Puisi: Menerpa Lensa Kamera (Karya Pudwianto Arisanto)

Puisi "Menerpa Lensa Kamera" karya Pudwianto Arisanto bercerita tentang realitas kehidupan yang penuh dengan kekotoran, baik secara fisik maupun ...
Menerpa Lensa Kamera

iring-iringan mobil menyemut sejajar kali mas yang kusam
belepotan kaleng rombeng, sampah, comberan pabrik, kondom
kotoran warga; menerpa lensa kamera, dibungkus obsesiku
dalam buka-bukaan diagram jasmani terasa mreteli, sungguh
aku juga bermain dengan aktor akhis politikus blingsatan

kiprah adegan di panggung menawan, secara bebas terekspresi
bagai denting liar menjarah manisku, dalam map lain pula
semua gerak intim siasat, hati yang ngedumel: sujud berat
intropeksi melanjutkan propaganda, di seberang kali itu :
kuhisap udara pucat, bau kentut, air mani, anyir darah

endapan birahi terlunta-lunta, kuracik di pantai kenjeran:
yang keluar bait-bait cinta mengandung perawat, aku grogi
gelisah menunggu memo juru masak dari paranormal, dan bejo:
sebut demikian, karena lesehan blak-blakan mengurangi kutang

Surabaya, 28/6/1990

Analisis Puisi:

Puisi "Menerpa Lensa Kamera" karya Pudwianto Arisanto merupakan sebuah karya yang mencerminkan kecemasan sosial dan kritik terhadap realitas kehidupan yang penuh dengan ketidaksempurnaan. Melalui lensa kamera sebagai metafora, puisi ini mengungkapkan kegetiran kehidupan dengan berbagai lapisan makna yang mendalam.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kritik sosial terhadap kehidupan yang kacau, kotor, dan penuh kepalsuan, serta refleksi tentang eksistensi manusia di tengah realitas yang keras dan penuh kontras. Melalui gambaran-gambaran tajam dan tanpa penapisan, penyair mengajak pembaca untuk melihat dunia yang sering disembunyikan oleh lapisan kemewahan dan kebohongan.

Puisi ini bercerita tentang realitas kehidupan yang penuh dengan kekotoran, baik secara fisik maupun moral. Di dalam puisi, penyair mengamati keadaan sekelilingnya—mulai dari sampah di jalanan hingga ketidakmurnian dalam dunia politik—dan menangkapnya dengan lensa kamera. Lensa ini bukan hanya sebuah alat, tetapi juga simbol dari obsesi untuk menangkap dan mengungkapkan kebenaran yang tersembunyi. Ada juga pencarian identitas pribadi dan refleksi atas hubungan dengan diri sendiri dan orang lain dalam dunia yang penuh kontradiksi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menyiratkan bahwa realitas sering kali tak seindah yang terlihat. Meski dunia dipenuhi dengan kecantikan dan ilusi—seperti adegan panggung dan kehidupan yang tampak "menawan"—kenyataannya adalah sebuah kebohongan yang terbungkus dalam ketidakmurnian. Penyair juga mengungkapkan kekecewaan dan perasaan lelah terhadap sistem sosial dan politik yang penuh dengan ketidakadilan. Ada rasa kebingungan eksistensial tentang bagaimana manusia harus berhadapan dengan dunia yang penuh dengan kepalsuan dan kegelapan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung suram dan penuh dengan ketegangan. Suasana kekacauan dan keputusasaan terasa kuat dalam setiap baitnya. Penggambaran tentang sampah, kotoran, dan bau tak sedap menciptakan suasana yang kotor, sementara perasaan kebingungan dan kekosongan yang dialami sang penyair memunculkan nuansa gelisah dan tak menentu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan oleh puisi ini adalah bahwa kehidupan tidak selalu seperti yang tampak di permukaan. Kadang-kadang, realitas yang kita lihat melalui lensa kamera atau media adalah ilusi yang disembunyikan oleh kepalsuan. Penyair mengajak kita untuk tidak terperangkap oleh ilusi tersebut dan lebih mengenal dunia yang sebenarnya, meski seringkali kotor dan penuh dengan ketidaksempurnaan. Terkadang, kita perlu berhenti sejenak untuk merenung, melihat lebih dalam, dan mengenali apa yang sebenarnya terjadi.

Imaji

Puisi ini sangat kaya akan imaji yang kuat dan berani, yang menggambarkan dunia dengan cara yang sangat gamblang dan langsung. Berikut beberapa contoh imaji yang terlihat dalam puisi:
  • "belepotan kaleng rombeng, sampah, comberan pabrik, kondom / kotoran warga": gambaran visual yang sangat kuat tentang kondisi kotor dan terlupakan dari masyarakat, penuh dengan sampah dan kotoran.
  • "bau kentut, air mani, anyir darah": imaji yang sangat tajam dan menggugah indera pembaca, menggambarkan ketidakbersihan dan kekasaran dunia yang dihadapi penyair.
  • "endapan birahi terlunta-lunta, kuracik di pantai kenjeran": menggambarkan perasaan yang terombang-ambing dan kesedihan yang melanda, menciptakan gambaran kesepian dan kebingungan.

Majas

Puisi ini menggunakan berbagai majas untuk memberikan kedalaman makna:
  • Metafora: Seperti dalam "lensa kamera, dibungkus obsesiku", di mana kamera berfungsi sebagai simbol untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda dan lebih dalam.
  • Hiperbola: Dalam penggambaran tentang "kiprah adegan di panggung menawan", di mana kehidupan disajikan sebagai pertunjukan yang penuh ilusi.
  • Simbolisme: Seperti pada "birahi terlunta-lunta", yang tidak hanya mengacu pada hasrat fisik, tetapi juga pada kegelisahan emosional dan psikologis yang lebih dalam.
Puisi "Menerpa Lensa Kamera" karya Pudwianto Arisanto adalah sebuah karya yang penuh dengan kritik sosial, kontemplasi eksistensial, dan pencarian makna di dunia yang penuh kontradiksi. Dengan menggunakan bahasa yang sangat ekspresif dan simbolis, penyair mengajak pembaca untuk menggugah kesadaran akan dunia yang lebih gelap dan sering kali disembunyikan oleh lapisan-lapisan kebohongan dan kepalsuan. Sebuah puisi yang menantang pembaca untuk merenung lebih dalam tentang keadaan dunia dan tempat kita di dalamnya.

Puisi: Menerpa Lensa Kamera
Puisi: Menerpa Lensa Kamera
Karya: Pudwianto Arisanto

Biodata Pudwianto Arisanto:
  • Pudwianto Arisanto adalah penyair kelahiran Pasuruan.
  • Pudwianto Arisanto lahir pada tanggal 25 Juni 1955.
© Sepenuhnya. All rights reserved.