Puisi: Sajak Matahari (Karya W.S. Rendra)

Puisi “Sajak Matahari” karya W.S. Rendra bercerita tentang hubungan antara alam, manusia, dan ketidakadilan sosial. Penyair sebagai pengamat ...
Sajak Matahari

Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari keluar dari mulutku,
menjadi pelangi di cakrawala.

Wajahmu keluar dari jidatku,
wahai kamu, wanita miskin!
Kakimu terbenam di dalam lumpur.
Kamu harapkan beras seperempat gantang,
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!

Satu juta lelaki gundul!
keluar dari hutan belantara,
tubuh mereka terbalut lumpur
dan kepala mereka berkilatan
memantulkan cahaya matahari.
Mata mereka menyala
tubuh mereka menjadi bara
dan mereka membakar dunia.

Matahari adalah cakra jingga
yang dilepas tangan Sang Krishna.
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
ya, umat manusia!

Yogya, 5 Maret 1976

Sumber: Potret Pembangunan dalam Puisi (1993)

Analisis Puisi:

Puisi “Sajak Matahari” karya W.S. Rendra adalah karya yang kuat secara simbolik, menyuarakan ketegangan antara kemiskinan, ketidakadilan, dan potensi perlawanan manusia. Dengan metafora matahari, pelangi, dan tubuh manusia, Rendra menghadirkan realitas sosial sekaligus refleksi spiritual dan simbolis tentang kekuatan, kemarahan, dan harapan umat manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakadilan sosial, kemiskinan, dan perlawanan manusia terhadap penindasan. Selain itu, puisi ini juga menyinggung tema kekuatan alam (matahari) yang bersifat ganda: sebagai rahmat sekaligus kutukan bagi umat manusia.

Puisi ini bercerita tentang hubungan antara alam, manusia, dan ketidakadilan sosial. Penyair sebagai pengamat sekaligus perantara menghadirkan matahari dari dirinya sendiri, menyoroti penderitaan seorang wanita miskin yang kakinya terbenam di lumpur dan berharap beras seperempat gantang sementara tanahnya dikuasai tuan tanah. Dari sini, muncul gambaran massa manusia—“satu juta lelaki gundul”—yang bangkit dari kesengsaraan mereka, siap membakar dunia sebagai simbol potensi perlawanan.

Makna tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah peringatan tentang ketidakadilan sosial dan ketegangan antara penindasan serta pemberdayaan manusia. Matahari sebagai simbol cahaya, energi, dan kekuatan, melambangkan dualitas: ia bisa memberi rahmat tetapi juga menjadi alat kutukan bila disalahgunakan. Puisi ini menyiratkan bahwa penderitaan sosial bisa memunculkan potensi perlawanan kolektif yang dahsyat.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa tegang, dramatis, sekaligus penuh energi. Pembaca merasakan kontras antara keindahan alam (matahari, pelangi) dan realitas keras yang dihadapi manusia (lumpur, ketidakadilan, massa yang bangkit). Suasana ini menciptakan kesan revolusioner sekaligus reflektif, mengundang pembaca merenungkan kondisi sosial dan kemanusiaan.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah pentingnya menyadari ketidakadilan sosial dan kekuatan kolektif manusia untuk menegakkan keadilan. Rendra mengingatkan bahwa alam, simbol kekuatan, bisa menjadi rahmat maupun kutukan, tergantung bagaimana manusia menghadapinya. Puisi ini juga menegaskan kesadaran sosial sebagai tanggung jawab moral.

Imaji

Puisi ini kaya imaji visual dan simbolik: matahari yang bangkit dari sanubari, pelangi di cakrawala, kaki wanita miskin yang terbenam lumpur, kepala manusia yang berkilatan memantulkan cahaya matahari, dan massa manusia yang “menjadi bara”. Imaji-imaji ini memperkuat pesan sosial dan simbolisme kekuatan, penderitaan, dan potensi perlawanan.

Majas

Puisi ini banyak menggunakan majas metafora, simbolisme, dan hiperbola. Matahari menjadi simbol kekuatan alam dan spiritual, sementara massa manusia digambarkan secara hiperbolik—“satu juta lelaki gundul… tubuh mereka menjadi bara”—untuk menekankan potensi energi kolektif dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Penggunaan citra alam dan tubuh manusia memperkuat kontras antara keindahan dan penderitaan.

Puisi “Sajak Matahari” adalah puisi yang sarat simbolisme sosial dan spiritual. W.S. Rendra berhasil memadukan pengalaman batin, realitas sosial, dan energi revolusioner, menciptakan karya yang kuat untuk merenungkan ketidakadilan, kekuatan alam, dan peran manusia dalam menghadapi kesenjangan dan penderitaan di dunia.
Puisi W.S. Rendra
Puisi: Sajak Matahari
Karya: W.S. Rendra

Biodata W.S. Rendra:
  • W.S. Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta (Solo), Jawa Tengah.
  • W.S. Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 (pada usia 73 tahun) di Depok, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.