Ada Capung, Katak dan Ular di Tepi Kolam
ada capung
sendirian
di tepi kolam
ada katak
sendirian
di tepi kolam
ada ular
sendirian
di tepi kolam
katak melompat
menerkam capung
ular menjalar
mengejar katak
capung terbang
katak tenggelam
ular di tepi kolam
tiba-tiba ular menatapku
tajam dan mendesis
aku pun cepat berlalu
hujan turun gerimis
Sumber: Horison (Desember, 1976)
Analisis Puisi:
Puisi “Ada Capung, Katak dan Ular di Tepi Kolam” karya Edijushanan tampil dengan struktur sederhana, berbahasa lugas, dan hanya terdiri dari beberapa larik pendek. Namun justru dari kesederhanaan itulah puisi ini mendapatkan kekuatannya—menciptakan kisah mini yang menyimpan makna kompleks tentang relasi kuasa, siklus predator-mangsa, dan pengamatan sosial. Dalam lanskap tepi kolam yang tampak damai, sesungguhnya sedang berlangsung drama kehidupan yang kejam dan tak terelakkan.
Tema
Tema utama dari puisi ini adalah rantai kehidupan dan siklus kekuasaan. Melalui relasi antara capung, katak, dan ular, penyair mengilustrasikan bagaimana dalam kehidupan, setiap makhluk berada dalam posisi rentan terhadap yang lebih kuat, dan kekuasaan berpindah tangan dalam siklus yang berulang. Ada pula tema ketakutan manusia terhadap alam liar, serta kecenderungan manusia untuk menjauh dari konflik yang tak mereka pahami atau kuasai.
Puisi ini bercerita tentang interaksi tiga hewan di tepi kolam—capung, katak, dan ular—dalam sebuah rantai saling memangsa. Capung sendirian, kemudian katak datang dan menerkamnya. Tapi katak justru dikejar ular. Pada akhirnya, capung berhasil melarikan diri, katak tenggelam, dan ular tetap di sana, lalu menatap penyair. Sang penyair, sebagai pengamat, merasa terancam dan segera berlalu, ditutup dengan hujan gerimis yang turun seolah mengiringi suasana batin.
Makna Tersirat
Di balik kisah hewan ini, puisi menyimpan makna tersirat sebagai alegori kehidupan manusia. Capung bisa melambangkan pihak yang lemah atau tak berdaya. Katak adalah figur yang merasa lebih kuat lalu mengambil tindakan agresif, namun kemudian menjadi mangsa yang lebih besar—ular. Dan pada akhirnya, ular memandang manusia, menyiratkan bahwa dalam sistem rantai kekuasaan, tidak ada posisi yang benar-benar aman. Bahkan pengamat (manusia) yang tak ikut campur, bisa sewaktu-waktu menjadi target. Hidup adalah medan saling mengintai dan memangsa, dan setiap tindakan punya konsekuensi.
Lebih luas, ini bisa dibaca sebagai kritik sosial atau politik terhadap siklus kekuasaan yang kejam: si kecil dimangsa si sedang, lalu si sedang diburu si besar, dan akhirnya semua pihak hidup dalam kecurigaan dan ketakutan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini tenang namun penuh ketegangan. Di permukaan, kolam terlihat damai. Hanya ada capung, katak, dan ular. Tapi dalam hitungan detik, terjadi perburuan, kekerasan, kematian, dan ketakutan. Puncaknya adalah ketika ular menatap penyair dan mendesis—tiba-tiba, dunia alam berubah menjadi dunia ancaman langsung bagi manusia. Hujan gerimis yang turun di akhir menambah nuansa sendu dan menciptakan efek kontemplatif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang disampaikan oleh puisi ini sangat reflektif:
- Dalam kehidupan, kekuasaan berpindah, dan setiap makhluk punya peran sebagai mangsa maupun pemangsa.
- Kita tidak bisa menganggap diri aman hanya karena berperan sebagai pengamat. Bahkan diam pun bisa menjadi sasaran.
- Kehidupan adalah ekosistem kekuasaan, dan hanya dengan menyadari posisi serta resikonya, kita bisa bertahan atau memilih untuk menjauh.
- Kadang, dalam sistem yang kejam dan tak rasional, jalan terbaik adalah mundur dan membiarkan alam melanjutkan siklusnya.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual yang kuat meskipun sederhana:
- “Ada capung / sendirian / di tepi kolam” — menampilkan ketenangan awal, gambaran kecil dari kehidupan yang damai tapi rapuh.
- “Katak melompat / menerkam capung” — menghadirkan aksi yang cepat dan dramatis, visual predator yang tiba-tiba datang.
- “Ular menjalar / mengejar katak” — pergeseran ancaman, memperlihatkan bahwa dalam alam, kekuasaan tidak mutlak.
- “Tiba-tiba ular menatapku / tajam dan mendesis” — menciptakan ketegangan dan ketakutan, mengaburkan batas antara alam dan manusia.
- “Hujan turun gerimis” — imaji akhir yang lembut, namun menyiratkan perasaan tidak nyaman atau kelegaan setelah ketegangan.
Majas
Beberapa majas penting yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “ular menatapku / tajam dan mendesis” — memberikan sifat manusiawi kepada ular (menatap tajam), sehingga menimbulkan kesan bahwa ular sadar akan kehadiran penyair dan mungkin mengancam.
- Repetisi: “ada… / sendirian / di tepi kolam” diulang tiga kali, menciptakan ritme dan membangun ketenangan sebelum konflik dimulai.
- Metafora tersirat: Seluruh puisi bisa dibaca sebagai metafora sosial-politik atau alegori tentang kekuasaan, konflik, dan hierarki dalam masyarakat.
- Ironi: Di awal, semua tampak sendiri dan tenang. Namun justru dari kesendirian itulah lahir konflik dan saling memangsa.
Puisi “Ada Capung, Katak dan Ular di Tepi Kolam” karya Edijushanan adalah contoh bagaimana puisi pendek bisa menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Lewat narasi kecil tentang tiga makhluk di tepi kolam, penyair menyampaikan kritik halus terhadap kehidupan yang dipenuhi ketimpangan kuasa, siklus kekerasan, dan kerapuhan posisi manusia di tengah sistem alam maupun sosial.
Ini bukan hanya kisah binatang, tapi cermin dari sistem sosial kita sendiri—di mana yang lemah dikejar yang kuat, yang kuat pun tak kebal dari ancaman yang lebih besar, dan pada akhirnya, bahkan pengamat yang diam pun harus waspada.
Karya: Edijushanan
Biodata Edijushanan:
- Edijushanan (ejaan yang disempurnakan Ediyushanan) lahir di Karang Tengah, Cirebon, Jawa Barat, pada tanggal 6 Agustus 1940.
