Selalu dan Selalu Ada yang Tertinggal
Selalu dan selalu ada yang tertinggal
duri segenap kepuasan
Karena dunia tak menyediakan Kesempurnaan
Kata selalu bermakna dua
Senjata bisa memberi jahat dan baik
Janji tat selalu harus terpenuhi
Haruskah aku menutup mata kepada Kenyataan?
Adakah nyanyian untuk mengurai kepastian atau
Kerinduan?
Adakah tonggak untuk memagari kebimbangan?
Haruskah aku jadi buta karena melihat
kulit dan warna kecantikan?
Ataukah lari aku ke gunung dan menjauhkan
segala keramaian?
Karena dunia tak menghargai nyawa atau kejujuran?
1972
Sumber: Horison (Januari, 1973)
Catatan:
Puisi ini terbit di Horison edisi Januari, 1973 tanpa judul.
Analisis Puisi:
Puisi "Selalu dan Selalu Ada yang Tertinggal" karya Taufiq Ridwan adalah refleksi mendalam tentang ketidaksempurnaan dunia dan kebimbangan dalam menghadapi kenyataan. Dengan gaya bahasa yang lugas namun penuh makna, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan realitas kehidupan yang sering kali menyisakan luka, pertanyaan, dan dilema moral.
Tema Puisi
Tema utama dalam puisi ini adalah ketidaksempurnaan dunia dan pencarian makna hidup. Penyair menggambarkan bagaimana dunia tidak pernah bisa memberikan kepuasan sepenuhnya, selalu ada hal yang tertinggal atau tidak terselesaikan. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kebimbangan moral dan ketidakadilan, di mana penyair mempertanyakan apakah ia harus menutup mata terhadap kenyataan atau terus berusaha mencari jawaban.
Makna Tersirat
Secara tersirat, puisi ini mengungkapkan bahwa hidup selalu meninggalkan sesuatu yang belum selesai, baik itu dalam bentuk luka, pertanyaan, atau harapan yang tak terpenuhi. Penyair juga mengkritik bagaimana dunia sering kali tidak menghargai hal-hal yang seharusnya bernilai, seperti kejujuran dan nyawa manusia.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan konflik batin antara menerima kenyataan atau melarikan diri dari dunia yang penuh kepalsuan. Ada pertanyaan apakah seseorang harus tetap berjuang menghadapi realitas atau menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang dipenuhi kebimbangan dan ketidakadilan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan ketidaksempurnaan dunia dan mempertanyakan makna dari berbagai hal dalam hidup. Ia merasa bahwa selalu ada sesuatu yang tertinggal dalam setiap pengalaman, baik itu dalam kepuasan, janji, atau harapan.
Penyair juga mengkritisi dunia yang penuh kontradiksi, di mana kata dan tindakan sering kali memiliki makna ganda, dan janji tidak selalu ditepati. Ia mempertanyakan apakah harus menerima kenyataan atau mencari pelarian di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, penuh perenungan, dan sedikit gelisah. Ada rasa kecewa terhadap dunia, tetapi juga ada pencarian makna yang mendalam dalam setiap pertanyaan yang diajukan penyair.
Amanat/Pesan yang Disampaikan
Pesan utama dari puisi ini adalah kesadaran bahwa dunia tidak pernah sempurna dan selalu menyisakan sesuatu yang belum selesai. Penyair ingin mengajak pembaca untuk menerima kenyataan, tetapi juga tidak pasrah terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka.
Selain itu, puisi ini juga mengajarkan bahwa hidup adalah tentang mencari keseimbangan antara menerima kenyataan dan berusaha memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan beberapa imaji yang kuat, di antaranya:
- Imaji visual → "Ataukah lari aku ke gunung dan menjauhkan segala keramaian?" menciptakan gambaran seseorang yang ingin meninggalkan kehidupan ramai dan mencari ketenangan di alam.
- Imaji perasaan → "Karena dunia tak menyediakan Kesempurnaan" menggambarkan perasaan kecewa dan ketidakpuasan terhadap realitas yang ada.
- Imaji pendengaran → "Adakah nyanyian untuk mengurai kepastian atau kerinduan?" memberikan kesan harapan bahwa mungkin ada sesuatu yang bisa menenangkan hati dan memberikan jawaban atas kebimbangan.
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Paradoks → "Karena dunia tak menyediakan Kesempurnaan" menunjukkan kontradiksi bahwa meskipun manusia selalu mencari kesempurnaan, dunia tidak akan pernah bisa memberikannya.
- Personifikasi → "Karena dunia tak menghargai nyawa atau kejujuran?" memberikan sifat manusiawi kepada dunia, seolah-olah dunia memiliki kehendak sendiri dalam memperlakukan kehidupan manusia.
- Retorika → Banyak pertanyaan dalam puisi ini yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban langsung, tetapi bertujuan untuk mengajak pembaca merenungkan makna kehidupan.
Puisi "Selalu dan Selalu Ada yang Tertinggal" karya Taufiq Ridwan adalah refleksi filosofis tentang kehidupan, ketidaksempurnaan, dan kebimbangan dalam menghadapi kenyataan. Dengan tema ketidakpuasan, pencarian makna, dan kritik terhadap realitas, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana mereka menghadapi dunia yang penuh kontradiksi. Imaji yang kuat dan gaya bahasa yang lugas namun mendalam membuat puisi ini menyentuh serta relevan dengan pengalaman banyak orang.