambarkan perasaan sepi, ngeri, dan teka-teki yang melekat pada proses menantikan sesuatu.

Gambaran Stasiun Kereta-Api: Penyair menggunakan gambaran stasiun kereta-api sebagai latar belakang untuk menggambarkan atmosfer menunggu. Stasiun kereta-api menjadi metafora bagi tempat-tempat di mana kita menantikan kedatangan sesuatu yang belum pasti, menciptakan suasana sunyi dan hening yang menghantui.

Kontras Antara Hitam dan Putih: Dalam deskripsi rambut yang hitam dan putih, penyair mengekspresikan kontras yang kuat antara masa muda dan tua, kehidupan dan kematian. Rambut yang hitam melambangkan kehidupan yang penuh semangat dan harapan, sementara rambut yang putih mencerminkan usia tua dan kebijaksanaan yang didapat dari pengalaman.

Sunyi sebagai Teman dan Musuh: Penyair mengeksplorasi konsep sunyi sebagai teman yang bisu namun juga ngeri. Sunyi diwakili sebagai entitas yang menemani kita dalam proses menunggu, namun juga menjadi sumber kegelisahan dan ketidakpastian. Sunyi menghadirkan rokok sebagai tawaran, menggambarkan upaya untuk mengatasi kecemasan dan ketidaknyamanan saat menantikan sesuatu.

Gambaran Dunia yang Ngeri: Penyair menunjukkan bahwa proses menunggu membawa perasaan ngeri dan teka-teki yang menghantui. Gambaran karcis dan kopor tua menggambarkan perjalanan yang tak berkesudahan, menghadirkan konsep keabadian dan perjalanan menuju firdausi, sebuah tempat yang mungkin hanya dapat dicapai setelah melewati proses menunggu yang panjang dan melelahkan.

Puisi "Menunggu Itu" menggambarkan pengalaman menunggu dengan cermat dan mendalam. Dengan menggunakan gambaran stasiun kereta-api dan elemen-elemen visual yang kuat, penyair berhasil menyampaikan perasaan sepi, ngeri, dan teka-teki yang melekat pada proses menantikan sesuatu. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan arti dan makna dari pengalaman menunggu dalam kehidupan manusia.

Puisi Taufiq Ismail
Puisi: Menunggu Itu
Karya: Taufiq Ismail

Biodata Taufiq Ismail:
  • Taufiq Ismail lahir pada tanggal 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat.
  • Taufiq Ismail adalah salah satu Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.