Puisi: Aku Ini Siapa (Karya Arih Numboro)

Puisi “Aku Ini Siapa” karya Arih Numboro bercerita tentang seorang anak yang sangat bangga dengan prestasi akademiknya. Ia unggul dalam berbagai ...

Aku Ini Siapa


Aku ini siapa?
Setiap pagi ke luar rumah
Wajah tegak jalan gagah
Berseragam mewah ke sekolah

Aku bangga dengan aku
Aku bangga dengan otakku
Setiap ulangan akulah nomor satu

Mata pelajaran Matematika?
Mudah
Mata pelajaran IPA?
Bukan masalah
Mata pelajaran Bahasa Indonesia?
Mudah
Mata pelajaran Bahasa Inggris?
Tidak susah

Aku bangga dengan aku
Selalu disayang guru
Karena prestasiku
Mengharumkan nama sekolahku

Terhadap diriku aku slalu bangga
Teman-teman slalu riang gembira
Aku ke sekolah membawa piala
Olimpiade sains dapat juara

Aku ini siapa?
Pertanyaan itu menghentak
Menyeruak dada jadi sesak
Saat terdengar suara galak


"Kowe pancen pinter
Nanging keblinger"
"Kowe bener
Nanging ora pener"

Oh
Aku ini siapa?
Aku ini siapa?
Yang tidak mangenal Panglima Polim dan Gajah Mada
Yang tidak paham tatakrama dan subasita
Yang tidak tahu pantai Senggigi dan danau Toba

Aku ini siapa?
Sering ke manca negara
Namun tidak pernah berkunjung ke tetangga

Aku ini siapa?
Bangga dengan tajamnya intelegensi
Namun tak bisa menikmati sebuah pun tembang negeri

Aku ini siapa?
Siapa?
Oh, ternyata
Aku bukan siapa-siapa

Sumber: Surat dari Samudra (Balai Bahasa Jawa Tengah, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi anak tidak melulu harus ringan dan penuh tawa. Beberapa di antaranya justru menyajikan kedalaman emosi dan renungan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah puisi “Aku Ini Siapa” karya Arih Numboro. Melalui narasi seorang anak yang berprestasi, puisi ini menyelipkan kritik dan refleksi mendalam tentang makna identitas dan nilai hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi identitas dan kritik terhadap kebanggaan semu. Di balik pencapaian akademik yang cemerlang, tokoh dalam puisi ini mempertanyakan makna sejati dari keberhasilan. Apakah hanya nilai dan prestasi yang menjadikan seseorang berharga? Puisi ini menyoroti jurang antara kecerdasan intelektual dan pemahaman akan jati diri, budaya, serta nilai-nilai sosial.

Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sangat bangga dengan prestasi akademiknya. Ia unggul dalam berbagai mata pelajaran, selalu disayang guru, dan sering memenangkan olimpiade. Semua ini membuatnya merasa istimewa. Namun, rasa percaya dirinya mulai goyah ketika seseorang menegurnya dengan kata-kata dalam bahasa Jawa:

"Kowe pancen pinter, nanging keblinger"
"Kowe bener, nanging ora pener"

Teguran itu menyadarkannya bahwa meskipun pintar, ia telah kehilangan arah. Ia tidak tahu siapa Panglima Polim atau Gajah Mada, tidak memahami tatakrama, tidak pernah mengunjungi tempat-tempat bersejarah di negeri sendiri, dan tidak kenal budaya lokal seperti tembang.

Dari situ muncul pertanyaan eksistensial: “Aku ini siapa?”—sebuah renungan yang menyadarkan bahwa keberhasilan tanpa akar budaya dan kearifan lokal adalah kehampaan.

Makna Tersirat

Puisi ini sarat makna tersirat yang menyentuh lapisan-lapisan terdalam kehidupan:
  • Pendidikan tidak cukup hanya mencerdaskan otak, tetapi juga harus menanamkan nilai, moral, dan budaya.
  • Kebanggaan atas prestasi bisa menjadi semu jika tidak diimbangi dengan pengenalan jati diri.
  • Anak-anak, sekalipun pintar, perlu diajak mengenal sejarah, kearifan lokal, dan nilai-nilai kemanusiaan.
  • Refleksi diri adalah langkah awal untuk tumbuh menjadi manusia utuh.
Pertanyaan berulang “Aku ini siapa?” menggarisbawahi krisis identitas yang kerap dialami oleh generasi muda modern—cerdas secara akademik, tapi kosong secara spiritual dan kultural.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini berubah secara dinamis. Di awal, suasananya optimistis, penuh kebanggaan dan semangat. Namun memasuki pertengahan hingga akhir puisi, suasana berubah drastis menjadi melankolis, kontemplatif, bahkan menyesakkan, seperti yang tergambar dalam bait:


"Pertanyaan itu menghentak
Menyeruak dada jadi sesak"

Perubahan suasana ini sangat efektif dalam membawa pembaca dari euforia semu ke ruang refleksi yang sunyi dan dalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan moral yang kuat:
  • Bangga akan prestasi itu baik, tetapi lebih penting untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya.
  • Kecerdasan tanpa akar budaya dan nilai kemanusiaan adalah kebutaan.
  • Jangan sampai kita menjadi asing di negeri sendiri—terlalu sibuk melihat ke luar hingga lupa menoleh ke dalam.
  • Anak-anak harus diajak mencintai bangsa, mengenal tokoh, tempat, bahasa, dan warisan leluhur.
Puisi ini sekaligus menjadi kritik halus terhadap sistem pendidikan yang lebih menekankan angka daripada karakter.

Imaji

Puisi ini menyajikan imaji visual dan emosional yang kuat:
  • Imaji visual kebanggaan: “Wajah tegak jalan gagah”, “Berseragam mewah ke sekolah”, “membawa piala”.
  • Imaji kognitif dan pencapaian: “Mata pelajaran Matematika? Mudah”, “IPA? Bukan masalah”.
  • Imaji kesadaran dan kekosongan: “Menyeruak dada jadi sesak”, “Tidak tahu pantai Senggigi dan danau Toba”, “tak bisa menikmati tembang negeri”.
Semua imaji ini membantu membangun narasi yang bergerak dari kebanggaan lahiriah menuju krisis batin.

Majas

Puisi ini menggunakan berbagai majas secara efektif:
  • Repetisi (pengulangan): “Aku ini siapa?” diulang beberapa kali untuk menegaskan perasaan bingung dan kehilangan jati diri.
  • Paradoks: “Kowe pancen pinter nanging keblinger”—menyandingkan dua kondisi kontradiktif untuk mengkritik kepintaran yang kehilangan arah.
  • Ironi: “Sering ke manca negara / Namun tidak pernah berkunjung ke tetangga”—menyindir kehidupan modern yang megah tetapi melupakan hal-hal dekat dan sederhana.
  • Antitesis: “Bangga dengan tajamnya intelegensi / Namun tak bisa menikmati sebuah pun tembang negeri”—membandingkan kemampuan intelektual dengan kepekaan budaya yang hilang.
Majas-majas ini memperkuat ketegangan batin yang dialami tokoh dalam puisi.

Puisi “Aku Ini Siapa” karya Arih Numboro adalah salah satu contoh puisi anak yang melampaui batas hiburan. Dengan tema identitas dan refleksi diri, puisi ini bercerita tentang kebanggaan seorang anak terhadap prestasinya, namun berujung pada kesadaran bahwa ia telah kehilangan jati diri. Makna tersirat yang kuat, suasana yang berubah dari semangat ke perenungan, serta penggunaan imaji dan majas yang efektif menjadikan puisi ini kaya makna dan layak direnungkan bersama—baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Melalui pertanyaan “Aku ini siapa?”, puisi ini mengajak kita semua untuk merenung: Apakah kita telah mengenal siapa diri kita sebenarnya? Jangan sampai kita menjadi generasi yang pintar, tapi lupa asal-usul, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsanya sendiri.

Arih Numboro
Puisi: Aku Ini Siapa
Karya: Arih Numboro

Biodata Arih Numboro:
  • Arih Numboro lahir di sebuah dusun kecil bernama Taman Kulon, Desa Wiroko, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.