Warisan Luka
Kami warisi lebih dari tanah,
Kami warisi dendam yang dikubur,
Di setiap ladang dan rumah tua,
Ada kisah tentang tangan yang dibungkam.
Kakek kami tunduk bukan karena rela,
Tapi karena tak ada pilihan nyata,
Feodalisme menanam rasa takut,
Yang tumbuh lebih tinggi dari pohon-pohon.
Ayah kami mencoba melawan,
Tapi suara dibayar dengan cambuk,
Ia kembali dalam diam panjang,
Dengan mata yang tak lagi menatap.
Kini kami berdiri di tengah zaman,
Di mana feodalisme sembunyi dalam jas,
Bukan lagi keris dan tanjak,
Tapi tetap menindas, tetap menyiksa.
Kami belajar dari luka lama,
Dari cerita yang dulu dilarang,
Bahwa kebebasan bukan hadiah,
Tapi harus diperjuangkan terus.
Puisi ini bukan hanya kata,
Ia adalah api dalam dada,
Yang ingin membakar sistem lama,
Dan menyalakan cahaya yang merata.
Kami bukan pembenci sejarah,
Tapi kami bukan budak masa lalu,
Kami ingin dunia yang adil,
Di mana manusia berdiri setara satu.
2025
Analisis Puisi:
Puisi “Warisan Luka” karya Yusriman menyentuh luka-luka lama yang tak sembuh, bahkan diwariskan lintas generasi. Dalam larik-lariknya, penyair tidak hanya mengingatkan kita pada sejarah kelam ketidakadilan, tetapi juga menunjukkan bagaimana luka itu membentuk kesadaran generasi hari ini. Ini bukan sekadar puisi, melainkan testimoni—tentang keberanian untuk tak lupa, dan tekad untuk tak tinggal diam.
Tema
Puisi ini mengangkat tema warisan luka sejarah, ketidakadilan sosial, dan perlawanan terhadap penindasan struktural. Yusriman dengan gamblang menyinggung sistem feodal, represi masa lalu, dan bagaimana semuanya itu masih memiliki sisa-sisa jejak dalam kehidupan kontemporer, meski dengan wajah berbeda.
Secara garis besar, puisi ini bercerita tentang pengalaman turun-temurun sebuah keluarga atau komunitas yang mengalami penindasan sejak era feodalisme hingga zaman modern. Kakek mereka tunduk karena tidak punya pilihan, ayah mereka dihukum karena melawan, dan kini generasi terbaru mencoba berdiri dengan penuh kesadaran akan sejarah luka itu. Sistem lama masih ada, hanya saja berubah bentuk—lebih rapi, lebih terselubung.
Makna Tersirat
Di balik setiap baitnya, puisi ini menyimpan makna tersirat tentang pentingnya kesadaran sejarah. Bahwa ketidakadilan tidak pernah benar-benar hilang, hanya berganti baju. Ada sindiran tajam terhadap modernisasi palsu—di mana jas menggantikan keris dan tanjak, tetapi cara menindas tetap sama.
Lebih jauh, puisi ini menunjukkan bahwa trauma sejarah bisa menjadi bahan bakar perjuangan, asal tidak dilupakan. Luka yang diwariskan bukan untuk diratapi, tapi untuk dipahami dan ditransformasikan menjadi semangat membangun tatanan baru yang lebih adil.
Imaji
Yusriman menghadirkan imaji-imaji yang kuat dan menyentuh, seperti:
- “Di setiap ladang dan rumah tua, / Ada kisah tentang tangan yang dibungkam.” → Ini membangkitkan bayangan rumah-rumah warisan di kampung yang menyimpan trauma kolektif.
- “Feodalisme menanam rasa takut, / Yang tumbuh lebih tinggi dari pohon-pohon.” → Sebuah metafora yang membuat ketakutan terasa menekan dan menjulang, tak terhindarkan.
- “Puisi ini bukan hanya kata, / Ia adalah api dalam dada,” → Imaji yang menggambarkan puisi sebagai senjata perlawanan, bukan sekadar karya sastra.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas untuk memperkuat pesannya:
- Metafora: “Feodalisme menanam rasa takut” atau “api dalam dada” menunjukkan cara penulis menyimbolkan kekuasaan dan semangat.
- Personifikasi: “Suara dibayar dengan cambuk” menyiratkan bahwa suara atau pendapat dianggap sebagai ancaman yang harus dihukum.
- Simbolisme: “Jas”, “keris dan tanjak”, atau “ladang dan rumah tua” melambangkan pergeseran zaman dan warisan kultural yang menyimpan luka.
Amanat / Pesan
Puisi ini menyampaikan pesan kuat bahwa kebebasan dan keadilan tidak datang sebagai hadiah, tetapi melalui perjuangan yang panjang dan sadar. Penyair mengajak kita untuk tidak menjadi “budak masa lalu”, tetapi juga tidak melupakan sejarah. Yang paling penting, puisi ini adalah seruan moral agar kita tetap waspada: bahwa ketidakadilan bisa bersembunyi di balik wajah-wajah yang tampak sopan dan modern.
Puisi “Warisan Luka” adalah puisi yang berbicara dengan tenang, namun menyimpan gejolak. Ia mengajak pembacanya untuk tidak sekadar membaca, tapi juga merenung dan bertindak. Dalam dunia yang sering melupakan akar luka, puisi ini hadir sebagai pengingat bahwa keadilan hanya bisa diperjuangkan oleh mereka yang mau belajar dari sejarah—tanpa membenci masa lalu, dan tanpa tunduk padanya.
Karya: Yusriman
Biodata Yusriman:
- Yusriman, sastrawan muda asal Pasaman Barat.
- Aktif dalam Pengelolaan Seminar Internasional Pusat Kajian Sastra Indonesia, Mazhab Limau Manis.
- Mahasiswa S2 Kajian Budaya, Universitas Andalas.