Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Ada yang Menjerat (Karya Iwan Fridolin)

Puisi "Ada yang Menjerat" karya Iwan Fridolin merupakan refleksi tentang kerinduan, kenangan, dan cinta yang terus mempengaruhi kehidupan seseorang ..
Ada yang Menjerat

Ada yang menjeratku, tiba-tiba
Engkau dengan sayap-sayapmu melayang di angkasa
Jendela terbentang aku menjenguk: hanya hujan
Dan anak-anak berlarian

Angin merayapi dinding
Menyeka bau keringat kering
Dan sepi yang asing
Cermin kecil bergambar bunga magnolia, gantungan baju
Dan sebuah lukisan
Di pojok ranjang pengantin sunyi dan lusuh
Kasur yang dingin mengungkap bau dan keluh
Bekas-bekas airmu dan airku

Dulu seringkali kita mendongeng
Tentang sekeranjang buah apel
Sekandang anak-anak
Sekali kuciumi perutmu yang kembung
Engkau menggeliat tertawa bagaikan
Ada apa, tanyamu
Ada dewa, jawabku
Dewa?
Cinta!

Ada yang menjeratku, tiba-tiba
Engkau dengan sayap-sayapmu melayang di angkasa
Jendela terbentang aku menjenguk: hanya hujan
Dan anak-anak berlarian.

1970

Sumber: Horison (Februari, 1974)

Analisis Puisi:

Puisi "Ada yang Menjerat" karya Iwan Fridolin adalah sebuah karya yang menyentuh hati dan mengungkapkan dinamika hubungan manusia yang penuh dengan kenangan, keintiman, dan sekaligus kerinduan. Dengan struktur yang sederhana namun kaya akan makna, puisi ini berhasil menyampaikan gambaran tentang kehilangan, cinta, dan waktu yang terus berlalu.

Tema

Puisi ini mengangkat tema tentang kerinduan dan keterjebakan dalam kenangan. Penyair menggambarkan perasaan yang datang tiba-tiba, seperti sesuatu yang menjerat, yang tidak bisa dihindari. Tema ini melibatkan konsep cinta yang kompleks—sebuah ikatan yang tak terlepaskan meskipun waktu dan jarak memisahkan. Dalam puisi ini, kerinduan menjadi kekuatan yang menarik kembali kenangan akan cinta dan hubungan yang pernah ada.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah sebuah pertarungan batin antara perasaan yang terus mengikat dan waktu yang terus bergerak. Keberadaan “sayap-sayapmu melayang di angkasa” menunjukkan kenangan yang seolah terbang tinggi dan sulit dijangkau, sementara “hanya hujan” dan “anak-anak berlarian” menggambarkan rutinitas hidup yang berlangsung tanpa henti meskipun ada perasaan yang tak pernah sepenuhnya bisa dilupakan. Cinta, yang pernah ada dan memengaruhi kehidupan penyair, tetap menjadi beban dan kenangan yang terus “menjerat” meskipun telah berlalu.

Puisi ini bercerita tentang sebuah hubungan yang penuh dengan kenangan indah namun juga kesedihan. Ada narasi tentang perasaan cinta yang mendalam, di mana kenangan indah masa lalu, seperti "sekeranjang buah apel" dan "sekandang anak-anak", menjadi bagian dari momen yang tidak bisa dilupakan. Namun, ada juga sebuah perasaan keterasingan dan jarak yang terasa seiring waktu berlalu, yang digambarkan melalui “ranjang pengantin sunyi dan lusuh” dan “kasur yang dingin”—simbol dari perasaan hampa dan kehilangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa melankolis dan penuh kerinduan. Gambaran suasana yang sunyi dan penuh kesepian terlihat jelas melalui deskripsi seperti “sepi yang asing”, “bau keringat kering”, dan “cermin kecil bergambar bunga magnolia”. Semua ini menciptakan latar yang sepi dan penuh kenangan yang masih membekas. Pembaca dibawa masuk ke dalam sebuah ruang yang penuh dengan masa lalu, yang meskipun sudah lama berlalu, tetap memiliki pengaruh besar dalam perasaan penyair.

Imaji

Puisi ini dibangun dengan imaji-imaji yang kuat untuk menggambarkan perasaan dan situasi yang terjadi:
  • “Sayap-sayapmu melayang di angkasa”: menggambarkan kenangan yang bebas dan terbang jauh, namun tetap membekas dalam ingatan.
  • “Jendela terbentang aku menjenguk: hanya hujan”: hujan menjadi simbol dari kesedihan dan penantian yang tak terjawab.
  • “Ranji pengantin sunyi dan lusuh”: menciptakan gambaran tentang kehilangan yang mendalam dan perasaan kosong setelah cinta yang pernah ada.
Melalui imaji-imaji ini, penyair menyampaikan perasaan yang kompleks tentang cinta yang telah bertransformasi menjadi kenangan dan kerinduan.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas untuk memperkaya makna:
  • Metafora: Metafora seperti “sayap-sayapmu melayang di angkasa” menghubungkan kenangan dengan sesuatu yang tidak bisa digapai, dan “ranjang pengantin sunyi dan lusuh” menggambarkan kehampaan setelah cinta yang pernah ada.
  • Personifikasi: Dalam puisi ini, “hujan” dan “angin” diberi sifat yang dapat merasuki dan mempengaruhi suasana hati penyair, seolah-olah elemen-elemen alam tersebut turut merasakan dan mempengaruhi perasaan yang tengah dirasakan.
Majas ini memberikan kedalaman pada perasaan penyair yang tersembunyi di balik kata-kata sederhana namun penuh makna.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan tentang kekuatan kenangan dan cinta yang tetap ada meski waktu berlalu. Ada perasaan keterjebakan dalam ingatan dan perasaan cinta yang pernah ada, meskipun kehidupan terus berjalan dan orang-orang berlarian mengejar harapan mereka. Sebuah hubungan, meskipun telah berakhir, tetap meninggalkan bekas yang dalam, yang akan terus hidup dalam kenangan dan kerinduan yang tak kunjung reda.

Puisi "Ada yang Menjerat" karya Iwan Fridolin merupakan refleksi tentang kerinduan, kenangan, dan cinta yang terus mempengaruhi kehidupan seseorang meskipun waktu terus berjalan. Dengan penggunaan imaji yang kuat dan majas yang mendalam, puisi ini berhasil membawa pembaca ke dalam ruang yang penuh dengan perasaan yang melankolis dan berlapis. Melalui karya ini, Fridolin berhasil mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana cinta, meskipun sudah berlalu, tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan hidup.

Iwan Fridolin
Puisi: Ada yang Menjerat
Karya: Iwan Fridolin

Biodata Iwan Fridolin:
  • Iwan Fridolin lahir 18 November 1946 di Jakarta, namun dibesarkan di Telukbetung (Lampung).
© Sepenuhnya. All rights reserved.