Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Adegan (Karya Goenawan Mohamad)

Puisi “Adegan” karya Goenawan Mohamad bercerita tentang sebuah adegan dalam film Jerman, yang menggambarkan seorang perempuan dalam kondisi penuh ...
Adegan

Kuingat bedeng beratap hitam
Kuingat bedeng beratap hitam di sebuah film Jerman:
Seorang perempuan tertinggal dalam gerbong

dengan lima patah kata dan lima luka bibir. Pada
close-up tampak ada darah seperti koma yang tertera

di alinea terakhir sebelum burung bangun sebelum
lambat laun jam menaburkan gentar

seperti tempias hujan dari pinus di halaman. Di
saat itu, mungkin kau tahu, doa fade out, jadi salju.

2004

Analisis Puisi:

Puisi “Adegan” karya Goenawan Mohamad merupakan fragmen puitik yang kaya makna, menawarkan sebuah lanskap emosional dan refleksi historis dalam bentuk yang singkat namun intens. Disusun seperti potongan gambar dalam sebuah film, puisi ini mengajak pembaca menyelami makna terdalam dari kenangan, kekerasan, dan kepedihan yang membeku dalam satu momen sinematik. Goenawan, seperti biasa, tak menawarkan jawaban gamblang, namun mengundang kita untuk menafsirkan.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah ingatan kolektif terhadap kekerasan dan trauma manusia, khususnya dalam konteks sejarah yang mengandung kekejaman atau perang. Dengan menyebut “film Jerman”, Goenawan menyentuh konteks sejarah Eropa—kemungkinan Holocaust atau trauma Perang Dunia II—sebagai latar simbolik.

Namun, lebih dari sekadar peristiwa historis, puisi ini juga berbicara tentang luka personal dan keheningan setelah derita, serta bagaimana manusia mengarsipkan penderitaan melalui seni dan narasi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini sangat mendalam. Sosok perempuan yang “tertinggal dalam gerbong” dengan “lima patah kata dan lima luka bibir” tampak seperti simbol dari korban kekerasan atau penindasan. Darah yang tampak seperti koma menunjukkan bahwa penderitaan itu bukanlah akhir, melainkan jeda yang berlanjut—sebuah kesunyian yang belum selesai.

Selain itu, baris-baris penutup yang menyebutkan "doa fade out, jadi salju" memperkuat kesan bahwa spiritualitas, harapan, atau doa kadang berakhir dalam dingin dan diam, membeku seperti salju. Ini bukan kehilangan iman, melainkan penyingkapan betapa rapuh dan sunyinya bentuk harapan di tengah penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah adegan dalam film Jerman, yang menggambarkan seorang perempuan dalam kondisi penuh luka dan trauma. Namun, yang sesungguhnya dituturkan bukan hanya adegan itu, melainkan pengalaman emosional dan psikis sang penyair saat mengenang adegan tersebut, lengkap dengan simbolisme yang menggambarkan luka sejarah dan penderitaan manusia.

Adegan tersebut tampaknya merupakan metafora dari fragmen sejarah yang terus menghantui kesadaran kita—kekerasan yang dilupakan atau hanya dikenang secara visual, namun tidak pernah sepenuhnya disembuhkan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini sangat melankolis, murung, dan penuh ketegangan tersembunyi. Nuansa kesedihan dipadukan dengan ketidakpastian dan kehampaan. Momen “close-up” memperlihatkan trauma secara sangat intim, dan kemudian diselimuti oleh hujan dari pinus dan salju di akhir, yang menambah kesan dingin, jauh, dan sunyi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan dalam puisi ini tidak disampaikan secara normatif, namun bisa ditafsirkan sebagai ajakan untuk merenungkan kembali kekerasan yang membekas dalam sejarah dan jiwa manusia. Puisi ini juga menggambarkan bagaimana seni, seperti film atau puisi, menjadi medium untuk menyimpan luka dan kenangan.

Goenawan juga tampaknya ingin mengingatkan bahwa di balik setiap fragmen sejarah, ada manusia yang terluka, ada bibir yang membiru, dan ada doa yang membeku. Jangan sampai kita melupakan sisi manusiawi dari tragedi.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji yang kuat dan sinematik. Beberapa imaji penting antara lain:
  • “bedeng beratap hitam”: Menghadirkan kesan muram, seolah reruntuhan atau tempat penampungan.
  • “perempuan tertinggal dalam gerbong”: Menciptakan imaji kesendirian, ketertinggalan, dan trauma.
  • “darah seperti koma”: Imaji yang sangat tajam dan ambigu. Darah sebagai bekas luka, koma sebagai tanda jeda. Menggambarkan penderitaan yang menggantung.
  • “tempias hujan dari pinus” dan “salju”: Imaji alam yang menggambarkan kehampaan, pendinginan emosi, atau pembekuan spiritual.
Seluruh imaji dalam puisi ini menciptakan kesan visual yang seperti adegan film, memperkuat judul “Adegan” dan membingkai puisi dalam estetika sinematik.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “darah seperti koma” adalah metafora visual yang sangat kuat, menghubungkan luka fisik dengan struktur narasi.
  • Simbolisme: “salju” dan “doa fade out” menyimbolkan kefanaan, keheningan spiritual, atau bahkan hilangnya harapan.
  • Personifikasi: Jam “menaburkan gentar” memberi kehidupan pada waktu, menjadikannya entitas yang memicu rasa takut.
  • Repetisi dan ritme liris: Dengan pengulangan “Kuingat bedeng beratap hitam”, puisi menciptakan nuansa seperti sebuah mantra atau pengantar ingatan.
Puisi “Adegan” karya Goenawan Mohamad merupakan puisi yang padat, simbolik, dan menggugah. Melalui narasi yang dibingkai dalam bentuk adegan film, penyair menghadirkan permenungan mendalam tentang luka, sejarah, dan ingatan manusia. Tema kekerasan dan trauma sejarah menjadi tulang punggung puisi ini, dengan makna tersirat yang menyentuh spiritualitas dan kefanaan. Imaji sinematik, suasana muram, dan penggunaan majas metaforis dan simbolik membuat puisi ini menjadi salah satu contoh penting dari karya sastra kontemporer Indonesia yang sarat makna.

Dengan membaca puisi ini, kita diajak untuk tidak hanya menjadi penonton pasif dari tragedi sejarah, tetapi turut merasakannya dalam keheningan yang paling pribadi.

Puisi Goenawan Mohamad
Puisi: Adegan
Karya: Goenawan Mohamad

Biodata Goenawan Mohamad:
  • Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
  • Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.