Atau
atau gemuruh melayap malam
atau ingin menyampai atau diam atau
atau pisau atau nerkam atau mau diam atau
atau tanah atau resah atau pinggir atau
atau batu terbang atau lampu kusam atau siapa sayang atau
atau pisau rimau
atau kicau ngiau
atau nyata nyanyi atau denyut bilang atau
atau sah atau tapi ataukah atau
atau tak atau
atau tak atau atau
atau tau
atau
1976
Sumber: Horison (Januari, 1978)
Analisis Puisi:
Sutardji Calzoum Bachri, dikenal sebagai penyair yang mengobrak-abrik tatanan puisi konvensional dengan pendekatan eksperimental dan eksploratif terhadap kata. Dalam puisi berjudul "Atau", ia menyuguhkan sebuah dunia yang kacau, absurd, dan fragmentatif—namun justru melalui kekacauan itulah, makna yang dalam dan reflektif dapat diraba.
Puisi ini bercerita tentang kekacauan batin, pertarungan pikiran, dan kebingungan eksistensial manusia dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup. Kata “atau” yang terus diulang seperti menyuarakan suara batin yang bimbang, penuh keraguan, atau bahkan mengalami tekanan untuk memilih antara satu hal dengan lainnya, namun pada akhirnya terperangkap dalam lingkaran tak berujung.
Puisi ini tak menghadirkan narasi linear seperti puisi-puisi liris konvensional. Alih-alih, ia menyuguhkan potongan-potongan citraan dan suara yang membentuk kolase kebingungan dan ketegangan.
Tema
Tema utama dari puisi ini adalah kebingungan eksistensial dan absurditas pilihan dalam kehidupan manusia. Kata “atau” yang mendominasi puisi menyiratkan kondisi batin yang gamang, penuh tekanan, dan kehilangan arah. Tema ini mencerminkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam keraguan antara satu keputusan dengan keputusan lainnya, dan sering kali pula tidak pernah sampai pada kepastian.
Tema tambahan yang bisa dibaca adalah kerusakan makna dalam bahasa, di mana kata-kata menjadi seperti pecahan kaca: tajam, terputus-putus, dan tak mudah dirangkai kembali secara utuh. Ini merupakan gaya khas Sutardji dalam memaknai kembali peran bahasa dalam puisi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini sangat kompleks. Di balik pengulangan dan permainan kata “atau”, tersimpan pesan tentang keterpecahan identitas, kegagalan komunikasi, dan ketidakmampuan manusia memahami dunianya secara utuh. Pilihan-pilihan dalam hidup tampak seperti tak bermakna jika semuanya tampak absurd atau tak membawa kepastian.
Ada juga kesan bahwa sang aku liris (jika ada) sedang mengalami disorientasi psikologis—mungkin akibat trauma, tekanan sosial, atau krisis makna. Kata-kata seperti “pisau rimau”, “kicau ngiau”, “batu terbang”, dan “denyut bilang” menghadirkan semacam kekacauan imaji yang menggambarkan konflik internal yang meluap tanpa bentuk jelas.
Puisi ini juga bisa dibaca sebagai bentuk kritik terhadap kebiasaan berpikir manusia modern yang selalu terjebak dalam dikotomi: ya atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah—sementara hidup lebih rumit dari itu.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa tegang, gelisah, dan absurd. Repetisi kata “atau” yang sangat dominan menimbulkan efek tekanan psikologis, seolah pembaca ditarik dalam pusaran pertanyaan tanpa jawaban. Suasana ini mencerminkan keadaan batin manusia yang bimbang, kalut, dan terperangkap dalam dilema tanpa kejelasan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dari puisi ini tidak disampaikan secara eksplisit, namun bisa ditangkap secara reflektif. Di antaranya: bahwa tidak semua hal dalam hidup memiliki jawaban pasti, dan bahwa keraguan serta kekacauan adalah bagian dari eksistensi manusia. Sutardji seakan mengajak pembaca untuk merenungkan kompleksitas realitas, dan bagaimana bahasa—yang selama ini dianggap alat komunikasi—bisa menjadi ruang untuk berkelana dalam absurditas dan ekspresi batin yang paling mentah.
Pesan lainnya: dalam dunia yang penuh pilihan, terkadang tak ada satu pun yang benar-benar menenangkan.
Imaji
Puisi ini memunculkan berbagai imaji yang fragmentatif, surealis, dan bahkan psikedelik. Beberapa contohnya:
- “pisau rimau” → menghadirkan imaji kekerasan dan buas, seperti ancaman yang tersembunyi.
- “kicau ngiau” → bunyi-bunyian yang kontradiktif, seperti burung dan kucing bersahutan, menggambarkan kekacauan suara dalam kepala.
- “batu terbang” → imaji yang mustahil secara logika, menunjukkan dunia yang telah terganggu keseimbangannya.
- “lampu kusam” → menciptakan kesan suram, putus asa, dan kehilangan cahaya (harapan).
- “denyut bilang” → membentuk imaji ritme kehidupan yang mencoba bicara, namun terbata atau bahkan tak dimengerti.
Imaji-imaji ini tidak membentuk satu kesatuan naratif, tetapi lebih menciptakan atmosfer dan membiarkan pembaca mengalami langsung sensasi puisi secara emosional.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini adalah:
- Repetisi: Kata “atau” diulang nyaris di setiap baris. Ini menciptakan efek tekanan, menegaskan keraguan atau kondisi batin yang tak stabil.
- Metafora: “Pisau rimau” dan “denyut bilang” adalah bentuk metafora yang menghadirkan konsep-konsep abstrak melalui gabungan kata-kata konkret yang tidak biasa.
- Personifikasi: “denyut bilang” adalah contoh personifikasi, di mana denyut digambarkan memiliki kemampuan bicara.
- Paradoks: Banyak baris yang bertentangan secara makna atau logika, misalnya “batu terbang”—mewakili kenyataan yang terbalik dari ekspektasi, membentuk dunia yang paradoksal.
- Onomatope: “kicau ngiau” merupakan bunyi-bunyian alam yang ditulis untuk memperkuat efek suara dalam puisi.
Puisi "Atau" karya Sutardji Calzoum Bachri adalah salah satu contoh puncak dari puisi eksperimental Indonesia yang membongkar struktur bahasa dan makna secara radikal. Ia tidak memberikan jawaban, tidak memberi alur cerita yang utuh, tetapi justru menghadirkan sensasi batin dan pengalaman pembacaan yang mengganggu sekaligus menggugah.
Dengan tema pilihan yang absurd, makna tersirat tentang eksistensi dan bahasa, imaji liar yang mengejutkan, serta majas-majas retoris dan surealis, puisi ini mengajak kita menyelam dalam labirin pikiran manusia. Bahwa pada akhirnya, dalam hidup yang penuh keraguan dan ketidakpastian, kita semua sedang berhadapan dengan “atau” yang tak kunjung selesai.
Karya: Sutardji Calzoum Bachri
Biodata Sutardji Calzoum Bachri:
- Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada tanggal 24 Juni 1941.
- Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu pelopor penyair angkatan 1970-an.